Allah Sungguh Baik

0
69

Oleh: Wahibah

Selesai sudah saya menyimak video ke-3 berikut ulasan Ust Pedy dan insight teman- teman yang selalu terbasahi oleh semangat ruhiyah. Tiba- tiba ingatan saya melayang ke masa silam, sekitar tahun 2009.

Saat itu saya menjadi KS TKIT Taruna Teladan. Suatu saat, dalam perjalanan pulang kami berhenti di perempatan lampu merah. Dari arah Klaten muncul iring- iringan bus yang membawa rombangan jemaah haji menuju Embarkasi Donohudan. Tanpa saya sadari merinding bulu lengan saya, dan air mata menetes berulang- kali tanpa sengaja.

Dari balik helm saya mengucap lirih, “Ya Allah, aku pun ingin seperti mereka. Apakah hanya bagi mereka yang berharta, yang Kau undang menjadi tamu-Mu?”

Saya pun tertegun semakin dalam. Beberapa minggu terakhir saya sibuk mempersiapkan keberangkatan 150-an siswa kanak- kanak berikut asatiz dan wali murid untuk program manasik haji ke Donohudan. Berbaju putih-putih, berkalung kantongan biru berisi kerikil jumrah. Ke sana ke mari saya jinjing alat toa agar lafadz talbiyah berikut maknanya sampai ke telinga anak- anak. “Labbaik Allahumma labbaik, labbaik laa syariikalak.”

Lelah bercucuran keringat, tenggorokan tinggal menyisakan serak suara. Anak- anak mungkin belum sepenuhnya paham tentang semua ini. “Biarlah! Saya puas dan bahagia. Setidaknya telah menorehkan di hati mereka syiar Islam, mengagungkan Allah Swt, merindukan panggilan-Nya.”

Menerima tawaran sebagai KS TKİT sebenarnya tidak sesuai bidang kuliah saya. Tapi memang dari awal saya suka dengan dunia anak- anak. Pun agar selalu dekat dengan kelima anak-anak saya. Dua yang besar sudah duduk di SDIT. Anak ketiga, TK. Anak keempat, Play group dan yang terakhir belum sekolah.

Tiap pagi setelah membereskan dapur, mengurus si kecil, berempat kami naik motor berangkat ke sekolah.
***

Lalu, apa yang dikerjakan ayahnya? Suami saya seorang haamilud dakwah yang teguh. Beliau dari kecil basic-nya pondokan. Hanya kuliahnya saja yang ambil S1 Bahasa Inggris. Sesuai bidang ilmu, beliau kemudian menjadi guru tetap SMA swasta di Surabaya.

Tiba- tiba, tahun 2009 suami mendapat amanah dakwah untuk membuka tandzim pertama kali di Solo. Praktis, pekerjaan sebagai guru ditinggalkan dengan menyisakan tanda tanya besar dari kolega dan juga keluarga.

Mereka bertanya, “Mau dikasih makan apa, anak istrimu nanti?”
“Insya Allah, kami akan tercukupi,” jawabnya.

Kepindahan kami ke Solo berjalan lancar, sambil terus berharap cepat mendapat pekerjaan baru yang iramanya sejalan dengan dakwah.

Alhamdulillah, 2001, melalui iklan Harian Republik, suami diterima bekerja di pesantren Klaten yang dipimpin oleh Ustaz Jamil Azzaini, Founding Training KUBIK. Atas itu semua, rutinitas yang dilakoni suami pagi-pagi mengajar di pondok. Sore sampai malamnya ikut putaran dakwah bersama teman-teman.

Hari- hari kami tinggal di asrama pesantren. Sebuah ruangan hampir berbentuk persegi yang besarnya menyerupai RSS. Ada 2 kamar tidur, selebihnya ruang tamu yang di bagian tengah kami beri sekat bufet untuk melindungi perangkat yang ada di baliknya. Mesin cuci, dapur dan kamar mandi. Begitu malam tiba, kursi meja dipinggirkan untuk menggelar kasur lantai. Dua kamar untuk seluruh anggota keluarga, tidak cukup adanya. Prihatin, tapi kami syukuri.

Berita gembira menghampiri. Tahun 2010 seorang ibu sepuh pemilik penerbitan buku Tiga Serangkai tanpa diduga menawarkan hadiah haji kepada suami. Rasanya tidak percaya, namun itulah realita.

Sejauh ini, niat sudah punya. Untuk membuktikan itu, kami akan secepatnya membuka rekening haji. Membuka rekening saja. Mengisinya bagaimana, biar itu Allah yang mengaturnya. Ternyata, begitu cepat rencana itu diwujudkan Allah Swt. Rekening itu langsung terisi 20 juta, cukup untuk tahap awal ONH.

Dalam hati iri sekali. Saya pun rindu untuk ke sana. ingin sekali talbiyah yang selama ini saya lafadzkan benar- benar terwujud di Baitullah. Tidak sekadar latihan dengan anak- anak TK.

Saya menghibur diri, positif thinking, inilah rizki buat suami. Ini pula cara Allah menghibur kelelahan suami terkait semua aktivitasnya. Kesehariannya “riwa- riwi” Klaten – Solo, pulang larut malam, hanya ditemani murottal dari nokia yang terselip di helmnya.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Saat pembayaran ONH hampir lunas, tiba- tiba sepasang suami istri dokter yang dinas di RS Kustati menawari suami pergi haji. Dengan jujur, suami katakan telah mempunya tiket haji. Bila berkenan, tawaran itu tetap diminta untuk membiayai ONH saya. Semua berjalan mulus Allah mengijabah doa kami. Sebentar lagi kami akan menjadi tamu Allah. Sebuah kesempatan yang sangat sulit dicari.

Tahun 2013 kami berangkat. Tak bisa saya kisahkan dengan kalimat apa pun kecuali puja- puji kepada Allah Swt. Saat paling takjub, pertama kali memasuki Masjidil Haram, menatap langsung Ka’bah dalam balutan kiswah yang membawa pesona tersendiri.

Serangkaian ibadah haji dengan khidmat kami lalui. Mulai dari niat, ikhram, thowaf, wukuf, sa’i, tahalul dan tertib. Saat itu, kami benar-benar merasa sebagai al-fakir yang sedang dimuliakan oleh Pemilik Ka’bah. Puas sekali bisa menghabiskan siang malam, di Haram. Kerinduan kampung halaman, keluarga nyaris sirna. Yang ada hanya kekhusukan ibadah dan doa.

Kegembiraan yang terus menghampiri. Kami mendapat bonus ziarah tempat- tempat bersejarah, yang erat kaitannya dengan fase awal turun dan tegaknya Islam. Gua Hira’, Bukit Tursina, Bukit Uhud, Tsaqifah bani Saadah. Beberapa masjid bersejarah, Masjid Nabawi, Masjid Quba, Qiblatain, Ma’bad Jin, Syajaarah, Jabal Rahmah, dan lain sebagainya.

Memasuki puncak haji, wukuf Arafah kami lantunkan doa-doa kebaikan untuk keluarga, dan umat Islam agar pertolongan Allah segera tiba. Hadirnya kembali Khilafah ala minhaaj an nubuwwah, yang tegak berdiri membentengi Islam.

Secara khusus saya mendekat pada seorang mahasiswa Madinah, yang berperan sebagai pembimbing haji. Beliau telah haafidz. Kepribadiannya membuat saya salut. Tak mau kehilangan kesempatan, saya pun minta doanya agar dari anak-anak saya ada terlahir menjadi hafidz. Dan Alhamdulillah, Allah begitu baik sekali. Dalam perjalanan sekian tahun kedepan Allah ternyata mewujudkankannya.

***
Ada ragu sebenarnya untuk mengirimkan insight ini. Kawatir mengotori keikhlasan hati kami. Saya luruskan niat. Berharap kisah ini menjadi pengingat kekhusukan untuk saya sendiri. Seakan shalat kami saat ini pun sedang berada di hadapan Ka’bah. Seakan doa-doa kami pun sedang kami panjatkan di tempat istijaabah. Maqom İbrahim, Hijr İsmail, serta bilik indah Rasulullah, Ar Raudhah.

Al Fakir bersyukur, banyak sekali nikmat Allah memperbaiki kehidupan dunia kami, semoga akhirat pun jauh bertambah tinggi nilainya. Aamiin. Allah Sungguh Baik
Oleh: Wahibah

Selesai sudah saya menyimak video ke-3 berikut ulasan Ust Pedy dan insight teman- teman yang selalu terbasahi oleh semangat ruhiyah. Tiba- tiba ingatan saya melayang ke masa silam, sekitar tahun 2009.

Saat itu saya menjadi KS TKIT Taruna Teladan. Suatu saat, dalam perjalanan pulang kami berhenti di perempatan lampu merah. Dari arah Klaten muncul iring- iringan bus yang membawa rombangan jemaah haji menuju Embarkasi Donohudan. Tanpa saya sadari merinding bulu lengan saya, dan air mata menetes berulang- kali tanpa sengaja.

Dari balik helm saya mengucap lirih, “Ya Allah, aku pun ingin seperti mereka. Apakah hanya bagi mereka yang berharta, yang Kau undang menjadi tamu-Mu?”

Saya pun tertegun semakin dalam. Beberapa minggu terakhir saya sibuk mempersiapkan keberangkatan 150-an siswa kanak- kanak berikut asatiz dan wali murid untuk program manasik haji ke Donohudan. Berbaju putih-putih, berkalung kantongan biru berisi kerikil jumrah. Ke sana ke mari saya jinjing alat toa agar lafadz talbiyah berikut maknanya sampai ke telinga anak- anak. “Labbaik Allahumma labbaik, labbaik laa syariikalak.”

Lelah bercucuran keringat, tenggorokan tinggal menyisakan serak suara. Anak- anak mungkin belum sepenuhnya paham tentang semua ini. “Biarlah! Saya puas dan bahagia. Setidaknya telah menorehkan di hati mereka syiar Islam, mengagungkan Allah Swt, merindukan panggilan-Nya.”

Menerima tawaran sebagai KS TKİT sebenarnya tidak sesuai bidang kuliah saya. Tapi memang dari awal saya suka dengan dunia anak- anak. Pun agar selalu dekat dengan kelima anak-anak saya. Dua yang besar sudah duduk di SDIT. Anak ketiga, TK. Anak keempat, Play group dan yang terakhir belum sekolah.

Tiap pagi setelah membereskan dapur, mengurus si kecil, berempat kami naik motor berangkat ke sekolah.
***

Lalu, apa yang dikerjakan ayahnya? Suami saya seorang haamilud dakwah yang teguh. Beliau dari kecil basic-nya pondokan. Hanya kuliahnya saja yang ambil S1 Bahasa Inggris. Sesuai bidang ilmu, beliau kemudian menjadi guru tetap SMA swasta di Surabaya.

Tiba- tiba, tahun 2009 suami mendapat amanah dakwah untuk membuka tandzim pertama kali di Solo. Praktis, pekerjaan sebagai guru ditinggalkan dengan menyisakan tanda tanya besar dari kolega dan juga keluarga.

Mereka bertanya, “Mau dikasih makan apa, anak istrimu nanti?”
“Insya Allah, kami akan tercukupi,” jawabnya.

Kepindahan kami ke Solo berjalan lancar, sambil terus berharap cepat mendapat pekerjaan baru yang iramanya sejalan dengan dakwah.

Alhamdulillah, 2001, melalui iklan Harian Republik, suami diterima bekerja di pesantren Klaten yang dipimpin oleh Ustaz Jamil Azzaini, Founding Training KUBIK. Atas itu semua, rutinitas yang dilakoni suami pagi-pagi mengajar di pondok. Sore sampai malamnya ikut putaran dakwah bersama teman-teman.

Hari- hari kami tinggal di asrama pesantren. Sebuah ruangan hampir berbentuk persegi yang besarnya menyerupai RSS. Ada 2 kamar tidur, selebihnya ruang tamu yang di bagian tengah kami beri sekat bufet untuk melindungi perangkat yang ada di baliknya. Mesin cuci, dapur dan kamar mandi. Begitu malam tiba, kursi meja dipinggirkan untuk menggelar kasur lantai. Dua kamar untuk seluruh anggota keluarga, tidak cukup adanya. Prihatin, tapi kami syukuri.

Berita gembira menghampiri. Tahun 2010 seorang ibu sepuh pemilik penerbitan buku Tiga Serangkai tanpa diduga menawarkan hadiah haji kepada suami. Rasanya tidak percaya, namun itulah realita.

Sejauh ini, niat sudah punya. Untuk membuktikan itu, kami akan secepatnya membuka rekening haji. Membuka rekening saja. Mengisinya bagaimana, biar itu Allah yang mengaturnya. Ternyata, begitu cepat rencana itu diwujudkan Allah Swt. Rekening itu langsung terisi 20 juta, cukup untuk tahap awal ONH.

Dalam hati iri sekali. Saya pun rindu untuk ke sana. ingin sekali talbiyah yang selama ini saya lafadzkan benar- benar terwujud di Baitullah. Tidak sekadar latihan dengan anak- anak TK.

Saya menghibur diri, positif thinking, inilah rizki buat suami. Ini pula cara Allah menghibur kelelahan suami terkait semua aktivitasnya. Kesehariannya “riwa- riwi” Klaten – Solo, pulang larut malam, hanya ditemani murottal dari nokia yang terselip di helmnya.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Saat pembayaran ONH hampir lunas, tiba- tiba sepasang suami istri dokter yang dinas di RS Kustati menawari suami pergi haji. Dengan jujur, suami katakan telah mempunya tiket haji. Bila berkenan, tawaran itu tetap diminta untuk membiayai ONH saya. Semua berjalan mulus Allah mengijabah doa kami. Sebentar lagi kami akan menjadi tamu Allah. Sebuah kesempatan yang sangat sulit dicari.

Tahun 2013 kami berangkat. Tak bisa saya kisahkan dengan kalimat apa pun kecuali puja- puji kepada Allah Swt. Saat paling takjub, pertama kali memasuki Masjidil Haram, menatap langsung Ka’bah dalam balutan kiswah yang membawa pesona tersendiri.

Serangkaian ibadah haji dengan khidmat kami lalui. Mulai dari niat, ikhram, thowaf, wukuf, sa’i, tahalul dan tertib. Saat itu, kami benar-benar merasa sebagai al-fakir yang sedang dimuliakan oleh Pemilik Ka’bah. Puas sekali bisa menghabiskan siang malam, di Haram. Kerinduan kampung halaman, keluarga nyaris sirna. Yang ada hanya kekhusukan ibadah dan doa.

Kegembiraan yang terus menghampiri. Kami mendapat bonus ziarah tempat- tempat bersejarah, yang erat kaitannya dengan fase awal turun dan tegaknya Islam. Gua Hira’, Bukit Tursina, Bukit Uhud, Tsaqifah bani Saadah. Beberapa masjid bersejarah, Masjid Nabawi, Masjid Quba, Qiblatain, Ma’bad Jin, Syajaarah, Jabal Rahmah, dan lain sebagainya.

Memasuki puncak haji, wukuf Arafah kami lantunkan doa-doa kebaikan untuk keluarga, dan umat Islam agar pertolongan Allah segera tiba. Hadirnya kembali Khilafah ala minhaaj an nubuwwah, yang tegak berdiri membentengi Islam.

Secara khusus saya mendekat pada seorang mahasiswa Madinah, yang berperan sebagai pembimbing haji. Beliau telah haafidz. Kepribadiannya membuat saya salut. Tak mau kehilangan kesempatan, saya pun minta doanya agar dari anak-anak saya ada terlahir menjadi hafidz. Dan Alhamdulillah, Allah begitu baik sekali. Dalam perjalanan sekian tahun kedepan Allah ternyata mewujudkankannya.

***
Ada ragu sebenarnya untuk mengirimkan insight ini. Kawatir mengotori keikhlasan hati kami. Saya luruskan niat. Berharap kisah ini menjadi pengingat kekhusukan untuk saya sendiri. Seakan shalat kami saat ini pun sedang berada di hadapan Ka’bah. Seakan doa-doa kami pun sedang kami panjatkan di tempat istijaabah. Maqom İbrahim, Hijr İsmail, serta bilik indah Rasulullah, Ar Raudhah.

Al Fakir bersyukur, banyak sekali nikmat Allah memperbaiki kehidupan dunia kami, semoga akhirat pun jauh bertambah tinggi nilainya. Aamiin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini