Mengembalikan Kemuliaan Perempuan Tanpa Kekerasan

0
105

Oleh: Umi Rizkyi (Pegiat Literasi Perindu Jannah

Linimasanews.com–Berdasarkan data yang dilansir dari WHO pada 9 Maret 2021, ada 736 juta perempuan mengalami kekerasan, baik fisik ataupun seksual oleh pasangan atau bukan pasangannya. Sekitar 16 persen diakibatkan oleh pasangannya.

Menurut WHO, untuk mencegah kekerasan terhadap perempuan ialah dengan cara: Pertama, menjamin kesetaraan ekonomi dan sosial. Kedua, memastikan akses kependidikan dan pekerjaan yang aman. Ketiga, mengubah norma dan lembaga gender yang diskriminatif.

Menurut WHO, ada 37 persen perempuan yang mengalami kekerasan tinggal di negara miskin. Dengan kata lain, faktor ekonomi menjadi faktor utama terjadinya kekerasan terhadap perempuan.

Namun demikian, solusi dan ide yang disarankan oleh WHO sungguh tidak adil. Di kala perempuan menjadi korban, justru perempuanlah yang harus bergerak menjamin kebutuhan ekonomi, baik untuk dirinya sendiri, anak-anaknya, orang tuanya dan lainnya. Yaitu dengan mendorong kaum perempuan untuk bekerja, menghasilkan uang sehingga bisa memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri.

Akan tetapi, kenyataannya, perempuan yang bekerja tidak mengatasi masalah kekerasan terhadap perempuan. Tak sedikit perempuan mengalami kekerasan di tempat kerja. Misalnya, pelecehan seksual, pemerkosaan bahkan kekerasan fisik, baik dilakukan oleh atasan atau teman sesama pekerja dan sebagainya.

Kemudian, di struktur sosial, ada anggapan kekerasan terhadap perempuan terjadi karena adanya struktur sosial yang patriarki, yaitu menempatkan perempuan tidak setara dengan laki-laki. Hal ini seharusnya tidak boleh dipandang secara diskriminatif, laki-laki diserahi tugas sendiri dan perempuan juga demikian.

Faktanya, perempuan bekerja dan mampu memenuhi kebutuhan hidupnya ternyata tidak mampu menjamin hilangnya kekerasan terhadap perempuan. Justru ketika perempuan mampu memenuhi kebutuhan hidupnya, ia tidak lagi menghargai suaminya dan tidak melakukan kewajibannya sebagai ibu dan pengatur rumah tangganya. Sehingga, ini pun menjadi pemicu terjadinya kekerasan terhadap perempuan.

Begitu pula, aspek pendidikan juga menjadi pemicu terjadinya kekerasan terhadap perempuan. Ketika perempuan tinggal di negara miskin ia tak mampu untuk mengenyam pendidikan. Sehingga hal yang terjadi adalah semena-mena terhadap perempuan.

Sungguh sistem kapitalisme-sekularisme tidak akan mampu untuk menyelesaikan masalah yang terjadi terhadap perempuan. Sebaliknya, malah semakin menambah parah kerusakan dan menambah masalah baru yang tidak ada solusi yang solutif dan cepat.

Sungguh berbeda dengan solusi dalam Islam. Islam telah terjaga kemurniannya dari Dzat Yang Maha Pencipta dan Sang Mudabir. Dalam Islam, permasalahan perempuan dalam aspek ekonomi diselesaikan dengan mekanisme yang jelas. Jika perempuan belum menikah, wali, yaitu ayahnya wajib menanggung kebutuhannya. Setelah menikah, suaminya yang menanggung seluruh kebutuhannya.

Dalam aspek sosial, Islam memandang perempuan sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Ia diwajibkan untuk menjaga dan mengelola harta hasil kerja suaminya. Sementara suami/laki-laki memiliki kewajiban untuk menjamin nafkah perempuan, menjaga, memimpin, dan melindunginya. Jadi, haram hukumnya melakukan kekerasan terhadap perempuan.

Dalam aspek pendidikan, Islam akan mengutamakan penanaman tsaqofah Islam sebagai dasar pendidikan yang harus didapatkannya. Tanpa pondasi Islam, ilmu yang dimiliki bisa jadi disalahgunakan. Terutama, pelanggaran terhadap hukum syara’.

Oleh karena itu, adanya semangat untuk menghapus kekerasan terhadap perempuan hendaknya harus ada semangat untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan. Maka, di sinilah peran negara. Negara yang menerapkan sistem Islam akan mampu mewujudkan kesejahteraan, keadilan dan ketentraman, tanpa ada bayang-bayang kekerasan terhadap perempuan. Allahua’lam bishowab.

Artikulli paraprakHaruskah Terjadi Dahulu Menyesal Kemudian?
Artikulli tjetërDilema Kebijakan Mudik ala Sistem Demokrasi
Visi : Menjadi media yang berperan utama dalam membangun kesadaran umat tentang fakta kebutuhan mengembalikan kehidupan Islam. Semua isi berupa teks, gambar, dan segala bentuk grafis di situs ini hanya sebagai informasi. Kami berupaya keras menampilkan isi seakurat mungkin, tetapi Linimasanews.com dan semua mitra penyedia isi, termasuk pengelola konsultasi tidak bertanggungjawab atas segala kesalahan dan keterlambatan memperbarui data atau informasi, atau segala kerugian yang timbul karena tindakan berkaitan penggunaan informasi yang disajikan. Linimasanews.com tidak bertanggungjawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis yang dihasilkan dan disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik “publik” seperti Opini, Suara Pembaca, Ipteng, Reportase dan lainnya. Namun demikian, Linimasanews.com berhak mengatur dan menyunting isi dari pembaca atau pengguna agar tidak merugikan orang lain, lembaga, ataupun badan tertentu serta menjauhi isi berbau pornografi atau menyinggung sentimen suku, agama dan ras. Segala isi baik berupa teks, gambar, suara dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Linimasanews.com. Semua hasil karya yang dimuat di Linimasa news.com baik berupa teks, gambar serta segala bentuk grafis adalah menjadi hak cipta Linimasanews.com Misi : * Menampilkan dan menyalurkan informasi terbaru, aktual dan faktual yang bersifat edukatif, Inspiratif, inovatif dan memotivasi. * Mewadahi bakat dan/atau minat sahabat lini masa untuk turut berkontribusi membangun kesadaran umat tentang fakta kebutuhannya mengembalikan kehidupan Islam melalui literasi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini