Kunci Istikamah dalam Hijrah

0
6

Oleh: Miladiah Al-Qibthiyah
(Pegiat Literasi dan Media)

Tahun 2020 telah berlalu. Berbagai asa bersemayam dalam membuka tahun 2021. Harapan harus dipastikan mampu membawa perubahan yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Harapan dan impian yang mungkin saja tertunda dan berharap terwujud dan menjadi awal kebaikan di tahun 2021 ini.

Setelah jagat sosmed dipenuhi berbagai komunitas hijrah, baik dari kalangan rakyat biasa hingga merambah ke dunia selebritas, membuat remaja hingga orang dewasa tidak ingin ketinggalan kereta hijrah. Mereka berbondong-bondong bergabung di grup atau komunitas hijrah dengan semangat. Semangat dengan aktivitas dan kebiasaan baru, serta semangat dalam menjalin persahabatan dengan orang-orang baru sesama hijrah maupun yang telah istikamah.

Hijrah harus berbarengan dengan istikamah. Tak sedikit dari mereka yang hijrah ditimpa berbagai ujian dari Allah. Ujian dalam hidup bukan berarti Allah SWT telah menghukum hamba-Nya yang telah hijrah itu. Namun, Allah hendak melihat sejauh mana keimanan dan ketakwaan, tetap teguh di atas jalan hijrah, yakni jalan kebenaran.

Agar bisa bertahan di jalan hijrah dan melewati berbagai ujian hidup pascahijrah, maka butuh istikamah dalam ketaatan, di jalan hijrah. Bila tidak mampu istikamah, kefuturan akan senantiasa mengejar. Hanya orang-orang pilihan-Nya yang mampu istikamah di atas jalan kebenaran. Lalu, bagaimana agar bisa istikamah dalam hijrah?

Pertama, perlu akidah yang kuat. Islam telah mensyariatkan akidah sebagai ikatan yang paling tinggi. Ikatan akidah ini menentukan sikap, cara pandang dan kehidupan seorang Muslim. Akidah ini mengantarkan seseorang memiliki pemikiran, perasaan dan kecenderungan ingin diatur oleh aturan yang sama, yakni Islam. Akidah juga merupakan jawaban dari pertanyaan mengapa seseorang berhijrah.

Bila pertanyaan ini dijawab sesuai dengan konsep akidah yang benar, maka akan memberikan alasan yang kuat, bahkan membuat seseorang kuat di jalan yang telah dipilih, yakni jalan hijrah (Islam). Yakni, pertanyaan dari mana asal manusia, untuk apa manusia hidup, akan ke mana setelah mati. Ini adalah konsep berakidah yang benar. Sebab, jawaban dari ketiga pertanyaan itu hanya satu, yakni Allah SWT. Manusia berasal dari Allah, hidup untuk Allah (beribadah), dan akan kembali pada Allah.

Bila ujian dari Allah datang silih berganti menghantam kehidupan dan menguji keistikamahan, maka ia akan mampu melaluinya sebab telah paham konsep akidah dengan tiga pertanyaan tadi. Dengan begitu, ia akan mengatakan pada masalah atau ujian tersebut, “Sesungguhnya engkau dari Allah, Allah mengirimmu sebab Allah tahu aku mampu melewatimu.”

Segala yang terjadi dalam kehidupan ini berasal dari Allah. Maka haruslah meminta pada Sang Pemberi ujian hidup untuk membantu menyelesaikan masalah dan ujian yang tengah dihadapi.

Kedua, taat syariat. Istikamah di jalan hijrah merupakan wujud ketaatan kepada Allah SWT. Bila seluruh syariah Islam diterapkan di dalam seluruh aspek kehidupan, yakni individu, keluarga, ekonomi, pendidikan, politik hingga negara. Maka, manusia akan senantiasa terjaga dari hal-hal yang akan merusak hijrahnya.

Menjalani kehidupan ini dengan terikat oleh hukum syara’, berinteraksi dan bermuamalah sesuai dengan yang disyariatkan Allah SWT, bahkan memenuhi gharizah (naluri) dan hajatul ‘udhuwiyah (kebutuhan jasmani) haruslah sesuai dengan tuntunan syariat Islam.

Sebab, ketika syariat Islam menjadi sebuah aturan yang bersifat global yang diterapkan tidak hanya pada individu saja, melainkan juga oleh negara, maka segala kemaksiatan, kejahatan dan kriminalitas akan terminimalisir. Ini karena syariat Islam memiliki aturan atau hukum yang bersifat baku. Bila ditentang, maka sanksi zawajir dan jawabir akan dilaksanakan. Maka, negara wajib menerapkan syariah kaffah untuk melindungi individu dan masyarakat dari segala bentuk kejahatan.

Ketiga, ukhuwah yang erat. Di antara wujud dari istikamah di jalan Allah adalah adanya persaudaraan Islam, yakni ukhuwah islamiyah. Allah SWT berfirman,
“Sungguh kaum Mukmin itu bersaudara…” (TQS al-Hujurat [49]: 10).
Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa semua orang Mukmin adalah saudara dalam agama.

Dorongan untuk mewujudkan ukhuwah tersebut adalah iman. Ukhuwah yang terbentuk karena iman harus terwujud dalam bentuk tolong-menolong di antara kaum Muslim. Sesama Muslim akan senantiasa saling mengingatkan dan saling menegur bila saudaranya lalai dan melakukan maksiat pada Allah. Ikatan ukhuwah ini akan menguatkan seseorang berada di atas jalan kebenaran. Mereka tidak akan merasa sendiri.

Rasulullah saw. menggambarkan kaum Muslim layaknya satu bangunan yang saling menopang satu sama lain:
“Sungguh kaum Mukmin itu seperti satu bangunan yang saling menguatkan satu sama lain.” (HR al-Bukhari, Muslim, an-Nasai, at-Tirmidzi dan Ahmad)

Rasul saw. juga menggambarkan kaum Mukmin layaknya satu tubuh:
“Sungguh seorang Mukmin bagi Mukmin yang lain berposisi seperti kepala bagi tubuh. Seorang Mukmin akan merasakan sakitnya Mukmin yang lain seperti tubuh ikut merasakan sakit yang menimpa kepala.” (HR Ahmad)

Rasul saw. juga bersabda:
“Perumpamaan kaum Mukmin dalam hal saling cinta, kasih sayang dan simpati di antara mereka seperti satu tubuh; jika salah satu organ sakit maka seluruh tubuh demam dan tak bisa tidur.” (HR Muslim dan Ahmad)

Begitu pentingnya akidah, syariah, dan ukhuwah dalam menjaga agar Muslimin tetap istikamah di jalan hijrah. Dengan memahami konsep akidah, syariah, dan ukhuwah yang benar, maka akan senantiasa merasa diawasi oleh Allah dan senantiasa bermuhasabah tatkala melakukan kekhilafan, baik disengaja maupun tidak disengaja.

Maka, istikamahlah dalam hijrah! Sebab, istikamah adalah cara terbaik mendapatkan kecintaan Allah SWT, tidak hanya di dunia, melainkan juga di akhirat kelak, in syaa Allah. Wallaahu a’lam bi ash-shawab.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini