Anak Menjadi Durhaka, Salah Siapa?

0
6

Oleh: Zulaikha (Mahasiswi IAIN Jember dan Aktivis Muslimah)

Linimasanews.com- Lagi-lagi dunia maya dihebohkan dengan kasus seorang anak di kabupaten Demak, Jawa Tengah, berinisial A (19 tahun) yang melaporkan ibu kandungnya S (36 tahun) ke polisi karena cekcok masalah baju.

S yang telah berpisah dengan suaminya ini memiliki tiga anak. Setelah perceraian itu, A ikut dengan ayahnya tinggal di Jakarta. Sedangkan adiknya yang masih remaja dan balita tinggal bersama ibunya di Demak.

Menurut keterangan kuasa hukum S, konflik berawal saat mantan suami S mengambil anak balita mereka tanpa sepengetahuannya. Hingga akhirnya mantan suami dan anak pertama S datang ke Demak pada 21 Agustus 2020. Kedua orang itu, lebih dulu ke rumah Lurah dan RT setempat sebelum mendatangi rumah S. Lalu ayah dan anak itu mendatangi rumah S bersama perangkat desa.

“Terus dia (A) masuk, dan mecari bajunya. Ibunya jengkel, bilang ke anaknya, suruh minta belikan ayahnya, ‘sudah ikut ayahmu yang katanya uangnya banyak’,” cerita Haryanto (21/10/2020).

Kemudian A tetap mencari bajunya. Hingga akhirnya sang ibu berkata bahwa baju-baju A telah dibuangnya dan akhirnya terjadilah percekcokan hingga berujung pada luka yang tidak di sengaja di pelipis mata A. Kini sang ibu mendekam dalam tahanan polsek Demak kota dengan dugaan penganiayaan dan kekerasan dalam rumah tangga.

Tak hanya itu, hal serupa juga terjadi di Lombok. Seorang anak berinisial M (40 tahun) ingin memenjarakan ibu kandungnya inisial K (60 tahun) hanya karena masalah motor.

Namun, laporan M ditolak langsung oleh Kasat Reskrim Polres Lombok Tengah AKP Priyo Suhartono.Priyo meminta permasalahan ini untuk diselesaikan secara kekeluargaan. Penolakan laporan itu pun viral di media sosial Facebook dan Youtube.

Perseteruan itu berawal dari harta warisan peninggalan ayah M yang dijual seharga Rp200 juta. Setelah terjual, sang ibu mendapatkan bagian Rp15 juta. Oleh ibunya, uang itu kemudian dipakai untuk membeli motor. Kemudian motor tersebut ditaruh di rumah keluarga, M yang tidak tahu pun tidak terima dan dianggap menggelapkan uang dan melaporkan ibunya ke polisi.

Kasus ini menambah deretan kasus sebelumnya terkait perseteruan anak dan orang tua yang berujung pidana. Kini hubungan dalam keluarga tak lagi harmonis sebagai mana seharusnya ada dalam keluarga.

Generasi Durhaka Lahir dari Sistem Sekuler

Rusaknya hubungan keluarga ini tak lepas dari sistem sekularisme yang diterapkan di negeri ini. Sistem sekularisme menjadikan hubungan di antara keluarga hanya bernilai materi.

Sistem materialistik ini menjadikan hubungan antara anak dan ibu diukur berdasarkan untung rugi. Tak masalah jika harus memenjarakan orang tua hingga menghabisi nyawa karena rebutan harta dan masalah-masalah materi lainya.

Pasalnya, dalam sistem kapitalisme manfaat adalah sebagai tolak ukur dalam segala hal. Sistem yang rusak ini tidak bisa lepas dari asas yang mendasarinya, yakni sekularisme yang memisahkan agama dengan kehidupan. Akibatnya manusia-manusia yang terbentuk dari sistem ini akan melakukan apa pun sesuka hati, tanpa memperhatikan benar salah menurut setandar islam.

Inilah liberalisme atau kebebasan yang telah gagal melahirkan penghormatan kepada ibu, gagal memberikan ketenangan dalam keluarga dan melahirkan generasi yang durhaka.

Islam Melahirkan Generasi Bertakwa

Hal yang berbeda dalam sistem Islam. Islam mewajibkan anak berbakti kepada kedua orang tuanya, karena ini adalah salah satu perintah dari Allah SWT. Kewajiban berbakti kepada kedua orang tuanya tidak lekang oleh waktu dan zaman. Tidak ada bekas ayah maupun bekas ibu, dan tidak ada bekas anak. Boleh kedua orang tua itu berpisah, akan tetapi kewajiban anak untuk berbakti kepada kedua orang tuanya akan terus berlangsung. Tatkala kedua orang tua meninggal pun, anak tetap punya kewajiban berbakti kepada kedua orang tuanya.

Kewajiban berbakti kepada kedua orang tua tidak gugur bahkan di saat kedua orang tua memerintahkan perbuatan maksiat. Memang anak tidak boleh taat dalam perintah maksiat walaupun dari orang tua. Akan tetapi berbuat baik kepada keduanya selama hidup di dunia adalah wajib.

Kesadaran demikian harus ditanamkan sejak dini baik oleh kedua orang tua maupun lembaga pendidikan, bahkan negara. Ibu sebagai sekolah pertama bagi anak-anaknya. Sang ibu mengenalkan anak akan kecintaan kepada Allah, Rasulullah dan Islam. Ibulah yang mengajarkan akhlaq dan adab yang baik kepada orang yang lebih tua termasuk kepada ayah ibunya. Ibu memberikan contoh dengan menghormati ayah, sungkem dan lemah lembut kepada suaminya. Sedangkan ayah membalasnya dengan menyayangi, membantu dan mendidik ibu dengan lemah lembut. Hal demikian akan terpatri pada diri anak. Akhirnya mereka akan ikut memuliakan kedua orang tuanya.

Adapun di bangku sekolah, kurikulum pendidikan betul-betul didesain untuk menghasilkan generasi yang memiliki kepribadian yang Islami. Di samping itu, generasi dipersiapkan untuk bisa memikul beban tanggung jawab sebagai penjaga bumi bukan perusak, baik berupa fisik maupun nonfisik. Secara fisik seperti melakukan eksploitasi alam tanpa memperhatikan kelestariannya. Sedangkan aspek nonfisik yang merusak bumi adalah berupa perbuatan dosa dan maksiat yang dilakukan manusia.

Ini semua tak lepas dari peran negara, yang menjadikan halal dan haram menurut syariah Islam sebagai asas bernegara. Karena mendidik generasi akan menjadi optimal tatkala negara melakukan peran strategisnya. Negara adalah pelaksana aturan kehidupan. Negara, pihak yang mampu mengondisikan individu, keluarga, dan masyarakat.

Inilah pentingnya peran negara, yang mampu mensinergikan peran keluarga, masyarakat dan lembaga pendidikan. Guna membentuk generasi yang berkepribadian Islam. Keluarga sebagai pendidik pertama, sekolah sebagai penguat dalam penanaman nilai mulia, dan masyarakat melakukan fungsi kontrol. Adapun negara yang menerapkan aturan dan kebijakan demi kebaikan keluarga dan masyarakat. Semua ini hanya bisa terwujud jika sistem yang diterapkan adalah sistem Islam dalam bingkai khilafah.

Wallahua’lambishawab.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini