Mempersiapkan Generasi Rabbani di Era Pandemi

0
18

Oleh: Nur Kasih
(Pendidik di Sekolah Swasta di Batam)

Linimasanews.com- Siapa nyana siapa sangka. Virus Corona datang tiba-tiba di jagad raya, tak terkecuali di negeri kita. Karena Allahlah Sang Pencipta dunia dan alam seisinya. Maka sudah tentu Dialah yang kan merancangnya. Manusia sebagai hamba hanya berikhtiar maksimal semampunya. Untuk capai solusi sesuai ridho-Nya.

Guna memutus mata rantai penularan virus corona (covid-19) yang kian menjadi, oemerintah pusat beserta satgas penanganan covid-19 mengeluarkan kebijakan belajar dari rumah atau dikenal dengan pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Berbagai respon orangtua atas kebijakan tersebut bermunculan. Dan kebanyakan merasa repot hadapi hal ini. Tentunya banyak sekali kendala yang dirasakan orang tua. Apalagi bagi kedua orang tua yang bekerja di luar rumah. Bisa jadi akan ada yang kehilangan pekerjaan. Dimana prioritas utama ialah bukan bagaimana mendidik anak-anak, tetapi bagaimana keberlangsungan hidup keluarganya. Bahkan, tidak sedikit orang tua yang buta ilmu metode pendidikan. Imbasnya, orang tua dan anak-anak tambah berat dalam menjalani proses belajar mengajar di rumah.

Sudah seharusnya negara memberikan akses pedidikan rakyat secara mudah bahkan bebas biaya dan bermutu. Oleh karena itu, dalam situasi pandemi saat ini, pembelajaran tetap diampu dosen atau guru dengan kuliah dan belajar daring. Sekolah dan kampus mempersiapkan SDM, bahan ajar dengan baik. Sehingga proses belajar-mengajar terlaksana dengan baik. Negara juga harus menyediakan fasilitas pendidikan secara gratis, seperti;

1. Modul tentang model belajar mandiri dan modul sebagai panduan bagi siswa dan orang tua.
2. Modul-modul yang berkaitan dengan materi pelajaran atau materi kuliah yang disajikan dengan model belajar mandiri.
3. Perpustakaan digital-ebook.
4. Laptop yang berkualitas dan kuota.
5. Makanan bergizi dan fasilitas kesehatan yang lain berupa masker, hand sanitizer, dll.

Saat masa Khalifah al-Ma’mun, kebijakan pelayanan pendidikan gratis dan bermutu betul-betul dilaksanakan dengan baik. Negara bukan hanya menggratiskan biaya pendidikan. Namun juga memberi fasilitas seperti asrama, makan-minum, kertas, pena dan lampu serta uang satu dinar perbulan. Jika harga emas 1 gram Rp700.000, berarti Rp2.975.000 perbulan. Ini hanyalah uang jajan saja, sebab kebutuhan sehari-hari siswa ataupun mahasiswa sudah dipenuhi. Begitulah gambaran pelayanan pendidikan pada masa khilafah.

Kini, fakta yang terjadi justru sebaliknya. Oleh sebab itu, suka tidak suka, ringan atau berat, kita wajib bisa menjadi guru bagi generasi. Oleh karenanya, kita perlu mempersiapkan kebiasaan sebagai berikut:

Pertama, berikan pemahaman kepada anak terkait wajibnya menimba ilmu dan motivasi berprestasi. Libatkan anak untuk menyusun jadwal aktifitas sehari-hari, termasuk jadwal belajar dan bermain.  Ajak anak berkomitmen dan disiplin.  Sabda Rasulullah SAW:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Mencari ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim.” (HR Ibnu Majah)

Kedua, tetapkan tujuan pembelajaran, materi pelajaran dan evaluasi pembelajaran. Sehingga anak mendapatkan wawasan pengetahuan, terbentuk sikapnya serta mampu mengaplikasikan. Pastikan mata pelajaran yang disampaikan sesuai dengan ajaran Islam. Khusus materi untuk anak yang belum baligh, harus sesuai Islam. Namun, untuk anak yang sudah baligh, bisa disampaikan. Kemudian jelaskan letak kesalahannya bahwa yang betul itu sesuai dengan Islam. Hal ini harus disampaikan agar dipahami, diyakini, hingga diamalkan. Selayaknya tujuan pendidikan dalam Islam selalu difokuskan, yaitu menghasilkan ulama, ilmuwan, negarawan, inovator yang bersakhsiyah Islam.

Ketiga, gunakan tempat yang nyaman dan enjoy, tapi tetap serius dan disiplin. Susun ruangan khusus yang nyaman. Anak bisa diikutsertakan mendekorasi ruang belajar yang nyaman dan menyenangkan. Demi tercapainya target pendidikan ini, sebaiknya ada ruang perpustakaan di dalam rumah (Muhammad Shalih, 40 cara Membina Rumah Tangga, hlm. 43).

Boleh juga perpustakaaan digital. Jikalau perpustakaan nondigital sebaiknya yang nyaman agar anak-anak suka baca. Pilih buku-buku yang isinya tidak menyimpang dari ajaran Islam, sesuaikan usia anak dan mengarah pada capaian tujuan pendidikan.

Keempat, munculkan Quantum Teaching, yaitu mengajar dengan memilih interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya. Model ini memiliki prinsip, “Bawalah Dunia Mereka ke Dunia Kita dan Antarkan Dunia Kita ke Dunia Mereka,” (DePorter, 2009: 6). Sehingga guru dapat menciptakan pembelajaran yang menyenangkan agar siswa mudah memahami materi pembelajaran. Ciptakan juga Quantum Learning, yaitu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sehingga anak mampu mencapai lompatan target pembelajaran.

Selanjutnya, pastikan metode pengajaran yang diterapkan adalah talaqqiy[an] fikriy[an] muatsitsar[an], yaitu penyampaian (khithab) dan penerimaan (talaqqi) pemikiran dari pengajar kepada pelajar secara berpengaruh untuk mencapai tujuan pembentukan syakhsiyah Islam pada diri pelajar. Karena itu, metode talaqqiy[an] fikriy[an] muatstsir[an] mengharuskan pemikiran sampai secara benar dan rinci dari pengajar kepada pelajar untuk diyakini dan diamalkan. Tidak sekadar transfer informasi. Dengannya pengajar bisa membentuk perilaku anak didik yang sesuai ajaran Islam (An-Nabhani, Syakhshiyah Islamiyah, I/374).

Selanjutnya pilihlah metode pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran dan usia anak; pahami keadaan anaknya secara baik; gunakan teknik pembelajaran yang tepat. Kuasai materi yang akan diajarkan. Pahami keadaan anak dan metode pendidikan. Supaya kita mampu memilih metode yang tepat sesuai tahap berpikir anak dan mampu kelola kejiwaan anak dengan baik. Dengan harapan tujuan pembelajaran tercapai. Rasulullah SAW bersabda:

أُمِرْنَا أَنْ نُكَلِّمَ النَّاسَ عَلَى قَدْرِ عُقُوْلِهِمْ

“Kami (para nabi) diperintah supaya berbicara kepada manusia menurut kadar akal (kecerdasan) mereka masing-masing.” (Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum ad-Din, 1/99)

Teknis/metode pembelajaran adalah cara-cara yang dipakai guru dalam menyampaikan bahan pelajaran pada siswa demi tercapai tujuan yang ditetapkan. Beberapa teknik pembelajaran antara lain;

1. Bercerita. Siapkan kisah-kisah yang ada dalam video. Bisa juga mencari bahan ajar di internet.

2. Bermain peran (role playing). Berperan sesuai dengan lakon yang telah ditentukan untuk tujuan-tujuan tertentu. Karena siswanya sedikit, hanya anak kita, maka gunakan metode “mendalang” saja.

3. Metode kauni Quantum memori. Menghapal beserta gerakan-gerakan. Agar mudah diingat. Misal, QS An Naba’ ayat 1 dan 2 tentang kalimat pertanyaan, agar mudah diingat maka gunakan gestur tubuh dan mimik wajah penuh tanya. Atau ayat-ayat yang lain. Gerakan disesuaikan dengan isi ayat tersebut.

4. Metode pembelajaran Make a Match (mencari pasangan) (Lorn Curran; 1994). Buat dua kartu. Kartu pertama berisi soal. Kartu kedua berisi jawaban.

5. Metode diskusi dan debat. Metode ini sangat bagus untuk belajar bahasa asing (Abdul Majid, 2006: 142).

6. Metode Pemecahan Masalah (problem solving learning). Adalah cara memberikan pemahaman dengan menstimulus anak didik untuk memperhatikan, menelaah dan berpikir tentang suatu masalah. Selanjutnya menganalisa masalah tersebut, menentukan akar masalah dan cari jalan keluar dengan standar Islam.

7. Think Talk Write (Latihan berbahasa secara lisan dan tulisan).

8. Demontrasi, presentasi. Anak mempresen-tasikan atau menyampaikan ulang pelajaran yang didapat, misal membuat video rekaman ataupun ringkasan tulisan.

Kelima, pendidikan dengan kasih sayang. Pendidikan akan mudah diterima oleh anak pada saat orang tua mendidik dengan kasih sayang. Jika anak dalam suasana tidak nyaman dan sering diperlakukan kasar, maka kebutuhan akan keamanan dan kenyamanan tidak terpenuhi. Sehingga anak cenderung berperilaku aneh, membangkang dan menyimpang karena cari perhatian dan kasih sayang orang tuanya.

Syariah Islam mensyaratkan seorang pendidik harus punya sifat kasih sayang. Sabda Rasulullah: 
“Tidakkah termasuk golongan kami, orang-orang yang tidak mengasihi anak kecil di antara kami, dan tidak mengetahui hak orang besar di antara kami.” (HR Abu Dawud dan Tirmidzi-Abdullah Nasih Ulwan, Tarbiyah al-Awlad fi al-Islam (Terjemahan), I/33)

Keenam, pembiasaan perilaku yang Islami dalam kehidupan sehari-hari sejak dini. Berkepribadian Islam/berperilaku berdasarkan akidah Islam merupakan konsekuensi seorang muslim. Ia harus memegang erat jati dirinya sebagai seorang muslim. Yaitu senantiasa berperilaku sesuai dengan al-Quran dan al-Hadis dimana pun, kapan pun dan dalam aspek apa pun dia beramal. Identitas itu menjadi kepribadian yang tampak pada pola pikir dan pola sikapnya yang didasarkan pada ajaran Islam (An-Nabhani, Syakhshiyah Islamiyah I/20).

Ketujuh, keteladanan itu penting. Upayakan anak dalam lingkungan yang islami, sebab anak lebih mudah mencontoh perilaku orang-orang yang ada di sekitarnya, baik tetangga, teman dan media (TV, Internet dll). Tentu yang paling banyak memberi warna adalah perilaku seluruh anggota keluarga; terutama ayah, ibu dan orang-orang yang yang banyak bergaul dengan anak. Karena itu orang tua dan keluarga yang tinggal dengan anak juga harus berperilaku sesuai dengan aturan Islam. Bahkan bisa menjadi contoh. Metode keteladanan ini terbukti paling berhasil dalam mempersiapkan dan membantu membentuk tingkah laku anak (Abdullah Nasih Ulwan, Tarbiyah al-Awlad, hlm. 142).

Waallahu a’lam. 
 
 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini