Harga Kedelai Melejit, Perajin Tempe Menjerit

0
18

Suara Pembaca

Harga kedelai kembali melonjak. Dari kisaran Rp6.100-6.500/kg meningkat jadi Rp9.500/kg. Imbasnya pada 1-3 Januari 2021 sekitar 160 ribu pengrajin tahu dan tempe mogok produksi karena pasokan kedelai sebagai bahan baku tahu dan tempe langka di pasaran (3/1).

Saat ini para perajin tahu dan tempe mengandalkan kedelai impor sebagai bahan pokok produksinya. Sebab produksi kedelai di Indonesia belum bisa memenuhi kebutuhan kedelai dalam negeri. Sepanjang 2020, total impor kedelai diperkirakan mencapai 7,2 juta ton. Hal ini menunjukkan bahwa ketergantungan Indonesia terhadap kedelai impor tinggi.

Padahal bahan pangan yang berasal dari impor sangat rentan terhadap gejolak harga komoditas pangan dunia. Hal ini berdampak pada pengusaha tahu tempe bahkan berdampak langsung pada petani kedelai lokal. Selain itu, stok pangan impor sangat mudah dimasuki campur tangan para kartel impor yang menyebabkan lonjakan harga bahan pangan, tak terkecuali kedelai.

Jika melihat keunggulan negara Indonesia yang memiliki lahan yang subur dan luas, faktor agroklimatologi mendukung, bahkan tersedia pula SDM pakar dan ahli yang banyak, seharusnya mampu menjadikan negeri ini mandiri pangan. Hanya saja, jeratan sistem politik global yang neoliberal memaksa negara untuk bergantung pada bahan pangan negara lain. Akibatnya negara kehilangan visi kemandirian. 

Untuk itu, seharusnya pemerintah melepaskan diri dari sistem tersebut dan menghentikan ketergantungan pada impor. Dengan begitu, negara akan mampu mewujudkan kedaulatan dan ketahanan pangan. Namun, semua itu akan bisa terealisasi jika negara menerapkan sistem politik Islam, yakni khilafah.

Ainun Istiharoh 
Musi Banyuasin 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini