Maraknya Kekerasan Seksual Alarm Rusaknya Sebuah Peradaban

0
60

Oleh: Ulfa Ni’mah (Pendidik Cepu Blora)

Linimasanews.com—Tragis, Seorang perempuan penyandang disabilitas ganda FS di Blora mengalami kejahatan seksual dan Kekerasan Seksual. Berdasar hasil penyelidikan, terungkap pelaku kejahatan tersebut adalah ayah kandungnya sendiri S (62). Saat ini, kasus kejahatan seksual yang menimpa FS cukup menyita perhatian publik, pasalnya FS adalah anak disabilitas ganda tuna wicara, tuna rungu, dan tuna grahita. Tidak sedikit yang ikut prihatin, bahkan Bupati Blora, Arief Rohman sampai turut terjun mengawal kasus kejahatan seksual ini agar bisa diusut hingga tuntas.

Dilansir dari Kompas. Com (17/01/2023) menyatakan bahwa Kapolres Blora, Fahrurozi telah mengamankan tersangka dan barang bukti kejahatan diantaranya, satu potong celana pendek warna biru, satu potong celana dalam warna biru, satu potong baju batik warna merah serta sarung dan baby doll warna hijau yang dikenakan saat peristiwa persetubuhan tersebut.

Jika dicermati, kejahatan seksual yang menimpa FS bukan terjadi pertama kalinya, namun kejahatan serupa sudah banyak juga menimpa perempuan-perempuan di berbagai wilayah lainnya. Kekerasan seksual seolah menjadi tren yang terus meningkat. Bahkan berulang seperti gunung es, yang terlapor sedikit yang tidak dilaporkan lebih banyak.

Seperti halnya kasus FS ini baru terkuak dan dilaporkan setelah hampir tiga tahun. Kejadiannya berlangsung cukup lama, bahkan FS sampai mengalami tiga kali kehamilan. Kehamilan pertama mengalami keguguran, kehamilan kedua berhasil melahirkan, namun anaknya meninggal di usia 3 bulan karena kelainan organ jantung dan saat ini sedang hamil jalan 5 bulan.

Kasus ini berhasil diungkap setelah ada pelaporan dari ibu korban R ke polisi. Ibu korban R akhirnya memberanikan diri untuk melaporkan, padahal sebelumnya ibu korban merasa takut untuk melaporkan karena diancam pelaku S kejahatan akan dibacok. Namun karena sudah tidak tahan akhirnya memberanikan diri untuk mengungkap kejahatan yang sudah cukup lama diperbuat tiga tahun terakhir belakangan ini.

Faktor Pemicu Kekerasan Seksual dan Kejahatan Seksual

Berdasar data Catatan Tahunan Komnas Perempuan pada periode 2012-2021 (10 tahun) menunjukkan peningkatan, ada sekurangnya 49.762 laporan kasus kekerasan seksual. Sementara selama tahun 2022 sendiri dari Januari s. d November 2022 telah menerima 3.014 kasus kekerasan berbasis gender terhadap perempuan, termasuk 860 kasus kekerasan seksual di ranah publik/komunitas dan 899 kasus di ranah personal. Dari pelaporan tersebut diungkapkan jumlah pengaduan masih akan terus bertambah, termasuk ke lembaga pengada layanan yang dikelola oleh masyarakat sipil maupun UPTD P2TP2A (Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak).

Angka yang fantastis tersebut tentunya tidak terjadi begitu saja tanpa sebab. Bahkan dikatakan pula kemungkinan dari data yang tidak dilaporkan jauh lebih banyak, angkanya bisa empat kali lipat dari yang dilaporkan. Ironisnya lagi kekerasan seksual dan kejahatan seksual yang terjadi juga banyak dilakukan oleh pihak yang terdekat dengan korban di mana kejadian banyak terjadi di Rumah tangga. Mirisnya lagi, belakangan ini kekerasan seksual, pencabulan sering terjadi di tempat yang notabene dianggap aman yakni dalam lingkup sistem pendidikan.

Tentu saja kejahatan seksual dan kekerasan seksual yang menjadi tren ini harus segera diatasi, mengingat tidak hanya berdampak pada korban namun juga berakibat pada dampak sosial yang cukup mengkhawatirkan masa depan dan peradaban. Peran negara sangat besar menuntaskan kasus kejahatan ini.

Memang, tidak dimungkiri selama ini sudah berbagai upaya dilakukan oleh negara dari kuratif (penanggulan yang dilakukan setelah kejadian) hingga upaya preventif (pencegahan). Bahkan lahirnya UU TPKS no 12 tahun 2012 terkait tindak pidana kekerasan seksual ternyata belum cukup mempan mengurangi dan menuntaskan kejahatan seksual yang terjadi di tengah masyarakat. Bahkan kian menjamur dan terlihat sanksi yang diberikan tidak sampai membuat pelakunya jera.

Sebetulnya kehidupan masyarakat saat ini sedang tidak baik-baik saja, buktinya penyakit sosial telah melumpuhkan sendi budaya ketimuran masyarakat Indonesia akibat penerapan sistem kapitalisme yang berasas sekulerisme (memisahkan agama dari kehidupan). Gaya hidup liberalisme saat ini menjangkit masyarakat kian permisif, inilah sumber pemicu kejahatan seksual dan kekerasan seksual bermula dan semakin meningkat pesat.

Bagaimana mau menuntaskan, sementara paham kebebasan liberalisme kian menguat diadopsi oleh negara ini. Pola hidup permisif telah mengakar, pemujaan terhadap syahwat terjadi di mana-mana, keimanan telah mengikis dan jauhnya nilai agama dari kehidupan telah merasuk penganutnya seiring minusnya ketakutan kepada Sang Pencipta hingga mendorong individu bebas meluapkan hasratnya tanpa kenal halal dan haram. Walhasil kejahatan seksual dan kekerasan seksual marak menjadi tren di tengah masyarakat.

Ironisnya secara nyata masyarakat belum menyadari bahwa rusaknya pola kehidupan sosial bersumber dari sekulerisme (memisahkan agama dengan kehidupan) dan liberalisme (kebebasan). Bahkan mereka justru bangga bahwa kebebasan atas nama hak asasi manusia dianggap sebagai ruang kemajuan peradaban dan kemodernisasian. Walhasil bukan hanya modernisasi namun juga westernisasi kebablasan telah menggerus budaya ketimuran.

Pemikiran pemikiran rusak yang kini diadopsi oleh umat nampak juga dengan kehidupan bebas kelewat batas seperti; kegiatan kumpul kebo, ML sebelum pernikahan, swinger tukar ganti pasangan intim hubungan badan, semua itu sudah dianggap hal biasa. Bahkan merebaknya kaum pelangi, yang kini kian masif melebarkan komunitasnya baik lewat dunia maya ataupun nyata semakin menambah kerusakan kehidupan sosial saat ini. Di saat kehidupan menyimpang yang mereka jalani tidak lagi memberi kenyamanan, seiring itu pula kejahatan seksual dan kekerasan seksual semakin meledak bagai bola liar yang menggelinding kian membesar.

Parahnya lagi, banyak tontonan ber aroma vulgar dan cabul yang mudah diakses lewat dunia maya oleh siapapun. Dalam sistem kapitalisme, yang terpenting bagi produsen adalah keuntungan tanpa memperhatikan konten yang akan disuguhkan. Maka tidak sedikit tontonan pembangkit birahi memicu rangsangan seksual menjadi santapan siapapun menjadi tuntunan. Akibatnya mengarah banyak yang berotak mesum tak terkendali, lengah, dan membutuhkan pelampiasan syahwat. Ujungnya dapat dipastikan tidak sedikit yang berakhir pada pelampiasan terlarang.

Solusi Menuntaskan Kekerasan Seksual dan Kejahatan Seksual

Fitrahnya manusia diciptakan oleh Sang Pencipta memang dengan seperangkat naluri yang melekat dari lahirnya. Yang mana naluri seksual yang diberikan oleh Sang Pencipta kepada laki laki dan perempuan diwujudkan untuk saling mengasihi dan menyayangi.

Allah SWT sebagai Sang Pencipta Maha Tahu juga menurunkan seperangkat aturan untuk mengatur pemuasan naluri seksual agar berjalan sebagaimana mestinya. Agar naluri seksual tidak berkembang liar dan binal maka Islam sudah mengatur sedemikian rupa bagaimana secara preventif dan komprehensif sehingga mencegah kekerasan seksual terjadi. Contoh solusi preventif, Islam mengatur hubungan sosial antara laki laki dan perempuan, baik di ranah kehidupan umum maupun khusus.

Dalam Islam, kehidupan laki-laki dan perempuan diatur sedemikian rupa. Adanya pengaturan pemisahan antara laki laki dan perempuan (kecuali dalam hal kesehatan, muamalat dan haji) dimaksudkan untuk melindungi keduanya dari interaksi yang berlebihan. Kewajiban menutup aurat membentengi mata mata telanjang yang mendorong perbuatan maksiat.

Selain itu, Islam mengatur bagaimana pembagian tugas hal dan kewajiban antara suami dan Istri dengan peran peran strategis yang telah ditetapkan dengan imbang. Tak ada yang diuntungkan ataupun dirugikan. Keduanya adalah kehidupan yang saling melengkapi, berbagi, bekerjasama dan mencurahkan hingga tercipta keluarga sakinah mawaddah warrahmah. Ditambah lagi kontrol masyarakat yang kuat untuk bersama-sama amar ma’ruf nahi munkar dalam rangka meraih ridho Allah dan merasa khawatir akan murka Allah SWT.

Semua ini akan menjadi lebih kuat lagi jika didukung oleh keberadaan negara yang kokoh dengan seperangkat aturan yang tegas terhadap semua perbuatan maksiat. Aturan dan sanksi yang menjerakan pelaku maksiat. Sebagai contoh rajam bagi para pezina yang telah menikah, hukuman cambuk 100 kali bagi pezina yang belum menikah, bahkan pengasingan.

Peran negara dalam meregulasi sistem penerangan dan media juga sangat penting. Negara harus mengawasi sistem media dan penerangan ini agar tidak ada konten porno sumber pemicu rangsangan seksual ini beredar bebas. Kalaupun ada yang melanggar akan ditindak tegas yaitu mencabut izin penayangannya. Jika peran negara optimal, maka tidak mustahil kejahatan seksual dan kekerasan seksual bisa ditangani secara total. Wallahu’ alam.

Artikulli paraprakNarkoba Mengancam Generasi
Artikulli tjetërIslam Solusi Praktis Berantas Narkoba
Visi : Menjadi media yang berperan utama dalam membangun kesadaran umat tentang fakta kebutuhan mengembalikan kehidupan Islam. Semua isi berupa teks, gambar, dan segala bentuk grafis di situs ini hanya sebagai informasi. Kami berupaya keras menampilkan isi seakurat mungkin, tetapi Linimasanews.com dan semua mitra penyedia isi, termasuk pengelola konsultasi tidak bertanggungjawab atas segala kesalahan dan keterlambatan memperbarui data atau informasi, atau segala kerugian yang timbul karena tindakan berkaitan penggunaan informasi yang disajikan. Linimasanews.com tidak bertanggungjawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis yang dihasilkan dan disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik “publik” seperti Opini, Suara Pembaca, Ipteng, Reportase dan lainnya. Namun demikian, Linimasanews.com berhak mengatur dan menyunting isi dari pembaca atau pengguna agar tidak merugikan orang lain, lembaga, ataupun badan tertentu serta menjauhi isi berbau pornografi atau menyinggung sentimen suku, agama dan ras. Segala isi baik berupa teks, gambar, suara dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Linimasanews.com. Semua hasil karya yang dimuat di Linimasa news.com baik berupa teks, gambar serta segala bentuk grafis adalah menjadi hak cipta Linimasanews.com Misi : * Menampilkan dan menyalurkan informasi terbaru, aktual dan faktual yang bersifat edukatif, Inspiratif, inovatif dan memotivasi. * Mewadahi bakat dan/atau minat sahabat lini masa untuk turut berkontribusi membangun kesadaran umat tentang fakta kebutuhannya mengembalikan kehidupan Islam melalui literasi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini