Kapitalisme Gagal Menjamin Nyawa Rakyat

0
7

Oleh: Ageng Kartika, S.Farm. (Pemerhati Sosial)

Linimasanews.com- Hampir setahun pandemi Covid-19 ini. Berbagai kasus baru terus bermunculan seiring dengan meningkatnya jumlah terkonfirmasi positif, jumlah yang sembuh dan jumlah kematian. Menjadi sorotan ketika angka kematian karena Covid-19 ini tinggi untuk tenaga medis dan kesehatan (nakes) yang merupakan garda terdepan dalam penanganan di bidang kesehatan.

Indonesia tercatat sebagai negara dengan angka kematian tenaga medis dan kesehatan (nakes) tertinggi di Asia. Dan masuk lima besar di dunia. Hal ini dijelaskan oleh ahli Mitigasi Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Adib Khumaidi. “Sejak Maret hingga akhir Desember 2020 terdapat total 504 petugas medis dan kesehatan yang wafat akibat terinfeksi Covid-19,” ujar Adib dikutip dari siaran pers PB IDI (Kompas.com, 02/01/21).

Ditengarai, kelelahan dan fasilitas yang belum maksimal untuk perlindungan para tenaga medis dan kesehatan menjadi faktor utama tingginya tingkat kematian nakes. Sebagian masyarakat yang masih abai atas anjuran protokol kesehatan (prokes) dan protokol sosial memberi kontribusi besar dalam penyebaran Covid-19 ini lebih luas.

Berdasarkan catatan hingga 28 Desember 2020, total ada 507 nakes dari 29 provinsi di Indonesia yang telah gugur karena Covid-19. Sebanyak 96 orang di antaranya meninggal dunia pada bulan Desember 2020, dan merupakan angka kematian nakes tertinggi dalam sebulan selama pandemi berlangsung di tanah air (Kompas.com, 29/12/20).

Jelas tergambar ketika masuk liburan panjang dan semakin lama pandemi terjadi maka angka kematian pun meningkat. Perlu adanya kerjasama dan ketaatan yang baik. Antara kebijakan pemerintah dalam penanggulangan pandemi ini dengan kedisiplinan masyarakat terhadap aturan yang telah ditetapkan. Pun, demikian dengan pemenuhan kebutuhan para nakes dari pemerintah harus maksimal agar mereka mampu bekerja dengan baik, aman dan tercukupi segala fasilitas yang diperlukan selama bertugas. Apalagi jumlahnya yang terus berkurang karena gugurnya para nakes ini. Semua kendala ini menjadi bukti gagalnya negara dalam menjamin perlindungan dan keselamatan para tenaga medis dan kesehatan.

Kapitalisme yang menjadi pijakan kebijakan yang diambil negara dalam penyelesaian pandemi ini menyebabkan tumpang tindih aturan yang diterapkan di tengah masyarakat. Kebijakan yang mengutamakan kepentingan para pemodal besar dengan dalih penanganan ekonomi justru menimbulkan keresahan bagi para nakes. Juga kebijakan menjadikan pariwisata dan tempat-tempat umum sebagai perbaikan ekonomi menjadi bumerang bagi penanganan Covid-19.

Bagaimana Islam menjamin pemenuhan kesehatan rakyatnya ?

Seorang pemimpin (khalifah) di dalam sistem Islam merupakan orang yang amanah dalam membuat kebijakan yang berdasarkan syariat Islam. Khalifah harus membuat aturan kebijakan yang mengutamakan nyawa rakyatnya. Apalagi di saat pandemi terjadi. Karena Islam sangat menjaga nyawa dan menganggapnya lebih berharga dibanding dunia dan seisinya.

Firman Allah Swt.:

وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَآ أَحْيَا ٱلنَّاسَ جَمِيعًا ۚ وَلَقَدْ جَآءَتْهُمْ رُسُلُنَا بِٱلْبَيِّنَٰتِ ثُمَّ إِنَّ كَثِيرًا مِّنْهُم بَعْدَ ذَٰلِكَ فِى ٱلْأَرْضِ لَمُسْرِفُونَ

“Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi.” (QS Al-Maidah, 5: 32)

Islam menetapkan jaminan pemenuhan kesehatan sebagai kebutuhan primer yang harus dipenuhi oleh negara. Khilafah akan mengadakan layanan kesehatan, sarana, dan prasarana pendukung. Dengan visi melayani kebutuhan rakyat secara menyeluruh tanpa diskriminasi. Khilafah sebagai pemimpin negara adalah penanggung jawab layanan publik. Rasulullah saw. bersabda:

“Imam adalah pemelihara dan bertanggung jawab atas rakyatnya.” (HR al-Bukhari)

Sistem pelayanan kesehatan dalam Islam terbagi dalam 3 aspek, yaitu :

Pertama, pembudayaan hidup sehat.
Rasulullah saw. telah mencontohkan kebiasaan hidup bersih dan sehat dalam kesehariannya. Hal ini menjadi suri teladan bagi kaum muslim dalam beraktivitas sehari-hari agar sesuai dengan sunnah.

Kedua, kemajuan ilmu dan teknologi kesehatan. Rasulullah saw. adalah inspirator utama dalam kemajuan dunia kesehatan. Rasulullah saw. bersabda,
“Tidak ada penyakit yang Allah ciptakan, kecuali Dia juga menciptakan cara penyembuhannya.” (HR al-Bukhari)

Pada masa kejayaan Islam banyak bermunculan penelitian-penelitian ilmiah orsinil di dunia kedokteran dan berkontribusi sangat besar bagi perkembangan dunia kedokteran.

Khilafah mendukung penuh riset kedokteran untuk kesehatan rakyat. Rakyat yang sehat adalah rakyat yang kuat, mampu berproduksi dengan mobilitasnya dan dapat memperkuat negara. Dukungan penuh anggaran negara untuk riset kedokteran merupakan investasi. Karena kelak akan menghasilkan pengobatan baru yang mampu menanggulangi kejadian luar biasa dalam bidang kesehatan. Seperti pandemi yang sekarang terjadi.

Ketiga, penyediaan infrastruktur dan fasilitas kesehatan. Pada masa kekhilafahan Islam, keutamaan kebersihan kota menjadi perhatian besar karena merupakan bentuk kesadaran akan kesehatan dari masyarakatnya. Pembangunan rumah sakit modern dengan fasilitas kesehatan yang memadai menjadi prioritas dalam penanganan kesehatan. Lalu, ditunjang dengan bebas biaya bagi pasien yang dirawat tanpa memandang status sosial. Ini merupakan bentuk jaminan kesehatan yang diberikan khilafah bagi rakyatnya.

Maka, jelas tergambar bagaimana Islam wajib menjamin kesehatan rakyatnya sebagai bentuk pemenuhan kebutuhan primer yang harus dipenuhi oleh negara. Bila di saat kondisi normal didorong untuk terus berinovasi dalam dunia kedokteran, maka ketika pandemi terjadi, negara siap dalam penanganan kesehatan secara optimal untuk melindungi keselamatan nyawa rakyatnya. Wallahua’lam.

Artikulli paraprakKunci Istikamah dalam Hijrah
Artikulli tjetërKeramat
Visi : Menjadi media yang berperan utama dalam membangun kesadaran umat tentang fakta kebutuhan mengembalikan kehidupan Islam. Misi : * Menampilkan dan menyalurkan informasi terbaru, aktual dan faktual yang bersifat edukatif, Inspiratif, inovatif dan memotivasi. * Mewadahi bakat dan/atau minat sahabat lini masa untuk turut berkontribusi membangun kesadaran umat tentang fakta kebutuhannya mengembalikan kehidupan Islam melalui literasi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini