Emansipasi ala Kartini dan Emansipasi Menurut Pandangan Islam

0
88

Oleh: Ina Ariani
Pemerhati Kebijakan Publik dan Sosial

Linimasanews.com-Hari ini kita berada di bulan April. Sebentar lagi Indonesia mengenang hari kelahiran salah satu sosok pejuang wanita. Siapakah dia? Dia adalah R.A. Kartini, siapa yang tak mengenal sosoknya? Kartini adalah salah satu tokoh wanita yang terkenal di Indonesia. Dialah Raden Ajeng Kartini Djojo Adhiningrat atau dikenal sebagai R.A. Kartini, beliau dikenal sebagai salah satu pahlawan nasional yang dikenal gigih memperjuangkan emansipasi wanita Indonesia di kala itu.

Namanya harum semerbak hingga kini. Sepak terjangnya berjuang membela kaum perempuan, oleh karenanya wanita kian dihargai hingga kini. Kedatangannya membawa kegembiraan bagi kaum perempuan bangsa ini.

Raden Ajeng Kartini, seorang putri bangsawan yang dilahirkan pada tanggal 21 April 1879. Hari kelahiran beliaulah yang diperingati sebagai hari Kartini secara nasional.

Kartini yang terlahir sebagai keturunan bangsawan, memiliki cita-cita untuk bisa mengenyam pendidikan di level tertentu pada masa itu. Meskipun bukan pendidikan dalam level yang tinggi, setidaknya wanita keturunan bangsawan masih bisa menikmati bangku sekolah dibandingkan dengan wanita pribumi lainnya.

Dengan begitu dia tidak merasa bahagia dengan keistimewaan yang diperolehnya karena ia terlahir dari keluarga bangsawan, malah justru mengusik pikirannya. Inilah yang membedakan Kartini dengan wanita bangsawan lainnya.

Kartini melihat adanya ketidakadilan dan keterkungkungan terhadap kaum wanita. Kartini menggugat, mengapa hanya wanita bangsawan yang berhak mengenyam pendidikan? Mengapa tidak ada persamaan hak bagi semua wanita untuk mendapatkan pendidikan dan mengembangkan diri tanpa harus memandang status sosial. Padahal setiap wanita memiliki hak dan kewajiban yang sama apa pun status mereka.

Kartini memiliki cita-cita mulia untuk kaum wanita pribumi supaya mendapatkan kesetaraan dalam mengenyam pendidikan karena peran wanita sangat penting dalam mempersiapkan generasi masa depan yang dapat mengangkat harkat dan martabat bangsa Indonesia. Kartini telah melihat kesetaraan ini dapat diperoleh dari para wanita yang tinggal di negara-negara Eropa.

Kartini pun melakukan korespondensi dengan kawan-kawannya di Eropa untuk bisa mendapatkan inspirasi yang lebih banyak lagi untuk bisa mengupayakan perubahan juga di negerinya. Bahkan, pemikiran-pemikiran Kartini tentang perubahan dan kesetaraan bagi kaum wanita ini menarik perhatian kawan-kawannya yang berada di Eropa.

Dalam suratnya tertanggal 4 Oktober 1902 , Kartini menuliskan kepada Prof. Anton dan istrinya:

“Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya.

Karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.”

Jelaslah, gagasan tentang emansipasi yang disuarakan oleh Kartini adalah mengenai kesetaraan bagi kaum wanita. Tujuannya untuk mendapatkan pendidikan supaya kaum wanita lebih cakap dalam melakukan kewajiban, mempersiapkan generasi masa depan bangsa, namun bukan untuk menjadi pesaing bagi kaum pria.

Melalui Prof. Haryati Soebadio (cucu tiri Ibu Kartini) mengartikan kalimat “Door Duisternis Tot Licht” sebagai “Dari Gelap Menuju Cahaya” yang bahasa Arabnya adalah “Minazh-Zhulumaati ilan-Nuur“. Kata dalam bahasa Arab tersebut, tidak lain, merupakan inti dari dakwah Islam yang artinya: membawa manusia dari kegelapan (jahiliyah) ke tempat yang terang benderang (hidayah atau kebenaran Ilahi), sebagaimana firman-Nya:

”Allah pemimpin orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya. Dan orang-orang kafir pemimpinnya adalah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya ke kegelapan. Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal didalamnya.” (QS. Al-Baqarah : 257)

Korespondensi pun terjadi dengan sangat intens, sehingga pada akhirnya surat-menyurat yang dilakukan oleh Kartini ini dibukukan setelah Kartini wafat pada usia 25 tahun. Buku tersebut diberi judul Door Duisternis tot Licht (Dari Kegelapan Menuju Cahaya), yang diterbitkan pada tahun 1911 dalam bahasa Belanda.

Hingga pada tahun 1922, buku tersebut diterbitkan oleh Balai Pustaka dalam bahasa Melayu. Kemudian kumpulan surat Kartini telah diterjemahkan tersebut diberi judul ‘Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran’.

Lalu bagaimana sebenarnya ide emansipasi yang disuarakan oleh Kartini? Dalam tulisan ini, saya tidak akan berpolemik mengenai arti dari emansipasi, barangkali Kartini pun setuju bila emansipasi diartikan sebagai usaha dalam memperjuangkan hak maupun kesetaraan derajat. Mengapa saya bisa menyimpulkan demikian, sebab kesimpulan tersebut berangkat dari melihat sepak terjang perjuangan Kartini itu sendiri.

Wanita pun berhak untuk dimuliakan dalam kedudukannya yang memang sangat luhur tersebut. Sudah sepantasnya kaum wanita mendapatkan kedudukan yang mulia yang bisa diakui dan diterima oleh kaum pria.

Lalu bagaimana emansipasi wanita dalam pandangan Islam itu sendiri? Dalam bahasa Arab, emansipasi ini dikenal dengan istilah tahrir al-mar’ah yang bermakna pembebasan wanita dari status sosial ekonomi yang rendah dan pembatasan hukum yang membatasi kemungkinan untuk berkembang dan maju.

1400 tahun yang lalu Islam telah mengumumkan dengan lantang kesetaraan status antara kaum wanita dan pria di saat kondisi masa jahiliyah yang sangat merendahkan kedudukan kaum wanita. Kaum wanita pada masa itu berada dalam belenggu dan pengungkungan yang sedemikian rupa, sehingga layaknya seperti budak.

Persamaan dan kesetaraan status ini dapat dilihat dari firman Allah berikut ini:

“Hai manusia, sesungguhnya Kami ciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Al Hujurat 49:13)

Apa yang dicita-citakan oleh Kartini sejalan dengan Islam. Dimana tujuannya supaya kaum wanita pun bisa mendapatkan kesetaraan kedudukan dengan kaum pria selaras dengan firman Allah bahwa yang membedakan manusia adalah bukan gendernya ataupun kedudukan sosialnya, namun hanyalah taqwanya. Rasulullah saw juga bersabda:

“Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada bentuk atau rupa kamu, juga tidak kepada harta benda kamu. Akan tetapi, Allah swt memandang kepada hati dan amal perbuatanmu semata.” (HR. Ibn Majah)

Al-Quran juga menjelaskan dengan rinci tentang persamaan kedudukan wanita dan pria dalam pandangan Allah (Al Ahzab:35). Sementara persamaan kedudukan wanita dan pria dalam berusaha untuk memperoleh, memiliki, menyerahkan, atau membelanjakan harta kekayaannya termaktub dalam surat An-Nisaa: 4. Hak dan kewajiban wanita dan pria, dalam hal tertentu sama dapat dilihat dalam QS Al-Baqarah : 228 dan At-Taubah:71, dll.

Dan semua hal ini tidak pernah didapatkan oleh kaum wanita di masa jahiliyah, bahkan untuk menjadi pemilik dari propertinya sendiri pun tak bisa karena tradisi jahiliyah. Selaras dengan hal yang tersebut, Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad menjelaskan, “Rasulullah telah mengumumkan bahwa Allah telah mempercayakan kepada beliau tugas untuk menjaga dan melindungi hak-hak kaum wanita.

Beliau mendeklarasikan atas nama Tuhan bahwa pria dan wanita dengan segala sifat umum kemanusiaannya adalah sama satu dengan yang lain dan dalam hidup berdampingan sebagaimana pria memiliki hak-hak tertentu atas wanita, sama halnya wanita juga memiliki hak-hak tertentu yang sama dengan pria.” (Muhammad the Liberator of Women, hal. 20).

Selanjutnya mengenai derajat kemuliaan bagi kaum wanita yang menjadi fokus perjuangan Kartini juga disebutkan dalam buku yang sama sbb:

“kaum wanita memegang kedudukan yang permanen dan segala penghargaan spiritual yang memungkinkan bagi mereka. Mereka tidak seharusnya dihindarkan dari mendapatkan segala kemuliaan di akhirat maupun di dunia ini juga. Mereka dapat berpartisipasi di dalam segala gerak dari kehidupan sipil maupun bernegara serta hak-hak dari kaum wanita hendaklah dilindungi dengan aman sebagaimana hak-hak kaum pria.” (Muhammad the Liberator of Women, hal. 24).

Jadi sudah jelas bahwa emansipasi ala Kartini dan emansipasi menurut pandangan Islam sama-sama menghendaki kemuliaan derajat bagi kaum wanita. Yakni, emansipasi yang memperjuangkan kesetaraan kedudukan kaum wanita dan pria tanpa melupakan kewajiban mereka masing-masing. Bukan emansipasi yang membebaskan untuk berbuat apa saja sehingga melupakan kodrat dan kewajiban sebagai wanita yang justru akan merendahkan derajat kaum wanita itu sendiri.

Wallahu a’laam

Artikulli paraprakTapak Tilas Pengusiran Kaum Kafir terhadap Orang Beriman
Artikulli tjetërRamadhan, Wujudkan Penerapan Islam Kaffah
Visi : Menjadi media yang berperan utama dalam membangun kesadaran umat tentang fakta kebutuhan mengembalikan kehidupan Islam. Semua isi berupa teks, gambar, dan segala bentuk grafis di situs ini hanya sebagai informasi. Kami berupaya keras menampilkan isi seakurat mungkin, tetapi Linimasanews.com dan semua mitra penyedia isi, termasuk pengelola konsultasi tidak bertanggungjawab atas segala kesalahan dan keterlambatan memperbarui data atau informasi, atau segala kerugian yang timbul karena tindakan berkaitan penggunaan informasi yang disajikan. Linimasanews.com tidak bertanggungjawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis yang dihasilkan dan disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik “publik” seperti Opini, Suara Pembaca, Ipteng, Reportase dan lainnya. Namun demikian, Linimasanews.com berhak mengatur dan menyunting isi dari pembaca atau pengguna agar tidak merugikan orang lain, lembaga, ataupun badan tertentu serta menjauhi isi berbau pornografi atau menyinggung sentimen suku, agama dan ras. Segala isi baik berupa teks, gambar, suara dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Linimasanews.com. Semua hasil karya yang dimuat di Linimasa news.com baik berupa teks, gambar serta segala bentuk grafis adalah menjadi hak cipta Linimasanews.com Misi : * Menampilkan dan menyalurkan informasi terbaru, aktual dan faktual yang bersifat edukatif, Inspiratif, inovatif dan memotivasi. * Mewadahi bakat dan/atau minat sahabat lini masa untuk turut berkontribusi membangun kesadaran umat tentang fakta kebutuhannya mengembalikan kehidupan Islam melalui literasi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini