Batam Kembali ‘Membara’

0
9

Oleh : Tri Purwasih. P (C.L.F)
(Mentor KISRA Batam)

Linimasanews.com- Sembilan kecamatan di Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau, kembali masuk dalam daftar zona merah penyebaran covid-19. Padahal sebelumnya beberapa kecamatan sudah masuk dalam zona merah muda. Di antaranya adalah Kecamatan Nongsa dan Sei Beduk.

Saat ini total jumlah pasien covid-19 sebanyak 5.075 orang. Pada hari yang sama juga terdapat 18 pasien yang dinyatakan sembuh. Sehingga saat ini total jumlah pasien yang sembuh sebanyak 4.487 orang. Sementara yang masih dalam perawatan 455 orang dan meninggal dunia 133 orang. (batampos.co.id, 05/01/2021)

Sedari awal pemerintah daerah telah salah langkah dalam menangani pandemi. Hal ini dikarenakan kebijakan yang diambil pemerintah daerah merujuk pada kebijakan pemerintah pusat dalam menangani pandemi. Terlihat jelas pemerintah lebih mementingkan perekonomian dari pada perkara kesehatan.

Pemerintah enggan memberlakukan lockdown atau karantina sedari awal. Pemerintah lebih memilih melakukan PSBB(Pembatasan Sosial Berskala Besar) yang dianggap lebih ‘ramah lingkungan’ dan perekonomian masih bisa berjalan meski dengan beberapa ketentuan.

Berbeda dengan lockdown yang mengharuskan semua kegiatan dihentikan selama pandemi. Sehingga semua kebutuhan dasar masyarakat menjadi tanggungjawab pemerintah. Ketersediaan dana menjadi salah alasan pemerintah lebih memilih PSBB, disamping kekhawatiran pemerintah akan dampaknya pada ekonomi ketika memberlakukan lockdown.

Pelayanan kesehatan yang komersil juga berpengaruh pada penyediaan akses layanan kesehatan. Sehingga masyarakat sulit memperoleh pelayanan kesehatan karena mahalnya biaya yang harus dikeluarkan. APD atau Alat Pelindung Diri sebagai penunjang protokol kesehatan seperti baju hazmat, masker, alkohol, antiseptik dan lainnya menjadi langka dan harga jualnya melonjak berkali-kali lipat. Membuat masyarakat sulit menjangkaunya dan para tenaga medis yang bertugas sebagai garda terdepan melawan pandemi kekurangan APD.

Di saat pandemi masih belum dapat dikendalikan, pemerintah memberlakukan kebijakan New Normal yang memperparah penyebaran wabah dan mengakibatkan banyak korban berjatuhan, baik dari masyarakat maupun tenaga medis.

Dalam pemerintahan Islam, kepemimpinan adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban. Pemerintah harus berusaha semaksimal mungkin menangani wabah karena salah satu tujuan syariat Islam adalah menjaga jiwa. Nyawa manusia harus lebih diutamakan daripada ekonomi.

Islam memberikan panduan bagaimana pemerintah bertindak jika terjadi wabah. Pertama, melakukan tes dan tracing dengan cepat. Hal ini untuk melacak penyebaran wabah. Dalam dua pekan dilacak ke mana dan dengan siapa saja berinteraksi. Kemudian dilakukan tes kepada orang-orang tersebut. Jika hasilnya positif maka segera diisolasi dan diobati.

Kedua, menentukan pusat wabah agar tidak menyebar luas. Melarang keluar masuknya orang dari wilayah tersebut untuk menghentikan penularan berantai.

Rasulullah saw bersabda:
“Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah itu. Sebaliknya, jika wabah itu terjadi di wilayah tempat kalian tinggal, janganlah kalian meninggalkan tempat itu.” (HR. Bukhori)

Kebijakan lockdown atau karantina akan efektif jika pemerintah yang memberlakukan dan memberi sanksi tegas bagi yang melanggarnya.

Ketiga, menjamin segala kebutuhan pokok masyarakat di wilayah yang dikarantina. Pemerintah harus menanggung semua kebutuhan dan tidak boleh berlepas tangan. Hal ini juga mencegah masyarakat melanggar ketentuan karantina untuk memenuhi kebutuhannya.

Keempat, merawat, mengobati dan melayani orang-orang yang sakit di daerah wabah. Masyarakat yang sakit harus segera diobati dengan pengobatan yang berkualitas karena ini berkaitan dengan nyawa manusia. Dalam kasus covid-19 yang belum ditemukan obatnya maka daya tahan tubuh pasien yang harus ditingkatkan sehingga dapat meminimalisir kematian.

Kelima, meningkatkan dan memperkuat sistem kesehatan, fasilitas, tenaga medis dan obat-obatan untuk menunjang penanganan wabah.

Keenam, mendorong dan memfasilitasi para ilmuwan untuk segera menemukan obatnya.

Ketujuh, mengajak warga negara yang muslim untuk semakin mendekatkan diri pada Allah, bertobat dan memperbanyak amalan-amalan shalih. Pada masa Khalifah Umar bin Khattab pernah terjadi wabah dan beliau berkata kepada rakyatnya, “Wahai manusia! Sungguh aku khawatir jika bencana merambah kepada kita semua. Maka carilah ridho Tuhan kamu! Tinggalkan perbuatan dosa, bertaubatlah kepada-Nya dan lakukan kebaikan”.

Jika penanganan seperti yang dicontohkan Islam dilakukan pemerintah, dengan izin Allah wabah akan bisa ditangani dan segera berakhir. Ranah kita adalah berikhtiar semaksimal mungkin, Allahlah yang menentukan hasil.

Wallahu’alam bishowab

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini