Istri, Sahabat di Jalan Dakwah, Penyejuk di Kala Gundah

0
302

Oleh: Erni Susanti

Setegar apa pun suami sebagai kepala rumah tangga, tetap perlu dipahami bahwa dia adalah manusia. Kekuatan dan kemampuannya tetap memiliki batas. Sebagai makhluk, dia pasti memerlukan keberadaan makhluk lainnya. Maka untuk menjaga pilar kepemimpinannya tetap kokoh, kitalah sebagai istri yang bisa membantu menopangnya. Karena kita adalah orang yang paling dekat dengannya, laksana pakaian yang menempel di tubuhnya.

Apalagi bagi pasangan yang telah berkomitmen untuk bersama di jalan dakwah. Samudera rumah tangga yang diarungi akan terasa lebih berombak. Agar tetap bertahan di tengah badai kehidupan, maka sebagai tim kita harus saling menguatkan, bukan saling menuntut atau menyalahkan ketika terdapat permasalahan dalam rumah tangga.

Sebuah keniscayaan bahwa jalan dakwah adalah jalan yang penuh onak dan duri. Karena memang hanya orang-orang terpilihlah yang akan kuat menjalaninya. Sebagai suami istri sudah selayaknya untuk saling berpegangan agar langkahnya tak keluar dari jalan Islam. Bahkan, kebersamaannya harus diupayakan hingga sampai di surga.

Meski pada praktiknya tidak mudah, tapi sebagai istri kita harus berusaha menjadi tempat yang paling dirindukan bagi suami. Menjadi tempat istirahat dari lelahnya mencari nafkah, istirahat dari banyaknya agenda dakwah. Karena, ke mana lagi suami bermuara kalau bukan ke rumah?

Betul, betul sekali. Lelahnya kita mengurusi urusan rumah tangga telah menguras banyak tenaga. Kedatangan suami adalah harapan agar kita bisa beristirahat sebentar saja atau bahkan turut menuntaskan pekerjaan rumah yang seakan tiada akhirnya. Namun, ingatlah, sejenak saja sesaat dia datang, sambutlah dengan senyuman. Mungkin itu bisa menghapus luka yang dia dapatkan ketika sedang bekerja.

Kisah luar biasa telah dicontohkan oleh Ummu Sulaim, shahabiyah yang terkenal paling mulia mahar pernikahannya. Ketika hendak mengabarkan berita duka kepada suaminya yang baru datang ke rumah, Ummu Sulaim tetap melayaninya dengan tenang terlebih dahulu. Berhias dan membuatnya kenyang. Kemudian dengan kata-kata yang penuh tawakal barulah kabar dukanya disampaikan.

Kisah yang akan selalu terpatri, sebagai teladan untuk kita ikuti adalah bagaimana Ummul Mukminin Khadijah mendampingi dakwah Rasulullah. Ketika Rasulullah baru pertama kali mendapatkan wahyu, Beliau pulang dalam keadaan menggigil dan berkeringat. Tapi Khadijah dengan tenang hanya menuruti keinginan Rasulullah untuk diselimuti. Tanpa banyak bertanya atau berspekulasi.

Ketika kondisi umat Islam hari ini terasa begitu disudutkan, hadangan musuh selalu didapatkan, kita bisa melihat kembali bagaimana Khadijah tetap setia menemani dakwah Rasulullah di Makkah. Pada masa sulit pemboikotan, Khadijah tetap mendukung dakwah Rasulullah, padahal bukankah kita tahu bahwa Khadijah sebelumnya hidup dalam kecukupan? Sungguh begitu mulia dan luar biasa sikap Khadijah hingga menjadikan Rasulullah selalu menyebut-nyebutnya meski dia telah lama meninggal dunia.

Kita memang tak sempurna dan banyak kekurangan. Namun, setidaknya kita tetap berusaha menjadi yang terbaik di hadapannya, menjadi tempat yang paling dirindukan ketika sedang berjauhan. Kita siap berada di sampingnya saat senang ataupun susah, tak banyak mengeluh dan tetap sabar berada di jalan dakwah yang butuh pengorbanan.

Suami memang pemimpin tempat kita mengadukan segala permasalahan rumah tangga. Tapi jangan lupa, bahwa suami kita adalah manusia biasa. Ada saatnya kita yang harus memasang telinga mendengar ceritanya. Ada saatnya kita harus menghiburnya. Segala upaya yang bisa kita lakukan untuk mengokohkan kepemimpinannya, menguatkannya untuk menjadi tangguh menjalani jalan dakwah ini. Sebagaimana isyarat Allah dalam firman-Nya:

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.” (Qs Ar-Rum: 21)

Begitulah, adanya kita untuk suami, Allah isyaratkan agar kita mampu memberinya ketenteraman. Karakter seorang wanita yang lembut bukan berarti lemah, tapi merupakan hikmah agar kita bisa berkhidmat dengan mudah. Memberinya sentuhan yang menenangkan juga senyuman yang membahagiakan. Semoga kita senantiasa dimudahkan oleh Allah untuk selalu menjadi sahabat bagi suami mengarungi jalan dakwah ini dan menjadi penyejuk di kala dia gundah. Aamiin.

Artikulli paraprakMenulis Sebagai Wujud Syukurku
Artikulli tjetërRekonstruksi Diskusi tentang Khilafah
Visi : Menjadi media yang berperan utama dalam membangun kesadaran umat tentang fakta kebutuhan mengembalikan kehidupan Islam. Semua isi berupa teks, gambar, dan segala bentuk grafis di situs ini hanya sebagai informasi. Kami berupaya keras menampilkan isi seakurat mungkin, tetapi Linimasanews.com dan semua mitra penyedia isi, termasuk pengelola konsultasi tidak bertanggungjawab atas segala kesalahan dan keterlambatan memperbarui data atau informasi, atau segala kerugian yang timbul karena tindakan berkaitan penggunaan informasi yang disajikan. Linimasanews.com tidak bertanggungjawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis yang dihasilkan dan disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik “publik” seperti Opini, Suara Pembaca, Ipteng, Reportase dan lainnya. Namun demikian, Linimasanews.com berhak mengatur dan menyunting isi dari pembaca atau pengguna agar tidak merugikan orang lain, lembaga, ataupun badan tertentu serta menjauhi isi berbau pornografi atau menyinggung sentimen suku, agama dan ras. Segala isi baik berupa teks, gambar, suara dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Linimasanews.com. Semua hasil karya yang dimuat di Linimasa news.com baik berupa teks, gambar serta segala bentuk grafis adalah menjadi hak cipta Linimasanews.com Misi : * Menampilkan dan menyalurkan informasi terbaru, aktual dan faktual yang bersifat edukatif, Inspiratif, inovatif dan memotivasi. * Mewadahi bakat dan/atau minat sahabat lini masa untuk turut berkontribusi membangun kesadaran umat tentang fakta kebutuhannya mengembalikan kehidupan Islam melalui literasi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini