Bapak Tak Akan Biarkan Kamu Jadi Penjual Martabak Selamanya

0
13

Oleh: Muntik A. Hidayah (Aktivis Muslimah dan Pegiat Literasi)

Alkisah, di kelurahan antah berantah hiduplah sebuah keluarga kecil yang harmonis. Lengkap dengan bapak, anak, dan menantu yang saling menyayangi dan mengasihi satu sama lain. Alangkah rukun bapak, anak, dan menantu itu.

Kebetulan, atau lebih tepatnya telah di-setting oleh seorang nenek tua yang gemar mengenakan baju berwarna merah, sang bapak terpilih saat pemilihan lurah. Alhasil, duduklah dia sebagai orang nomor satu di kelurahan itu. Tak main-main, ia bahkan sudah bertahan hingga 2 periode lamanya. Entah karena prestasi ataukah hasil dari mengakali.
Karena jabatannya itu, ia sangat menginspirasi anaknya yang saat itu tengah sibuk berjualan martabak. Hingga pada suatu sore, terjadilah percakapan singkat antara bapak, anak, dan menantu keluarga itu.

“Pak! Aku sudah gede, Pak. Kebutuhan semakin banyak, hasil jualan martabak juga ndak seberapa. Mbok aku dijadikan ketua RT, gitu, lho. Besok ini kan ada pemilihan ketua RT RW,” pinta sang anak.

“Yo wis gek ndang daftar, Le. Kok repot,” jawab si Bapak singkat.

“Tapi memang jadi, tho, Pak pemilihannya? Banyak yang protes. Wabahnya belum selesai masak sudah bikin kerumunan kaya gini? Lek ndak jadi, aku lak batal menjabat sebagai ketua RT Pak.”

“Nggeh Pak, ndak cuma adik saja yang kepingin. Saya ini loh, sudah lama ingin jadi ketua RW. Pemilihan besok ini sudah saya nanti-nantikan, lah dalah, ada wabah, terancam gagal ini impian saya Pak.”

“Wis tho, Le, tenang! Kowe loroan iki kenopo, tho? Pemilihan wis pasti tetep diselenggarakan. Bapak nggak akan biarkan kamu berjualan martabak selamanya. Kamu juga, Le. Kamu lak menantu kesayangan Bapak, tho? Tenang wae, Bapak kasih jatah. Pasti iku.” tukas sang bapak pasti.

Pada hari yang telah ditentukan, berlangsunglah pemilihan ketua RT dan RW di kelurahan itu. Si anak dan menantu ini sama sekali tak merasa risau sebab janji sang bapak telah dikantongi. Benar saja, sang bapak yang sangat mencintai anak dan menantunya itu, kontan menepati janjinya. Masing-masing terpilih menempati jabatan sesuai dengan keinginannya.

Masyarakat antah berantah sejatinya telah “mengendus” ketidakbenaran ini sedari awal, ketika anak dan menatu Pak Lurah ikut menyalonkan diri. Tapi apa kuasa mereka, mereka terperdaya oleh sistem bengis yang telah menjerat dan mencekik leher. Kelurahan antah berantah yang konon begitu menjunjung demokrasi, serta memberikan kedaulatan sepenuhnya di tangan rakyat itu, agaknya sudah sedikit bergeser menuju politik dinasti.

Sungguh malang masyarakat kelurahan antah berantah. Nasibnya terlunta-lunta tak berdaya. Bahkan demi pemilihan itu, yang sedang sekarat pun ditunda kematiannya hanya untuk menunaikan hak pilihnya.

Itulah sebuah kisah singkat dari kelurahan antah berantah. Agaknya, ada bagian dari kisah ini yang juga terjadi dalam realita kehidupan kita hari ini, menampar kita akan ketamakan penguasa atas jabatan dan harta duniawi.

Semboyan demokrasi yang senantiasa lantang diserukan tampaknya tidak lagi dapat merayu publik. Sedikit demi sedikit makar mereka terbongkar. Realita di depan mata menjadi bukti tak terbantahkan bahwa tujuan kesejahteraan rakyat hanyalah omong kosong belaka.

Mirisnya, bahkan pada tataran nyawa manusia, kini seakan tiada harganya jika dihadapkan pada syahwat kekuasaan mereka. Sungguh inilah wajah asli sistem yang tengah bercokol di negeri ini.
Maka, sudah saatnya kita segera beranjak pada yang secara nyata menawarkan solusi terbaik bagi kehidupan, tidak lain ialah Islam. Faktanya, Islam telah menorehkan tinta emas sejarah dengan membangun peradaban gemilang tidak kurang dari 1300 tahun lamanya. Pencapaian yang belum pernah ditemui pada peradaban mana pun di dunia.

Islam telah berhasil membuktikan bahwa ia hadir bukan hanya sebagai agama spiritual belaka. Namun, ia membawa kesempurnaan aturan kehidupan, meliputi politik, ekonomi, sosial, militer, pendidikan, kesehatan, serta lini-lini lainnya. Dengan kesempurnaan sistem kehidupan yang berasaskan akidah Islam, maka akan lahir pemimpin-pemimpin yang mumpuni.

Pemimpin yang sadar akan pertanggungjawabannya kelak di hadapan Sang Pencipta alam, maka ia tidak akan main-main dengan jabatan yang diembannya. Apalagi menggunakannya sebagai alat pemuas syahwat kekuasaan dan harta dunia. Sudah semestinya, kita sebagai rakyat yang peduli dan mencintai negeri ini, turut berjuang menerapkan Islam yang merupakan satu-satunya jalan bagi kebangkitan hakiki. Hadanallahu waiyyakum.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini