Empowering Muslimah

0
159

Oleh: Novianti

Rubrik Keluarga- Setiap hari, seorang ibu menghabiskan waktu untuk keluarganya. Ia menikmati kebersamaan dengan sang suami yang selalu membuat dirinya tertawa. Putrinya yang sering memberi kejutan dengan kreasi yang kreatif. Putra bungsunya yang suka memeluk sambil mencium kedua pipi dan berkata, “Ibu adalah Ibu terbaik di dunia dan terwangi.” Kalimat yang membuat sang ibu tersanjung dan bahagia. Inilah salah satu potret kehidupan ibu rumah tangga.

Namun, tidak semua ibu rumah tangga bahagia seperti gambaran di atas ketika menjalani perannya. Ada yang merasa inferior dikarenakan hanya berkutat di dalam rumah bagai katak dalam tempurung. Ia merasa kurang berguna karena tidak memberi keuntungan finansial seperti halnya perempuan bekerja.

Penyebab para ibu yang mengalami inferiority complex salah satunya disebabkan oleh gambaran perempuan berdaya di era modern yang tersajikan lewat media. Perempuan sukses adalah yang memiliki kekuatan ekonomi, menghasilkan materi, berkarir cemerlang dengan atribut sederet gelar.

Sistem sekuler kapitalis yang mengagungkan materi dan mahalnya berbagai harga kebutuhan pokok memang sering membuat para istri terpaksa turun gelanggang untuk menopang ekonomi keluarga. Akhirnya, waktu lebih banyak digunakan untuk bekerja daripada mendidik anak.

Dalam situasi yang jauh dari nilai Islam, kita tidak bisa mempertentangkan antara ibu rumah tangga dan ibu bekerja. Namun, fakta menunjukkan saat ini keluarga berada dalam ancaman. Pilar-pilar dalam keluarga menjadi rapuh yang ditunjukkan oleh fakta adanya isu eksploitasi perempuan, tingginya angka perceraian, depopulasi peradaban dan makin tingginya pelaku kriminal dari kalangan anak dan remaja.

Prof. Dr. Mohd. Kamal Hasan, Profesor Ulung Institut Antarbangsa Tamadun dan Pemikiran Islam (Istac) Malaysia, menyatakan bahwa kehidupan saat ini mencapai kemajuan ekonomi namun mengalami kerusakan peradaban. Pembangunan infrastruktur pesat namun diiringi krisis sosial, keruntuhan institusi keluarga, meluasnya kriminalitas, tingginya angka bunuh diri dan berbagai permasalahan masyarakat kompleks lainnya.

Dalam kondisi ini, seorang ibu rumah tangga memegang peranan penting untuk menyirami jiwa-jiwa agar fitrah tersemai pada ladang yang menyuburkan keimanan. Seorang ibu yang berdaya (empowering) adalah mereka yang mampu memberdayakan semua dimensi hidupnya untuk Islam.

Meski aktivitasnya lebih banyak di rumah, namun memiliki visi akhirat, visi yang melampaui batasan dunia. Ia mengoptimalkan potensi agar berperan secara signifikan, locally impacted but globally connected.

Dimensi peran yang bisa dijalankan tentunya membutuhkan setidaknya tiga pendukung, antara lain:

Pertama, secara individu harus melek terhadap identitas diri. Ia harus memahami tuntunan Islam dalam pengaturan keluarga, berpakaian, pergaulan bahkan muamalah.

Kedua, harus memiliki mentalitas daya juang bagi keluarga agar menjadi partner dalam berkontribusi untuk umat. Realitas ibu bekerja atau bukan tak bisa dibandingkan karena takdir setiap manusia berbeda. Yang penting bagaimana masing-masing dengan mentalitas terbaik menghadapi ujiannya.

Ketiga, memiliki perhatian terhadap umat, bukan hanya fokus pada permasalahan pribadi dan keluarga. Di berbagai belahan bumi, banyak kaum muslimin tertindas, para muslimah yang diperkosa, anak-anak yang menderita. Tentunya, setiap manusia akan ditanya oleh Allah di yaumil akhir tentang musibah kemanusiaan di depan mata dan apa respon terhadap peristiwa tersebut.

Inilah lahan amal bagi seorang ibu rumah tangga. Hari ini umat membutuhkan generasi mujahid, generasi penakluk yang bisa dilahirkan dari pendidikan para ibu di rumah. Generasi tersebut hanya akan lahir dari kaum ibu muslimah yang memiliki kesadaran ruang dan kematangan visi dalam mendidik anak yang menjadi generasi penerus Islam.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini