Mendamba Layanan Kesehatan Penuh Totalitas

0
11

Oleh: Wati Ummu Nadia

Linimasanews.com- Berharap biaya kesehatan bisa murah bahkan gratis dengan pelayanan yang memadai, rasanya sungguh mustahil saat ini. Betapa tidak, biaya berobat kini sangat menguras isi kantong pribadi. Meski ada solusi asuransi wajib, nyatanya administrasinya lebih rumit, ditambah tindakan terjadwal yang tidak semudah jika menggunakan biaya sendiri. Padahal, iurannya sudah tidak murah lagi.

Sementara itu, telah tertancap dibenak publik bahwa di balik setiap kemudahan dan bagusnya pelayanan ada harga yang mesti dibayar. Sehingga kenaikan biaya kesehatan dinilai sah-sah saja selama ada perbaikan mutu layanan. Bagi orang berduit, it is not a big deal. Tapi bagi masyarakat menengah ke bawah, kenaikan biaya kesehatan bisa menambah masalah. Tak salah jika akhirnya muncul anekdot, “Orang miskin dilarang sakit.” Karena faktanya rakyat kecil memang tak punya dana untuk berobat ketika sakit.

Kalau begini, apakah salah mendamba adanya layanan kesehatan yang penuh totalitas? Berbiaya murah dengan pelayanan maksimal. Mungkinkah bisa terjadi? Setiap manusia tentu boleh saja berharap. Bahkan harapan ke arah lebih baik harus senantiasa ada agar bersemangat melakukan perbaikan dan perubahan. Secara fakta, pernah ada layanan kesehatan maksimal dengan biaya minimal, bahkan gratis. Sejarah mencatat bahwa Kekhilafahan Islam terbukti mampu mewujudkan harapan itu.

Layanan kesehatan dalam Khilafah semakin berkembang ketika Islam mencapai kejayaan. Khilafah Islam mengawali pembangunan konsep rumah sakit pertama di dunia. Rumah sakit yang dikenal dengan nama Bimaristan itu dibangun atas permintaan Khalifah Al-Walid (705-715 M) dari Dinasti Umayyah dan digunakan sebagai tempat perawatan isolasi para penderita lepra. Selanjutnya, Khalifah Harun Al-Rasyid (786-809 M) membangun rumah sakit Islam pertama di masa pemerintahannya, yang menerima perawatan berbagai jenis penyakit. Sejak itu, berkembang rumah sakit-rumah sakit lainnya (republika.co.id, 12/6/2012).

Rumah sakit di masa kekhilafahan Islam memiliki bangunan yang megah, dilengkapi desain interior dan furnitur yang serupa dengan istana. Dihiasi dengan taman luas dan sudah terdapat air mancur di tengahnya. Rumah sakit Islam juga memiliki kapasitas besar yang bisa menampung hingga 8000 ranjang, seperti RS Al-Manshuri di Kairo. Masalah sanitasi dan ketersediaan air bersih di rumah sakit tak luput dari perhatian. Ini penting agar pasien dan tenaga kesehatan bisa menjalankan ibadah dengan baik dan terjamin kebersihannya.

Rumah sakit Islam memiliki karakteristik yang khas. Rumah sakit melayani semua orang tanpa membedakan agama, ras , dan strata sosial. Baik muslim maupun nonmuslim, kaya ataupun miskin, apa pun suku bangsanya, sampai orang-orang dari luar wilayah Islam pun bisa menikmati layanan kesehatan dengan cuma-cuma alias gratis.

Bahkan jika ada orang yang mengaku-ngaku sakit, akan tetap dilayani dengan baik. Hanya saja jika terbukti tidak sakit, pada hari keempat pasien akan diminta untuk meninggalkan rumah sakit. Sebab kewajiban menjamu tamu/musafir yang diperintahkan oleh Islam hanya selama 3 hari.

Rumah sakit dalam Islam juga memisahkan antara pengobatan rawat jalan dan rawat inap. Untuk rawat inap, tidak ada pembatasan berapa lama pasien boleh dirawat, sehingga pasien hanya akan pulang ketika mereka benar-benar sembuh. Rumah sakit juga menyediakan berbagai menu makanan yang sehat dan segar, pakaian bersih, asisten yang membantu memandikan dan memakaikan baju pasien. Rumah sakit selalu siap menampung pasien baik siang maupun malam. Beberapa rumah sakit bahkan mampu memberi pasien pakaian bersih dan uang saku ketika pasien pulang, seperti yang terjadi di RS Al-Nuri dan RS Al-Manshuri. Sehingga pasien sangat terbantu dalam memenuhi kebutuhannya, terutama saat masa pemulihan kesehatan dan belum mampu bekerja.

Rumah sakit Islam juga sudah menerapkan pemisahan bangsal laki laki dan perempuan, juga pemisahan bangsal pasien dengan penyakit menular dan tidak menular. Tugas perawat pun dibagi. Perawat laki-laki hanya menangani pasien laki-laki, begitu pun perawat perempuan hanya menangani pasien perempuan. Rumah sakit Islam juga mengawali adanya sistem rekam medis pasien yang terus digunakan sampai saat ini.

Hanya dokter-dokter berkualitas yang boleh mengobati pasien di rumah sakit Islam. Untuk memastikan semua dokter berkualitas, Khalifah Al-Muqtadir dari Dinasti Abbasiyah memerintahkan kepala dokter istana, Sinan bin Tsabit, untuk menyeleksi 860 dokter yang ada di Baghdad. Selain itu, khalifah juga memerintahkan Abu Osman Sa’id Ibnu Yaqub untuk melakukan seleksi serupa di wilayah Damaskus, Makkah, dan Madinah.

Itulah sedikit gambaran layanan kesehatan yang penuh totalitas dalam sistem khilafah. Layanan yang seperti itu hanya akan terwujud jika ditopang oleh pembiayaan dari kas negara yang dikelola berdasar syariah Islam. Selain itu, negara juga harus memahami fungsinya sebagai pelayan dan pengayom bagi urusan rakyat sebagaimana yang telah digariskan oleh Islam. Sehingga bisa dikatakan bahwa layanan kesehatan yang totalitas adalah buah dari penerapan syariah secara kaffah dalam bingkai khilafah.

Oleh karena itu, tak ada gunanya berharap sistem kapitalisme mampu memberi layanan kesehatan dengan baik secara gratis. Pada hakikatnya, sistem kapitalisme nyatanya tamak dan gemar memalak rakyat. Berharap layanan terbaik secara gratis dalam sistem ini, sama saja dengan mimpi di siang bolong.

Wallahu a’lamu bish showab.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini