Kasus Kalideres, Potret Buram Masyarakat Sekulerisme Kapitalisme

0
30

Oleh: Siti Zulaikha, S.Pd. (Aktivis Muslimah dan Pegiat Literasi)

Linimasanews.com—Beberapa waktu lalu, publik dikejutkan dengan berita satu keluarga yang tewas membusuk di perumahan Citra Garden 1 Extension, Kalideres, Jakarta Barat. Keluarga itu dikenal tertutup dengan warga sekitar. Keluarga itu dikenal tertutup dengan warga sekitar. Saking tertutupnya, bahkan kematian keluarga itu baru terungkap setelah tiga minggu. Setelah warga mencium aroma busuk dari dalam rumah yang berpagar tinggi itu (republika.co.id, 12/11/2022).

Teka-teki penyebab kematian satu keluarga ini masih menjadi misteri. Pihak kepolisian masih mengusut kasus ini. Kapolres Metro Jakarta Barat Kombes Pasma Royce mengatakan bahwa berdasarkan pemeriksaan Dokter Forensik keempat mayat itu telah lama tidak mendapatkan asupan makanan dan minuman, ini terlihat dari otot-ototnya yang mengecil.

Terkait hal ini, Ketua RT 07/15 Perumahan Citra Garden, Tjong Tjie Xian alias Asyung, membantahnya. Asyung menyebut keluarga ini tergolong mampu sehingga narasi soal mati kelaparan tidak bisa dibenarkan. Asyung yang lokasi rumahnya berada di depan kediaman satu keluarga tersebut tergolong tertutup dan tak pernah bersosialisasi dengan warga sekitarnya (Tribunnews.com, 13/11/2022).

Penyelidikan ini menjadi teka-teki, terlebih narasi yang berkembang keluarga tersebut tertutup dan enggan berinteraksi. Pakar psikologi forensik Reza Indragiri Amriel tidak setuju jika kasus ini mengambinghitamkan sikap antisosial dari keluarga tersebut.

Reza menuturkan, masyarakat saat ini kerap menjadikan keengganan bersosialisasi sebagai masalah. Tetapi, lupa untuk menilik bahwa mungkin saja, mereka enggan bersosialisasi ini justru sebagai akibat sehingga mereka menutup diri (republika.co.id, 12/11/2022).

Sekuler Individualistis

Sungguh, kejadian ini sangat sadis dan tragis. Keterlambatan masyarakat sekitar mengetahui tewasnya tetangga mereka sekeluarga adalah perkara miris. Bagaimana mungkin dalam jangka waktu tiga minggu tidak terjadi interaksi sama sekali dengan mereka dan tetangganya tidak menaruh curiga sedikit pun.

Pola hidup seperti ini dipengaruhi cara pandang sekularisme kapitalisme yang rusak dan merusak. Kapitalisme sekularisme menjadikan masyarakat individualis, tidak ada kepedulian kemanusiaan. Kapitalisme menganggap bahwa masyarakat terdiri dari individu-individu saja, jika urusan individu sudah terselesaikan, maka urusan masyarakat akan sejahtera dan bahagia.

Jadi, tak heran jika titik fokus perhatiannya hanya pada kepentingan individu-individu. Sementara negara juga bekerja untuk kepentingan individu-individu saja.

Kapitalisme sekularisme telah memberi celah terjadinya persepsi keliru terhadap kehidupan dan interaksi sosial di tengah masyarakat. Benarlah, tata aturan kehidupan yang tegak saat ini jauh dari aturan Zat yang menciptakan manusia sebagai makhluk sosial.

Interaksi Sosial dalam Islam

Islam adalah agama yang tidak hanya mengatur hubungan hamba dan tuhannya. Namun, Islam adalah agama yang mengatur seluruh aspek kehidupan termasuk hubungan sesama manusia (masyarakat).

Islam memandang masyarakat adalah sekumpulan orang yang memiliki perasaan, pemikiran, dan peraturan yang sama, dan di dalamnya terjadi interaksi sosial berdasarkan aturan Islam. Dalam Islam, interaksi ini tidak terbatas dengan yang sesama muslim, tetapi juga kepada tetangga yang non-Muslim.

Tidak hanya itu, Islam dengan tegas mengatur perihal adab dan tata aturan bertetangga, tidak memberi ruang bagi perilaku individualistis, karena perilaku ini mengamputasi hakikat makhluk sosial pada diri manusia. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Saw:

“Siapa pun yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya, dan siapa pun yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR Muslim)

Dari hadis di atas, jelas Islam menganjurkan kita untuk berbuat baik dan memuliakan tetangga. Memperhatikan tetangga adalah bagian dari syariat Islam. Dari Abu Dzar radhiallahu anhu, Rasulullah Saw. bersabda:

“Jika engkau memasak kuah, maka perbanyaklah airnya dan perhatikanlah tetangga-tetanggamu.” (HR Muslim)

Interaksi sosial dengan tetangga dalam Islam tidak berarti kita harus selalu kepo dan nyinyir kepada tetangga. Juga tidak lantas menabrak batas-batas kehidupan khusus (hayatul khas) tetangga kita. Ada adab bertetangga yang juga harus kita perhatikan, seperti kewajiban mengetuk pintu ketika bertamu ke rumah tetangga, juga larangan mengintip melalui jendela ketika pemilik rumah belum membukakan pintunya setelah kita mengetuknya. Allah Taala berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat. Jika kamu tidak menemui seorang pun di dalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. Dan jika dikatakan kepadamu, ‘Kembali (saja)lah,’ maka hendaklah kamu kembali. Itu bersih bagimu dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS An-Nuur: 27-28)

Islam dengan aturan yang paripurna telah menempatkan semua aspek interaksi sosial secara tepat guna sehingga tata cara kehidupan tidak salah kaprah. Maka dari itu, tindakan individualistis yang selama ini menjadi kebanggaan sistem sekuler. Dengan adanya kasus Kalideres, masihkah kita mempertahankan sistem kapitalisme sekularisme? Sudah saatnya kita beralih dari sistem kapitalisme sekularisme yang menyengsarakan dan beralih pada sistem Islam yang memberikan rahmat bagi seluruh alam.

Wallahu a’lam bishowwab.

Artikulli paraprakMaraknya Pinjaman Online, Bukti Gagalnya Sistem Kapitalisme dalam Menciptakan Kesejahteraan Rakyat
Artikulli tjetërWahai Pemuda, Lepaskanlah Dirimu dari Jeratan Kapitalisme!
Visi : Menjadi media yang berperan utama dalam membangun kesadaran umat tentang fakta kebutuhan mengembalikan kehidupan Islam. Semua isi berupa teks, gambar, dan segala bentuk grafis di situs ini hanya sebagai informasi. Kami berupaya keras menampilkan isi seakurat mungkin, tetapi Linimasanews.com dan semua mitra penyedia isi, termasuk pengelola konsultasi tidak bertanggungjawab atas segala kesalahan dan keterlambatan memperbarui data atau informasi, atau segala kerugian yang timbul karena tindakan berkaitan penggunaan informasi yang disajikan. Linimasanews.com tidak bertanggungjawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis yang dihasilkan dan disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik “publik” seperti Opini, Suara Pembaca, Ipteng, Reportase dan lainnya. Namun demikian, Linimasanews.com berhak mengatur dan menyunting isi dari pembaca atau pengguna agar tidak merugikan orang lain, lembaga, ataupun badan tertentu serta menjauhi isi berbau pornografi atau menyinggung sentimen suku, agama dan ras. Segala isi baik berupa teks, gambar, suara dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Linimasanews.com. Semua hasil karya yang dimuat di Linimasa news.com baik berupa teks, gambar serta segala bentuk grafis adalah menjadi hak cipta Linimasanews.com Misi : * Menampilkan dan menyalurkan informasi terbaru, aktual dan faktual yang bersifat edukatif, Inspiratif, inovatif dan memotivasi. * Mewadahi bakat dan/atau minat sahabat lini masa untuk turut berkontribusi membangun kesadaran umat tentang fakta kebutuhannya mengembalikan kehidupan Islam melalui literasi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini