Hujan di Musim Kemarau

0
131

Oleh: Afiyah Rasyad

Syahdan, ada bidadari mandi kala sinar matahari ditemani guyuran hujan. Mitos itu begitu akrab dengan dongeng masa kecil. Siang itu, riuh kaki berlarian menuju tempat jemuran. Semua berhamburan keluar menyelamatkan jemuran yang telah dominan kering. Sayang beribu sayang, hujan deras langsung datang, jemuran pun basah kuyup tak terselamatkan.

“Allahumma shoyyiban nafi’an!” doa ketika hujan turun terlontar dari para mahasiswi itu.

“Bangsat!”

Makian kasar lolos dari lisan mahasiswi berusia 22 tahun. Wajahnya masih dihiasi tetesan bening hujan. Umpatan kasarnya mengundang tolehan dari mahasiswi lain. Rasa heran menghiasi wajah mereka. Bukan sekali mereka dengar umpatan kasar, hampir setiap momen umpatan itu terlontar dari lisan perempuan tingkat akhir yang baru pindah ke kos mereka.

Umpatan dan makian kerap menyapa telinga anak kos salsabila. Sungguh, umpatan dan makian yang fasih dilafalkan sangat mengganggu hati dan akal penghuni kos itu. Mereka sangat tidak terbiasa dengan perkataan buruk dan kotor. Selama ini, kos salsabila selalu aman dari kata kotor meski kadang ada pertentangan antar penghuni kos. Mereka tetap menjaga adab meski terkadang berselisih pendapat. Mereka mengedepankan akhlak meski mereka bukan lulusan pesantren ternama.

Pergelangan tangan Almira urung menepuk pundak Gea. Tangannya digenggam erat oleh Amoy yang ada di samping kanannya. Gadis seputih salju itu berhasil menenangkan Almira agar tidak mencari gara-gara dengan Gea. Amoy pun terganggu dengan umpatan yang selalu diucapkan Gea, namun Amoy selalu mencari momen yang tepat untuk mengingatkannya.

Hujan sepertinya enggan berlalu. Hampir empat jam airnya turun tiada henti. Sementara sinar matahari menerobos di sela-sela rinai hujan.

“Hujan di tengah musim kemarau ini kehendak Allah. Sebentar lagi mungkin kita akan menyaksikan pelangi,” Zia berceloteh sambil minum teh.

“Hu umh, jadi terkenang puisi Hujan di Bulan Juni. Kemarau malah hujan. Ah, alam tentu saja tunduk pada Allah secara total,” Amoy menimpali.

“Iyalah! Kita harus bersyukur. Hujan ini pembawa rahmat,” Almira ikut bergabung.

Usai salat asar, para penghuni kos sibuk bersantai. Mereka sering memilih bercengkrama sambil diskusi ringan meski terkadang diakhiri perseteruan.

“Betul, Al. Rahmat Allah yang kita harapkan. Ketika rahmat berupa hujan, ya kita harus sambut dengan hati riang, tho?” Hilda ikutan nimbrung sambil membawa sepiring kacang rebus.

“MasyaAllah, apalagi hujan begini disuguhi kacang rebus. Ya ndak nolak, tho?” Almira menekankan kata “tho”. Dia meniru Hilda yang selalu membawa kata “tho” di akhir perkataannya.

Senyum penghuni kos terukir di bibir masing-masing. Hujan masih merajai bumi yang kerontang. Para penghuni kos kian dalam bercengkrama ditemani sepiring kacang.

“Makasih, Hilda! Kau selalu baik pada kami. Jangan lupa teman-teman! Khawatirnya kacang lupa sama kulitnya, kita makan kacang sekalian kulitnya,” Amoy mulai berseloroh.

Derai tawa langsung bergema di ruang santai itu. Suara tawa mereka menyaingi hujan yang terus mengguyur bumi. Mereka larut dalam diskusi.

“Anj*ng! Keparat, lu!”

Diskusi seketika berhenti. Lantunan istighfar langsung meluncur dari lisan mereka. Umpatan itu entah ditujukan pada siapa. Tatapan penghuni kos salsabila hanya pada satu titik, ruang tamu. Di sanalah Gea sejak tadi menyendiri, kini dia mengumpat pada seseorang di ujung handponenya.

“Sialan lu! Gua udah ngerelain segalanya. Lu malah enak-enak pesiar sama tante girang itu. Lu pikir gua bakal diam?”

Nada penuh ancaman membius siapa pun yang ada di ruang santai. Tak ada satu pun suara yang masuk ke telinga mereka. Suara Gea mendominasi pendengaran mereka. Sederet kata kotor terangkai dalam busuknya komunikasi Gea. Almira sampai merah wajahnya mendengar kata-kata buruk itu. Dia memilih masuk kamar.

Tinggal Amoy dan Hilda yang di ruang santai. Mereka menanti Gea selesai berbincang asam dengan orang di seberang. Mereka merasa bersalah karena telah menerima Gea yang tampaknya baik dan akan berubah.

“Tolonglah! Gua mau ngaji, gua mau hijrah.”

Amoy teringat empat bulan lalu saat Gea minta kos di salsabila. Hampir semua menolak kedatangan Gea, hanya Hilda yang mendukung Amoy menerima Gea yang katanya mau hijrah. Namun, bubur telah basi, Gea tidak berubah sama sekali. Malah, beberapa kali dia pulang larut malam, bahkan dini hari. Dia menolak kajian intensif yang menjadi aturan kos salsabila. Amoy harus mendudukkannya.

“Eh, ngapain kalian di sini? Nguping?” Gea menatap Hilda dan Amoy sinis.

“Sorry, gua kagak nguping. Lu aja yang banter kayak knalpot rombeng kalau ngomong,” Amoy mengikuti gaya ngomong Gea.

Gea mengernyitkan dahi. Baru sekarang dia mendengar Amoy berbicara sedatar dan setegas itu. Padahal, dia mengenal Amoy selalu ramah saat bertutur. Dia melihat aura Amoy berbeda.

“Mau kayak knalpot rombeng kek, knalpot bocor kek, masalah buat lu?” Gea mencoba menyingkirkan kegusaran hatinya.

“Masalah buat aku juga. Kata-kata kotormu sangat mengganggu. Kamu ndak risih, tho?” Hilda angkat suara.

“Hah, keroyokan.”

Hilda akhirnya mengeluarkan seluruh uneg-uneg yang tertimbun di hatinya. Dia jelaskan penyesalannya telah menyuruh Amoy menerima Gea di kos salsabila. Demi mendengar i’tikat baik Gea yang hendak hijrah. Hilda menjelaskan tanpa ada yang ditutup-tutupi.

Hilda mengingatkan Gea pada tujuannya di kos ini. Dia juga mempertanyakan kenapa Gea ingkar untuk ikut kajian Islam kafah. Hilda menjabarkan betapa orang-orang munafik itu tempatnya kelak di neraka.

“Sudah ceramahnya? Sebelum hijrah gua mau menyelesaikan misi lain. Gua capek, mau istirahat. Sudah kan ceramahnya?” ucap Gea sambil ngeloyor cuek.

“Gua minta baek-baek, lu lebih baek keluar dari kos ini!” Amoy mengusir tanpa tedeng aling-aling.

“Gua kagak mau. Mau apa lu pada?” Gea berang tahu dirinya diusir.

Selama ini Amoy sudah cukup bersabar pada Gea. Dia selalu menasihatinya untuk tidak berkata kotor dan tercela. Namun, nasihatnya tak disambut baik oleh Gea. Dia mengingatkan Gea akan hakikat hidup seorang muslim. Dari mana ia berasal, untuk apa, dan hendak ke mana? Semua sudah Amoy kupas di hadapan Gea. Dia tak jemu mengingatkan pentingnya berihsanul amal, dimana setiap perbuatan harus memenuhi dua syarat, yakni benar menurut syariat dan dilakukan ikhlas karena Allah. Justru Gea semakin berulah. Dia terang-terangan memakai baju minim bahan dan terus mengumpat di depan teman-temannya.

“Gua mau lu keluar dari kosan ini!”

Muka datar Amoy memerah. Dirinya terbakar amarah melihat reaksi Gea yang sungguh mencari masalah. Benar kata Almira, Gea tipe ular sanca, licin dan beracun. Hilda waspada dengan tatapan berang Gea. Netranya mengekor gesture tubuh Gea yang mulai tampak mencurigakan.

“Menunduk!” Hilda menarik Amoy menunduk.

“Prang…” suara pecahan vas bunga besar menghantap pintu kamar Firsya. Suaranya mengundang para penghuni kamar keluar. Kalimat istirja’ dan hauqolah dilafazkan Amoy, Hilda, dan penghuni kos lainnya.

Hilda begitu jeli memperhatikan Gea. Tangannya sigap membawa Amoy merapat ke dinding. Ada tiga batang jarum tertancap di pigura. Hilda tak menyangka, urusannya segenting ini. Ini bukan duel fisik, tapi senjata tersembunyi. Wajah Amoy tampak tenang saja. Sementara Hilda mulai mengucurkan keringat dingin. Deras hujan semakin menusuk tulang.

“Tenang, ya Ukhti!” Amoy menenangkan Hilda.

Amoy mengangguk pada Hilda dan mengisyaratkan diam. Tanpa ba bi bu, Amoy mendekati Gea cepat. Hilda memekik tertahan. Gea yang tidak menyangka akan didatangi musuh langsung pecah konsentrasinya. Dalam sekali sentuh, tujuh batang jarum berdenting di lantai. Jari dapa Amoy tepat menusuk urat di leher Gea.

“Lu datang di mari dengan i’tikat baek. Kami pun nerima elu baek-baek. Eh malah lu ingkar janji. Gua ingetin lu untuk tobat, malah lu menjerumuskan diri ke kubangan maksiat. Ketika diingetin baek-baek, lu kagak terima. Gua minta, lu angkat kaki dari kosan ini dan jangan macam-macam sama penghuni kos ini!”

Intonasi Amoy penuh penekanan, nadanya lambat, namun berpengaruh. Gea mengelus lehernya yang begitu panas dan nyeri. Dengan berat hati dia membereskan kamarnya. Dia jera telah meremehkan Amoy. Dia keluar dari salsabila diantar Amoy dan Hilda tanpa pamitan pada penghuni lainnya. Mobil Gea melaju membelah aliran hujan di musim kemarau.

Artikulli paraprakSetan Adalah Musuh yang Nyata
Artikulli tjetërKedunguan Berpikir
Visi : Menjadi media yang berperan utama dalam membangun kesadaran umat tentang fakta kebutuhan mengembalikan kehidupan Islam. Semua isi berupa teks, gambar, dan segala bentuk grafis di situs ini hanya sebagai informasi. Kami berupaya keras menampilkan isi seakurat mungkin, tetapi Linimasanews.com dan semua mitra penyedia isi, termasuk pengelola konsultasi tidak bertanggungjawab atas segala kesalahan dan keterlambatan memperbarui data atau informasi, atau segala kerugian yang timbul karena tindakan berkaitan penggunaan informasi yang disajikan. Linimasanews.com tidak bertanggungjawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis yang dihasilkan dan disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik “publik” seperti Opini, Suara Pembaca, Ipteng, Reportase dan lainnya. Namun demikian, Linimasanews.com berhak mengatur dan menyunting isi dari pembaca atau pengguna agar tidak merugikan orang lain, lembaga, ataupun badan tertentu serta menjauhi isi berbau pornografi atau menyinggung sentimen suku, agama dan ras. Segala isi baik berupa teks, gambar, suara dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Linimasanews.com. Semua hasil karya yang dimuat di Linimasa news.com baik berupa teks, gambar serta segala bentuk grafis adalah menjadi hak cipta Linimasanews.com Misi : * Menampilkan dan menyalurkan informasi terbaru, aktual dan faktual yang bersifat edukatif, Inspiratif, inovatif dan memotivasi. * Mewadahi bakat dan/atau minat sahabat lini masa untuk turut berkontribusi membangun kesadaran umat tentang fakta kebutuhannya mengembalikan kehidupan Islam melalui literasi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini