Blekethir Ningrat

0
112

Oleh: Reni Cipto

Syafei kembali mengelap keringatnya yang tiba-tiba saja semakin deras bercucuran. Ustazah Royani baru saja menyampaikan jika Anafi, telah menolak permohonan taarufnya.

Tahun ini menjadi target untuk Syafei menikah, sayangnya beberapa akhwat telah menolaknya. Bermacam alasan yang mereka sampaikan, dari yang menyatakan belum siap menikah, tidak mau menikah dengan orang Jawa, hingga alasan terakhir yang terdengar tanpa sengaja oleh Syafei saat melintasi jendela rumah Anafi, akhwat yang baru saja diajukan oleh Ustazah Royani sebagai calon pendamping hidupnya. Syafei mendengar sebuah percakapan singkat di sana.

“Maaf Ustazah, saya menolak ajakan Mas Syafei untuk taaruf. Saya keberatan jika harus disandingkan dengan Mas Syafei seorang OB rumah sakit tempat saya bekerja,” ujar Anafi.

Anafi adalah staff administrasi di Rumah Sakit Abu Bakar, tempat Syafei juga bekerja. Cukup lama Syafei mengenal Anafi, tapi hanya sebatas tahu saja. Syafei pun sesungguhnya terkejut, ternyata akhwat yang akan diperkenalkan dan menyatakan siap menikah adalah Anafi.

Tapi apa mau dikata, Anafi menolak sebelum ada pertemuan selanjutnya. Syafei hanya bisa menunduk dan beristighfar berkali-kali.
“Mungkin ini pun belum jodohku,” gumamnya dalam hati. Pahitnya penolakan hanya direguknya dalam diri, sekalipun terasa bagai cambuk melecut-lecut hatinya.

“Astaghfirullohal’adzim, apa salahnya menjadi Office Boy? Toh itu pekerjaan halal,” gumam Syafei. Tak ingin berlama-lama, menahan amarah dan kecewa dalam hati, Syafei segera melajukan motor bututnya ke warung Mbok Darmi.

“Mas Pei mau pesen apa?” sapa Mbok Darmi segera setelah Syafei turun dari motornya.

“Saya gak pengin makan, Mbok, minum teh manis hangat saja.”

“Weelah tumben, biasanya sudah pesen nasi rames campur bakwan. Hari ini simbok bikin semur jengkol lho, mau ga?”
“Gak usah Mbok, terimakasih.”

Perasaan Syafei masih terasa senyap, gundah masih bertengger di hatinya.

“Mbok, apakah menjadi istri seorang Office Boy itu memalukan?” tanyanya pada Mbok Darmi.

“Ya, gak, to Mas Pei, ada apa to? Sampean ditolak lagi ya?” Mbok Darmi merasa iba.

“Sampean itu orangnya baik. Sekalipun kerjanya cuma OB dan dianggap sebagai blekethir, tapi bagi simbok, Mas Pei ini blekethir ningrat karena jujur, ramah, baik hati, pekerja keras, dan penuh tanggung jawab. Simbok yakin gak akan ada yang nyesel kalau menikah sama sampean. OB itu, ‘kan, ya pekerjaan yang halal to, Mas Pei. InsyaAllah akan ada jodoh terbaik buat Mas Pei,” Support dari Mbok Darmi membuat hati Syafei lebih tenang.

Siang itu saat Syafei tengah membersihkan gudang, Pak Cokro Kepala Bagian Sarana Prasarana Rumah Sakit memanggilnya.

“Yang kamu pegang-pegang tadi dusku, Pei. Barang-barang yang aku beli dan sengaja alamatnya ke rumah sakit ini, biar sekalian jadi satu ongkos kirimnya karena dari satu supliyer yang sama. Terkadang aku kesulitan juga memindahkannya. Kamu mau gak, kerja sama saya, Pei? Angkut barang-barang tadi ke mobil boks yang saya sediakan, tapi ya … itu, kerjanya malam-malam biar gak mengganggu orang saat siang,” Pak Cokro menjelaskan panjang lebar tentang dus-dus besar yang ada di gudang dan juga niatannya meminta Syafei untuk bekerja padanya.

“Maaf, Pak, itu isinya apa ya, Pak? Soalnya berat waktu saya geser-geser tadi sewaktu saya bersihkan gudang.”

“Kamu gak usah tahu, Pei, yang jelas kamu harus berhati-hati jika membawa barang-barang tadi ya, gimana? Kamu bersedia to?” Kembali Pak Cokro membujuk Syafei.

Pak Cokro tahu betul, Syafei adalah orang yang baik, nerimo, dan bertanggung jawab. Memperkerjakannya adalah hal yang menguntungkan. Dengan sikap nerimo Syafei Pak Cokro berniat memberinya upah yang tidak terlalu besar dibandingkan dengan dua anak buahnya yang sudah lebih dahulu bekerja padanya.

“Maaf Pak Cokro, bukannya saya tidak mau membantu dan juga menolak rezeki, setiap malam kecuali malam Sabtu dan Minggu saya bekerja jadi satpam komplek di Perum Pak Bimo, Direktur Utama Rumah Sakit ini,” jawab Syafei.

“Kamu kalau Mbok Darmi minta diantarkan ke pasar, itu bayar berapa?”

“Lhaa wong deket gitu, ya gak usah bayar to, Pak Cokro,” sahut Syafei cepat.

“Lha, Mbok Darmi gratis, kok aku minta tolong gak kamu turuti!” Seru pak cokro lagi.

“Kamu ini ngewangi aku saja, anter-anter barang. Nanti aku bayar mahal, lumayanlah buat tabungan kamu modal nikah.”

“Matursuwun, Pak, tapi saya perlu tahu barang apa yang saya antarkan, jadi jelas dan saya akan mudah menjelaskan ke orang yang bertanya, tapi jika saya hanya jadi kurir yang diam-diam mengantar barang dari rumah sakit ini, saya rasa itu tidak benar Pak Cokro. Apalagi mengantarnya setiap jam tiga pagi. Saya juga gak sanggup, Pak.”

Penolakan Syafei berbuntut panjang, tidak ada lagi toleransi waktu bekerja di hari Sabtu dan Minggu untuk Syafei. Syafei wajib hadir sesuai ketentuan semula, yaitu stand by dari pagi di RS sampai sore hari. Sebenarnya tidak masalah untuk Syafei, jika ketentuannya adalah jumlah jam bekerja yang harus tepat karena Syafei selalu hadir awal di setiap hari Sabtu dan Minggu agar terpenuhi jam kerja yang ditetapkan rumah sakit.

Tuntutan Pak Cokro ini mengakibatkan Syafei kesulitan untuk kuliah di hari Sabtu dan Minggu. Padahal Pak Bimo selaku Direktur Rumah Sakit sudah mengijinkannya untuk pulang cepat di setiap hari Sabtu dan Minggu. Tidak ada yang tahu jika Syafei kuliah di setiap hari Sabtu dan Minggu, bahkan saat ini sudah bersiap untuk sidang skripsi.

“Ya Allah Mas Pei, saya pikir siapa, pagi sekali, sudah ngepel, Mas Pei?”

“Maaf Dokter, saya sengaja datang lebih awal agar nanti saya bisa pulang lebih cepat. Setiap Sabtu dan Minggu, saya datang lebih awal, Dok. Maaf ya, Dok, jika saya tadi mengagetkan Dokter,” Syafei berhenti sejenak dari aktivitas mengepelnya, memberikan ruang untuk Dokter Malika lewat.

“Gak apa-apa, Mas Pei. Saya tidak terganggu. Silahkan diteruskan, saya kembali ke IGD saja yang masih ramai.”

“Owh baik, Dok, silakan!”

Dokter Malika segera bergegas menyusuri koridor ruang rawat inap, suasana sepi dan temaram membuat Dokter Malika mempercepat langkahnya.

“Astaghfirullohal’adzim, siapa kalian? Pagi-pagi seperti ini membawa banyak barang, sepertinya kalian bukan … hmp hmpph.”

Syafei terkejut mendengar suara Dokter Malika berteriak. Bergegas Syafei menuju ke asal suara, tapi sepi dan lengang. Tidak ada seorang pun, padahal jelas-jelas tadi Syafei mendengar Dokter Malika berteriak. Syafei yang masih penasaran segera menyusuri lorong menuju IGD, ruang yang dituju Dokter Malika. Bruuugh! tanpa sengaja Syafei menabrak dua orang yang tengah memanggul dus besar menuju pintu keluar rumah sakit.

“Aduh,” ringis Syafei, “maaf ya, Pak, saya tadi tidak tahu jika ada bapak-bapak yang akan lewat, sampean berdua ini siapa toh? Kok pagi-pagi bawa dus besar begini,” tanya Syafei.

Akan tetapi, kedua orang tadi tidak menjawab dan bergegas menuju pintu keluar. Syafei yang curiga segera melaporkan ke security via gawainya, sambil diam-diam mengikuti mereka dari belakang.

“Heh, Pei, ada apa?” Tiba-tiba Pak Cokro ada di belakangnya.

“Ini Pak mereka membawa banyak dus dari dalam ruang farmasi, saya curiga mereka mencuri, Pak,” jelas Syafei.

Bersambung …

Artikulli paraprakFenomena Ikan Mati, Masih Kurang Bukti?
Artikulli tjetërSekularisme Menghasilkan Manusia Minim Nurani
Visi : Menjadi media yang berperan utama dalam membangun kesadaran umat tentang fakta kebutuhan mengembalikan kehidupan Islam. Semua isi berupa teks, gambar, dan segala bentuk grafis di situs ini hanya sebagai informasi. Kami berupaya keras menampilkan isi seakurat mungkin, tetapi Linimasanews.com dan semua mitra penyedia isi, termasuk pengelola konsultasi tidak bertanggungjawab atas segala kesalahan dan keterlambatan memperbarui data atau informasi, atau segala kerugian yang timbul karena tindakan berkaitan penggunaan informasi yang disajikan. Linimasanews.com tidak bertanggungjawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis yang dihasilkan dan disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik “publik” seperti Opini, Suara Pembaca, Ipteng, Reportase dan lainnya. Namun demikian, Linimasanews.com berhak mengatur dan menyunting isi dari pembaca atau pengguna agar tidak merugikan orang lain, lembaga, ataupun badan tertentu serta menjauhi isi berbau pornografi atau menyinggung sentimen suku, agama dan ras. Segala isi baik berupa teks, gambar, suara dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Linimasanews.com. Semua hasil karya yang dimuat di Linimasa news.com baik berupa teks, gambar serta segala bentuk grafis adalah menjadi hak cipta Linimasanews.com Misi : * Menampilkan dan menyalurkan informasi terbaru, aktual dan faktual yang bersifat edukatif, Inspiratif, inovatif dan memotivasi. * Mewadahi bakat dan/atau minat sahabat lini masa untuk turut berkontribusi membangun kesadaran umat tentang fakta kebutuhannya mengembalikan kehidupan Islam melalui literasi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini