Ghosting akal? Hii… Jangan yaa…!

0
222

Oleh: Nafiatul Nurul Ishmah
(Pelajar)

Ghosting? Wah makhluk apa lagi itu? Hehe, Akhir-akhir ini kata itu semakin akrab ya di telinga kita, baik kita dengar dari media sosial atau dunia nyata. Nah, bagi yang sudah penasaran dengan maknanya, yuk kita kenalan lebih lanjut.

Kita mulai dari pengertiannya ya, seperti yang kita duga, ghosting sebenarnya diambil dari akar katanya yaitu ghost yang artinya hantu. Karena hantu mempunyai ciri “nggak kelihatan” alias “menghilang,” jadilah istilah ghosting digunakan untuk menamai aktivitas seseorang yang tetiba ngilang, nggak ada kabar, dan tiba-tiba muncul begitu saja dengan kabar mengejutkan.

Ghosting dapat kita kategorikan dalam beberapa aspek. Salah satunya berkaitan dengan akal, atau ghosting akal. Ghosting jenis ini dapat kita artikan dengan menghilangnya akal secara sejenak namun berbeda dan belum sampai mengarah ke gila.

Wah hilang akal yang seperti apa ya? Hilang akal di sini maksudnya tidak menempatkan akal pada tempatnya. Contohnya nih yaa, teman-teman pernah lihat orang mabuk, kita bisa bilang kalau biasanya orang mabuk, ngomognya suka ngaco kan, tapi pas sudah sadar pasti dia kembali lagi. Nah, itulah ciri-ciri orang yang akalnya sedang tidak ada di tempat, alias hilang kesadarannya. Hal itu bisa disebut halusinasi, mengigau, euforia dan sejenisnya.

Tuh serem kan ya, kita semua pasti gak mau kan, tapi gimana ya cara kita deteksi dini dan lakukan pencegahan dari awal kepada orang-orang sekitar kita? Berikut ciri-ciri yang bisa dideteksi, di antaranya menurut P2PTM Kemenkes RI:

☑️Suasana hati dan perilaku yang selalu berubah;
☑️Menjadi pendiam dan penyendiri;
☑️Tidak lagi tertarik menyalurkan hobi atau tidak tertarik untuk melakukan aktivitas positif;
☑️Mata terlihat sayu dan merah;
☑️Penurunan prestasi di sekolah atau kampus;
☑️Daya ingat berkurang dan perubahan gaya bicara; dll.

Selidik punya selidik nih kalau levelnya sudah pada addict alias ketagihan, bisa melakukan apa aja loh. Mulai dari aktivitas mencuri duit orang tuanya, sampai kejahatan yang lebih gila dari itu. Jadi, sangat pantas kalau mereka disebut akalnya ghosting kan?

Tapi kok masih banyak ya yang melakukan? Padahal sudah ada badan khusus antinarkoba untuk menangani masalah ini. Tapi ya nyatanya tetap saja ada penikmat dan pecandunya. Persis, kayak rokok, meski sudah dikasih warning di bungkusnya, “merokok membunuhmu,” tapi tetap saja banyak yang tidak takut dampak atau akibat bahaya rokok. Kalau ditanya kepada perusahaannya, jawaban simpelnya sih, pakai prinsip ekonomi, ada supply ada demand, alias pengadaan itu ada karena permintaan. Artinya, memang ada yang minta, baik untuk dikonsumsi atau didistribusi. Nah ini sudah bukan menjadi rahasia lagi, kalau narkoba sudah jadi ajang bisnis, bahkan sudah sampai dibui pun masih bisa menjalankan bisnis narkoba ini.

Gimana dengan miras dong yang sama-sama bikin ghosting akal? Walaupun tingkatan miras masih di bawah narkoba, bukan berarti miras maupun minol lebih enteng dampaknya. Nggak ada toleransi untuk hal yang membahayakan akal manusia. Kalau narkoba dilarang harusnya miras juga dilarang. Tapi kalau demand alias permintaan, apalagi dikasih fasilitas tidak ada pengaruhnya larangan tadi.

Kita sudah dikasih tahu bahaya rokok, narkoba, hingga miras, tapi kalau di supermarket atau warung-warung tertentu menyediakan rokok atau miras, itu sama saja kayak orang tua melarang anaknya ngerokok, tapi bapaknya merokok di depan anaknya. Itu menunjukkan betapa tidak seriusnya penanganan masalah narkoba, miras dan sejenisnya, yang bisa berpotensi menghilangkan akal manusia.

Jadi miras tetap saja bahaya bin haram. Sebahaya apa? Masih menurut P2PTM Kemenkes RI, dampak negatif miras, di antaranya:

(1) Menyebabkan kerusakan saraf;
(2) Menyebabkan gangguan jantung;
(3) Mengganggu sistem metabolisme tubuh;
(4) Mengganggu system reproduksi;
(5) Menurunkan kecerdasan;
(6) Mengganggu fungsi hati;
(7)Menyebabkan tekanan darah tinggi, dll.

Terus harus gimana dong? Tentu kita harus lihat pada pedoman kita dalam kehidupan, yaitu agama kita, Islam. Bukan Islam kalau tak lengkap hukumnya, bukan Islam kalau tak mengandung rahmat dari aturan syariatnya. Kita harus jauh-jauh sama yang namanya hilang akal.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan.” (QS. An Nisa : 43)

“Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kalian lantaran (meminum) khamar dan berjudi, dan menghalangi kalian dari mengingat Allah dan shalat, maka berhentilah kalian (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (QS al-Ma’idah: 91)

Jadi, biar kita jauh dari zona akal ghosting, maka kita harus jauh dari zona pertemanan pengkonsumsi miras dan sebagai lawannya, kita harus berkumpul di komunitas-komunitas yang positif, yang mengajak kita kepada kebaikan dan menjaga kita selalu baik. Sering-seringlah hadir di kajian Islam dan saling mengingatkan.

Terus jangan lupa akal atau otak ini biar nggak tumpul harus terus diasah, otak kita harus produktif agar dijauhkan dari segala kesia-siaan. Nah, Mari jaga kewarasan akal kita biar tidak ghosting Islam, ya hanya dengan Islam, bukan yang lain. Allahu Akbar!

Artikulli paraprakIslam dan Ujung Tombak Peradaban
Artikulli tjetërMeraih Kejayaan dengan Islam Kaffah, Bukan Islam Tengah-tengah
Visi : Menjadi media yang berperan utama dalam membangun kesadaran umat tentang fakta kebutuhan mengembalikan kehidupan Islam. Semua isi berupa teks, gambar, dan segala bentuk grafis di situs ini hanya sebagai informasi. Kami berupaya keras menampilkan isi seakurat mungkin, tetapi Linimasanews.com dan semua mitra penyedia isi, termasuk pengelola konsultasi tidak bertanggungjawab atas segala kesalahan dan keterlambatan memperbarui data atau informasi, atau segala kerugian yang timbul karena tindakan berkaitan penggunaan informasi yang disajikan. Linimasanews.com tidak bertanggungjawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis yang dihasilkan dan disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik “publik” seperti Opini, Suara Pembaca, Ipteng, Reportase dan lainnya. Namun demikian, Linimasanews.com berhak mengatur dan menyunting isi dari pembaca atau pengguna agar tidak merugikan orang lain, lembaga, ataupun badan tertentu serta menjauhi isi berbau pornografi atau menyinggung sentimen suku, agama dan ras. Segala isi baik berupa teks, gambar, suara dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Linimasanews.com. Semua hasil karya yang dimuat di Linimasa news.com baik berupa teks, gambar serta segala bentuk grafis adalah menjadi hak cipta Linimasanews.com Misi : * Menampilkan dan menyalurkan informasi terbaru, aktual dan faktual yang bersifat edukatif, Inspiratif, inovatif dan memotivasi. * Mewadahi bakat dan/atau minat sahabat lini masa untuk turut berkontribusi membangun kesadaran umat tentang fakta kebutuhannya mengembalikan kehidupan Islam melalui literasi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini