Hukum Kebiri untuk Predator Anak, Solusikah?

0
9

Oleh: Fithry Assyahidah

Linimasanews.com- Belum lama ini, Presiden Joko Widodo menandatangani Peraturan Pemerintah (PP) tentang hukuman kebiri, PP No 70 Tahun 2020 (viva.co, 3/1/2021). Kebiri dianggap sanksi tertinggi dan pemberatan sanksi yang efektif untuk hentikan predator seksual.

PP tersebut memuat tata cara pelaksanaan tindakan kebiri kimia. Dilakukan pemasangan alat pendeteksi elektronik, rehabilitasi, dan pengumuman identitas pelaku kekerasan seksual pada anak. Adapun alasan pemerintah di balik PP ini dikeluarkan adalah untuk menekan dan mengatasi kekerasan seksual pada anak, juga memberi efek jera terhadap predator seksual anak.

Pelaku yang dihukum kebiri kimia akan diberi pil atau suntikan berisi zat kimia antiandrogen. Dengan menurunnya hormon androgen dan testoteron, gairah seksual pelaku pun akan menurun.

Pro kontra kemudian datang dari beberapa pihak. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) berharap PP ini dapat memberikan efek jera bagi para pelaku. Deputi Perlindungan Anak Kemen PPPA, Nahar, mengatakan kekerasan seksual terhadap anak harus ditangani secara luar biasa. Salah satunya dengan kebiri kimia terhadap para pelaku yang dinilai telah merusak masa depan bangsa Indonesia (kompas.com, 4/1/2021).

Namun di pihak lain, Direktur Eksekutif Institute for Criminal Justice Reform (ICJR), Erasmus A.T. Napitupulu, menyebut PP ini memuat banyak masalah. Seperti tidak detail dalam mekanisme pengawasan, pelaksanaan, dan pendanaannya (bbc.com, 4/1/2021).

Sementara itu, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) belum bersikap dan mengaku bakal mencari jalan tengah merespons terbitnya PP ini. Ketua Biro Hukum Pembinaan dan Pembelaan Anggota (BHP2A) IDI, Nazar, mengaku heran ada aturan yang mengatur dokter menjadi pelaksana tindakan kebiri kimia. Sebab, terang dia, perlakuan itu bertentangan dengan kode etik dan sumpah dokter (cnnindonesia.com, 5/1/2021).

Kebiri Berisiko Tinggi

Menjadi lumrah dalam demokrasi, menyelesaikan masalah dengan melahirkan masalah baru. Ketika mencari solusi selalu tidak melihat apa akar masalah yang sebenarnya. Apalagi menganggap kebiri merupakan cara paling efektif untuk melindungi publik dari kejahatan seksual pada anak, padahal ada risiko bagi penerima hukuman tersebut.

Seperti yang diungkapkan oleh Don Grubin, profesor psikiatri forensik di Universitas Newcastle, Inggris, terdapat efek samping yang berisiko bagi pelaku (penerima obat) yang digunakan pada hukuman ini, yaitu pengapuran tulang atau osteoporosis, perubahan pada kesehatan jantung, kadar lemak darah, tekanan darah, dan gejala yang menyerupai menopause pada perempuan. Beberapa negara pun telah mencabut hukuman tersebut.

Seksolog, dr. Boyke Dian Nugraha menjelaskan dampak yang bisa ditimbulkan akibat suntik kebiri kimiawi. Ketika zat tersebut masuk ke dalam darah, dampaknya sebenarnya tergantung dari sensitifitas tubuh manusia itu sendiri. Efek samping secara umumnya adalah karakter tubuh yang menyerupai perempuan. Dampaknya bulu-bulunya rontok, bulu kaki tanganya rontok, janggutnya rontok, disusul dengan kulit menjadi halus, dan terjadi ginekomastia (payudara laki-laki tumbuh besar menyerupai perempuan). Bahkan Beliau menuturkan bahwa dampak psikologis yang berefek adalah perubahan dari laki-laki yang jantan dan tidak ada kemauan karena agresifnya berkurang. Suaranya pun seperti perempuan. Memikirkan perubahan yang terjadi pada dirinya bisa berakibat pada depresi, sehingga keputusan untuk bunuh diri (Okezone.com).

Penyebab Aksi Kekerasan Seksual Anak

Jika kita tela’ah lebih dalam, aksi predator seksual bukan hanya dipicu oleh hormon seksualitas sehingga solusinya harus dikebiri. Melainkan sebenarnya disebabkan oleh banyak faktor, di antaranya minimnya iman individu, gaya hidup sekuler yang jauh dari Islam, pemikiran liberal yang memuja kebebasan berekspresi, ekonomi kapitalis yang mencekik,serta sanksi ringan tak sesuai syariat yang diberikan selama ini.

Belum lagi konten porno begitu mudahnya didapatkan dan bisa dikonsumsi kapan saja dan di mana saja. Pendidikan di keluarga dan pelajaran di sekolah pun gagal menghasilkan iman yang kokoh karena kurikulumnya yang berbasis kapital. Apalagi masih banyak kaum perempuan yang membuka aurat di mana-mana. Di tambah lagi miras dan narkoba yang kerap kali mudah didapatkan. Semakin lengkap pemicu tindakan kekerasan seksual anak terjadi.

Hal ini karena penerapan sistem sekuler kapitalis, memisahkan aturan agama dari kehidupan. Walhasil, negara tidak tegas terhadap media dan bisnis porno. Negara pun abai dalam mengatur pakaian perempuan yang menutup aurat, dengan anggapan hal itu bertentangan dengan HAM dan liberalisme.

Negara juga gagal memberikan rasa aman dan sanksi yang memberikan efek jera. Wajar jika predator-predator anak terus bermunculan. Karena pelakunya sering kali pemain lama yang sudah masuk penjara.

Cara Islam Akhiri Predator Anak

Islam memandang bahwa kebiri hukumnya haram. Hal ini berdasarkan hadis Ibnu Mas’ud RA yang mengatakan, “Dahulu kami pernah berperang bersama Nabi SAW sedang kami tidak bersama istri-istri. Lalu, kami bertanya kepada Nabi SAW, ‘Bolehkah kami melakukan pengebirian?’. Maka Nabi SAW melarangnya.” (HR Bukhari, Muslim, Ahmad, dan Ibnu Hibban)

Selain itu, kebiri haram karena seperti yang dipaparkan penulis diatas terkait pernyataan dr. Boyke, bahwa laki-laki yang mendapatkan hukuman ini akan berubah dan memiliki ciri-ciri fisik seperti perempuan. Padahal, syariat Islam jelas mengharamkan laki-laki menyerupai perempuan atau sebaliknya. Sebagaimana sabda Nabi SAW dari Ibnu Abbas RA:
“Rasulullah SAW telah melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan melaknat wanita yang menyerupai laki-laki.” (HR Bukhari)

Syariat Islam juga telah menetapkan hukuman untuk predator anak sesuai perincian fakta perbuatannya. Tidak boleh melaksanakan jenis hukuman di luar ketentuan syariat itu sendiri. Jika yang dilakukan adalah perbuatan zina, hukumannya adalah hukuman untuk pezina, yaitu dirajam jika sudah muhshan (menikah) atau dicambuk seratus kali jika bukan muhshan.

Jika yang dilakukan adalah sodomi (liwath), hukumannya adalah hukuman mati. Jika yang dilakukan adalah pelecehan seksual (at taharusy al jinsi) yang tidak sampai pada perbuatan zina atau homoseksual, hukumannya ta’zir. Perlu dipahami bahwa pemberatan hukuman tidak cukup untuk mengatasi berulangnya kasus-kasus kekerasan seksual anak tanpa peran negara yang menerapkan aturan yang komprehensif.

Dalam Islam, negara menjadi panglima dalam mewujudkan sistem perlindungan anak. Negara tidak akan mengandalkan penyelesaian kekerasan seksual anak pada keluarga dan masyarakat semata. Melainkan negara akan mengeluarkan sejumlah kebijakan tegas, seperti menutup akses semua konten porno, melarang perilaku porno, mewajibkan menutup aurat keluar rumah, dan melarang semua bisnis dan media porno serta pelacuran. Sebab semua itu merupakan keharaman, mengundang azab Allah dan terbukti menghasilkan  kerusakan berupa maraknya kekerasan seksual anak.

Selain itu, negara juga menutup bisnis miras dan mengatasi peredaran narkoba, karena dua benda haram tersebut sering menjadi pemicu kekerasan termasuk pada anak. Begitu juga dengan sistem pendidikan, negara akan mengaturnya sesuai aturan Islam, agar mampu menghasilkan pribadi takwa yang tidak menghalalkan segala cara untuk memuaskan nafsunya.

Di samping itu, negara juga berperan mengentaskan kemiskinan dan memampukan keluarga mendidik anak dengan baik sesuai tuntunan Islam.

Pemberlakuan Sistem Islam Solusinya

Semakin banyak dan sadisnya kekerasan seksual anak mengindikasikan terjadi problem sistemis. Kasus-kasus yang terjadi tidak semata dikarenakan faktor tunggal individu-individu penjahat, melainkan menyangkut tata nilai dan aturan yang diterapkan.

Penyelesaiannya pun harus menyentuh perubahan sistemis, perubahan integral. Tidak cukup dengan menangkap pelaku dan memberi hukuman sekeras-kerasnya saja. Melainkan harus menyuntikkan tata nilai Islam di tengah masyarakat bukan liberalisme.

Pemberlakuan sistem Islam secara kaffah adalah solusinya. Baik berupa penerapan sistem ekonomi Islam yang menghasilkan kesejahteraan dan mengentaskan kemiskinan. Juga sistem ijtimaiy yang menghasilkan individu-individu bertakwa dan beradab ketika berinteraksi dengan sesamanya. Jauh dari pelecehan apalagi kekerasan dan penyimpangan seksual.

Hanya khilafah yang mampu mewujudkan semuanya. Karena Khilafah akan menegakkan seluruh aturan Allah. Khilafah pula yang akan mengerahkan segenap kemampuan untuk memberikan riayah dan himayah (pengaturan, pengayoman, dan perlindungan). Khilafah tidak akan membiarkan satu anak pun mengalami kekerasan dan menghentikan lahirnya predator-predator baru.
Wallahu A’lam Bissawab

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini