Krisis Jaminan Kesehatan, Islam Solusinya

0
6

Oleh : Kiki Nadia Wati

Linimasanews.com- Sudah hampir satu tahun aktivitas masyarakat negeri ini ditemani covid-19. Begitupun para tenaga kesehatan. Mereka terus berusaha melakukan penanganan terbaik bagi masyarakat yang terinfeksi covid-19.

Sayangnya, harapan tenaga kesehatan akan menurunnya jumlah yang tertular covid-19 tampaknya mulai tenggelam karena adanya kebijakan yang tak selaras. Ini menambah kelebihan, tak jarang mengundang keputusasaan.

Melansir dari Kompas.com, Ketua Tim Mitigasi Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Adib Khumaidi mengatakan, kematian tenaga medis dan kesehatan di Indonesia tercatat paling tinggi di Asia. Selain itu, Indonesia juga masuk ke dalam lima besar kematian tenaga medis dan kesehatan di seluruh dunia.
“Sejak Maret hingga akhir Desember 2020 terdapat total 504 petugas medis dan kesehatan yang wafat akibat terinfeksi Covid-19,” ujar Adib dikutip dari siaran pers PB IDI, Sabtu (2/1/2021).
“Jumlah itu terdiri dari 237 dokter dan 15 dokter gigi, 171 perawat, 64 bidan, 7 apoteker, 10 tenaga laboratorium medis,” tuturnya.

Angka kematian tenaga medis yang tercatat paling tinggi di Asia ini tentu mengundang luka bagi rakyat, terutama keluarga mereka. Sebagai garda terdepan melawan covid-19, tenaga kesehatan seharusnya diberikan fasilitas dan sarana terbaik, mulai dari APD serta pemenuhan kebutuhan lainnya.

Negara sebagai pengatur dan pembuat kebijakan hendaknya lebih memperhatikan apakah kebijakan yang dikeluarkan membantu para tenaga kesehatan untuk menurunkan angka covid-19 atau justru sebaliknya. Tampaknya, kebijakan tak selaras dengan apa yang diharapkan oleh tenaga kesehatan. Penerapan New Normal tahun lalu justru menambah beban nakes karena secara langsung membuka klaster baru covid-19.

Sedikit fakta di atas menunjukkan bahwa kebijakan yang dibuat rezim saat ini tidak berpihak kepada kepentingan tenaga kesehatan maupun masyarakat. Kepentingan ekonomi tampaknya menjadi ratu dalam penentuan kebijakan. Patut diduga, naiknya angka yang tertular maupun angka kematian akibat covid-19 didorong karena kebijakan yang kapitalistis.

Belum lagi, kapitalisasi pada badan-badan kesehatan dan berbagai tes yang disediakan dengan harga yang tak murah, menambah kesulitan masyarakat. Krisis jaminan kesehatan di era kapitalisme ini seakan tidak pernah berakhir.

Dari hal ini, seharusnya masyarakat menyadari bahwa kebutuhan akan Islam adalah kewajiban. Pandangan Islam dalam jaminan kesehatan sangat bertolak belakang dengan pandangan ekonomi neoliberalisme kapitalis tersebut.

Dalam ajaran Islam, negara mempunyai peran sentral dan sekaligus bertanggung jawab penuh dalam segala urusan rakyatnya, termasuk dalam urusan kesehatan. Hal ini didasarkan pada dalil umum yang menjelaskan peran dan tanggung jawab kepala negara untuk mengatur seluruh urusan rakyat. Rasulullah saw. bersabda:
فَاْلأَمِيْرُ الَّذِيْ عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Pemimpin yang mengatur urusan manusia (Imam/Khalifah) adalah pengurus rakyat dan dia bertanggung jawab atas rakyatnya” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Di antara tanggung jawab imam atau khalifah adalah mengatur pemenuhan kebutuhan-kebutuhan dasar (primer) bagi rakyatnya secara keseluruhan. Termasuk layanan kesehatan. Layanan ini wajib diberikan secara gratis kepada seluruh rakyat tanpa memandang lagi strata ekonomi. Mereka yang masuk kategori fakir maupun yang kaya tetap berhak mendapat layanan kesehatan secara sama, sesuai dengan kebutuhan medisnya.

Sebab itu, layanan kesehatan tersebut telah dipandang oleh Islam sebagai kebutuhan dasar (primer) bagi seluruh rakyat. Negara wajib senantiasa mengalokasikan anggaran belanjanya untuk pemenuhan kebutuhan kesehatan bagi seluruh rakyat.

Negara tidak boleh melalaikan kewajiban tersebut. Negara tidak boleh mengalihkan tanggung jawab tersebut kepada pihak lain, baik kepada pihak swasta, maupun kepada rakyatnya sendiri. Jika hal itu terjadi, maka pemerintah akan berdosa,. Sebab, tanggung jawab pemimpin negara memberi layanan pada rakyat akan dimintai pertanggungjawaban secara langsung oleh Allah.

Islam menganggap setiap nyawa manusia itu berharga. Oleh karenanya, setiap Khalifah Islam dituntut untuk senantiasa memaksimalkan perannya dalam menjaga kesehatan masyarakat.

Tak hanya itu, pada setiap individu, Islam menuntun agar masyarakat memiliki pola hidup sehat dan menjaga kebersihan untuk mendukung perlawanan pada penyakit maupun wabah. Dan semua ini hanya mampu dilakukan oleh sistem Islam dan penerapan aturan Islam secara kaffah.

Wallahua’lam.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini