Keran Impor Garam Dibuka, Swasembada Masih Sebatas Wacana

0
75

Oleh: Tita Rahayu Sulaeman

Linimasanews.com—Pemerintah Indonesia memutuskan untuk membuka keran impor garam tahun ini sebanyak 3,07 juta ton. Keputusan ini disampaikan oleh Agus Gumiwang Kartasasmita selaku Menteri Perindustrian. Impor dilakukan karena kebutuhan garam nasional sebanyak 4,6 juta ton tidak tercukupi oleh petani garam lokal. Selain itu, kualitas garam lokal dianggap tidak memenuhi standar industri. Oleh karena itu, menurutnya, pemerintah terpaksa harus mengimpor garam untuk memenuhi kebutuhan garam nasional (Kompas.com 25/09/2021).

Petambak garam berada dalam posisi yang paling dirugikan akibat kebijakan ini. Protes telah disuarakan sejak Maret lalu. Ketua Umum Himpunan Masyarakat Petambak Garam (HMPG) Mohammad Hasan mengatakan, kuota impor 3,07 juta ton lebih besar dibandingkan tahun lalu, yaitu sebanyak 2,7 juta ton.

Sementara, stok garam dari petani dan pengolann garam yang diimpor tahun lalu masih menumpuk. Dampaknya, harga garam di pasaran anjlok karena tidak terserap oleh konsumen rumah tangga maupun industri. Menurutnya, impor garam dengan alasan kualitas garam yang rendah hanyalah pembenaran bagi importir (Kompas.com, 26/03/21).

Kebijakan impor garam tentu menjadi sebuah ironi bagi Indonesia. Indonesia yang merupakan negara kepulauan memiliki garis pantai yang panjang. Betapa banyak garam yang bisa diolah dari luasnya laut Indonesia. Namun nyatanya, swasembada garam masih sebatas wacana.

Berlimpahnya kekayaan alam Indonesia tak dimanfaatkan dengan baik oleh negara untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya sendiri. Kebijakan impor barang menjadi hal yang seolah tak terhindarkan. Tidak hanya garam, tapi juga untuk kebutuhan-kebutuhan pokok lainnya. Kualitas garam yang dianggap tidak memenuhi standar dijadikan alasan pengambilan kebijakan.

Sebetulnya, jika memang berniat untuk swasembada garam, negara semestinya mampu menyediakan teknologi yang mampu mengolah garam dengan beragam kualitas sesuai kebutuhan. Sehingga, para petani garam mampu mengoptimalkan potensi garam yang berlimpah di negeri ini. Tidak seperti saat ini, produksi garam para petambak sangat bergantung pada cuaca. Sayangnya, pemerintah lebih memilih jalan pintas dalam menyelesaikan masalah kebutuhan garam ini.

Demikianlah ketika pemerintahan berjalan atas dasar kapitalisme. Rakyat dijadikan tumbal bagi para kapital. Suara rakyat tak lagi didengar manakala bertemu dengan kepentingan korporasi. Negara hanya berperan sebagai regulator, yang justru membuat aturan untuk kepentingan korporasi. Urusan rakyat tidak lagi menjadi prioritas.

Berbeda jika pemerintahan dijalankan dengan landasan Islam. Pemimpin yang berlandaskan aqidah Islam akan senantiasa mengedepankan urusan rakyatnya. Setiap kebijakan yang diambil tidak boleh zalim terhadap siapa pun. Karena ia sadar betul bahwa setiap keputusannya tak akan ada yang luput dari pertanggung jawaban di hadapan Allah.

Negara yang berjalan dengan asas Islam, akan hadir sebagai pelayan (raa’in) dan perisai (junnah) yang akan melindungi rakyat. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW,
“Imam (Khalifah) raa’in (pengurus rakyat) dan dia bertanggung jawab terhadap rakyatnya” (HR. Ahmad, Bukhari)

Kebijakan impor dalam sistem politik Islam haruslah sesuai dengan hukum Islam. Harus diperhatikan status hukum barang yang diimpor serta negara pengimpor. Negara tidak boleh memiliki hubungan perdagangan dengan pihak-pihak yang memerangi Islam. Ketika kebijakan impor diambil pun, bukan karena intervensi atau keterikatan perjanjian dengan pihak manapun.

Pemimpin yang berasaskan Islam, tidak akan mudah mengambil kebijakan impor, terutama untuk kebutuhan pokok rakyatnya. Karena ia tahu, bahwa ketika suatu negara menggantungkan pasokan pangan pada negara lain, maka akan mudah bagi pihak asing untuk mengguncang kedaulatan negaranya. Negara akan lumpuh seketika bila pasokan barang dihentikan.

Inilah bukti bahwa umat memerlukan sistem yang terintegrasi, antara aqidah, kehidupan, pemerintahan, perdagangan hingga politik luar negeri yang berlandaskan Islam. Hanya Islam yang memiliki aturan dalam setiap aspek kehidupan manusia. Dengan syariat Islam, kemaslahatan di dunia dan di akhirat akan dirasakan seluruh umat manusia. Wallahua’lam bishawab

Artikulli paraprakIslam dan Pengembannya Dinista, Mengapa Tak Usai Jua?
Artikulli tjetërDuka Mendalam Bagi Petambak Garam
Visi : Menjadi media yang berperan utama dalam membangun kesadaran umat tentang fakta kebutuhan mengembalikan kehidupan Islam. Semua isi berupa teks, gambar, dan segala bentuk grafis di situs ini hanya sebagai informasi. Kami berupaya keras menampilkan isi seakurat mungkin, tetapi Linimasanews.com dan semua mitra penyedia isi, termasuk pengelola konsultasi tidak bertanggungjawab atas segala kesalahan dan keterlambatan memperbarui data atau informasi, atau segala kerugian yang timbul karena tindakan berkaitan penggunaan informasi yang disajikan. Linimasanews.com tidak bertanggungjawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis yang dihasilkan dan disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik “publik” seperti Opini, Suara Pembaca, Ipteng, Reportase dan lainnya. Namun demikian, Linimasanews.com berhak mengatur dan menyunting isi dari pembaca atau pengguna agar tidak merugikan orang lain, lembaga, ataupun badan tertentu serta menjauhi isi berbau pornografi atau menyinggung sentimen suku, agama dan ras. Segala isi baik berupa teks, gambar, suara dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Linimasanews.com. Semua hasil karya yang dimuat di Linimasa news.com baik berupa teks, gambar serta segala bentuk grafis adalah menjadi hak cipta Linimasanews.com Misi : * Menampilkan dan menyalurkan informasi terbaru, aktual dan faktual yang bersifat edukatif, Inspiratif, inovatif dan memotivasi. * Mewadahi bakat dan/atau minat sahabat lini masa untuk turut berkontribusi membangun kesadaran umat tentang fakta kebutuhannya mengembalikan kehidupan Islam melalui literasi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini