Keluarga Sebagai Penjaga Akidah

0
6

Oleh: Dian Dini

Rumah seharusnya sebagai surga di dunia, dimana di sana tempat terciptanya keharmonisan, ketenangan dan tempat pulang bagi siapa pun. Tapi pada realitanya tidak demikian, dimana rumah tidak lagi bisa menciptakan ketenangan, bahkan di dalam rumah justru banyak kekacauan, saling tidak peduli, tidak menghargai, tidak adanya rasa percaya, bahkan rumah tidak lagi sebagai tempat pulang.

Banyak dari kita setelah melakukan rutinitas di luar, justru lebih memilih hangout dengan teman kantor, lebih memilih traveling dengan kawan dan lebih memilih menginap di luar rumah. Hal ini terjadi karena tidak adanya keimanan dalam menciptakan keluarga sebagai wujud sebuah peradaban.

Tidak hanya terjadi di negara atau di sekitar kita, di luar negeri justru kehidupan manusia jauh lebih buruk, baik dari kehidupan sosial ataupun kekeluargaan. Ketidaksadaran ini justru akan menimbulkan banyak persoalan di masa depan.

Apalagi saat ini isu radikalisme dituduhkan kepada keluarga muslim yang terikat pada Islam. Sehingga muncullah ketakutan yang mendalam ketika seseorang benar-benar taat, teguh memegang agamanya dan senantiasa berpegang pada syariat. Tuduhan yang tidak mendasar akan disematkan kepada keluarga tersebut sebagai teroris, pemecah persatuan umat, bahkan membahayakan NKRI.

Sudah sepatutnya kita sadar, bahwa keluarga adalah ruang lingkup terkecil sebagai penjaga akidah. Jika keluarga tidak punya pondasi kuat tentang bagaimana akidah dibentuk, maka wajar sekali jika banyak anak yang tumbuh dewasa dengan pemikiran sekuler. Sehingga banyak dari mereka hanya sekedar berislam karena keturunan saja, sekedar membaca Al-Qur’an dan hanya sekedar mendirikan sholat.

Ibu sebagai ummu warabbatul bait bagi anak, tempat anak pertama kali belajar mengenai kehidupan. Pembinaan pertama tentang pengenalan tauhid dan madrasah terbaik bagi kecerdasan mereka justru ternodai oleh pemahaman menyesatkan seperti feminisme. Dimana ibu lebih senang dan sibuk sebagai wanita karir dari pada mengurusi buah hatinya, bangga jika rutinitasnya lebih banyak di luar dan merasa tertindas ketika hanya sebagai ibu rumah tangga saja.

Begitu juga dengan peran ayah yang hakikatnya sebagai pemimin yang bisa mengarahkan keluarga menuju jannah, justru binggung bagaimana menahkodai sebuah kapal. Tidak sedikit kita jumpai sosok ayah yang tidak bertanggung jawab, jangankan untuk pendidikan anaknya, memberi nafkah saja tidak dilakukannya. Hal ini karena sosok ayah yang taat kepada syariat tidak melekat di masyarakat, jadi wajar sekali jika kita temui banyak perumpuan menjadi janda setelah menikah karena ditinggal suami, banyak anak menjadi yatim karena ayahnya melarikan diri.

Bagaimana mungkin sosok keluarga sakinah, mawaddah, warahmah akan terbentuk jika tidak ada syuur Islam di dalam tubuh sebuah keluarga. Sudah saatnya kita melindungi keluarga kita dari ancaman liberalis-kapitalis, dari pola pikir yang radikal yang menyudutkan umat Islam, dari feminisme yang mengakar. Jika bukan kita yang menanamkan pentingnya taat kepada Allah dan menerapkan syariat Islam kaffah, siapa lagi yang akan peduli dengan kehidupan keluarga kita.

Generasi muslim, pengubah peradaban. Di pundakmu terdapat beban untuk menerapkan Islam secara kaffah dan di tanganmu akan tercipta semua peradaban yang gemilang. Lindungilah keluargamu kuatkan pondasinya terhadap Islam karena hanya Islam yang mampu menciptakan akidah yang kuat dan mengakar. Tanpa islam sungguh tidak akan ada ketenangan di sebuah keluarga.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini