Menjadi Lelaki Sejati

0
81

Oleh: Satya Widarma, S.H., M.Hum.
(Penasehat Hukum Media Linimasa)

Boleh jadi, Anda sebagai laki-laki secara tanpa sadar memperlakukan diri terlalu keras dan zalim. Sehingga, Anda kehilangan kesempatan untuk menyayangi diri sendiri. Sebab, jika Anda telah memperlakukan diri dengan baik, Anda tentu menemukan jati diri secara maskulin hingga potensi diri Anda yang sebenarnya muncul secara optimal.

Ini membuat Anda menjadi lebih paham bahwa ternyata, memperlakukan diri sendiri bagi laki-laki, yang terbaik adalah menjai sosok yang secara praktis dapat memimpin, mengayomi, dan memperhatikan seluruh anggota keluarga, baik itu istri maupun anak keturunannya. Bukan berburu wanita seolah predator yang hanya akan puas ketika mendapatkan wanita baru. Apabila dicermati dari segi jumlah, wanita itu banyak sekali jumlahnya. Artinya, jika anda berorientasi pada jumlah, maka anda tidak akan pernah puas.

Perlu diketahui, menurut Imam Ibnul Jauzy rahimahullah dalam Dzammul Hawa, hlm 488, “Sebagian orang ada yang berpaling dari istrinya dan lebih senang dengan wanita lain. Padahal, bisa jadi istrinya lebih baik. Hal itu karena aib-aib wanita lain belum dia ketahui dan seringnya baru tersingkap setelah bergaul dengannya. Oleh karena itulah, jika dia telah bergaul dengan wanita baru yang dia cintai ini dan pergaulan telah menyingkap apa yang sebelumnya tertutupi, dia pun akan merasa bosan dan ingin mencari wanita lain tanpa pernah merasa puas.”⁣

Dengan pemahaman yang mendalam tentang diri Anda sebagai laki-laki dalam jatinya sebagai manusia berjenis kelamin laki-laki, selain dari ketaqwaan yang tentu harus dibangun secara kokoh, Anda harus menemukan strategi-strategi secara duniawi untuk menangani problematika duniawi itu sendiri.

Bukan tanpa alasan. Sebab, sebagaimana Allah menciptakan hamparan dunia begitu indah, lengkap dengan keragaman muatannya. Menganugerahkan kepada manusia berbagai kekayaan penuh pesona. Anak, istri, harta, tahta, dan dunia seluruhnya begitu menyejukkan mata. Allah berfirman yang artinya:

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali ‘Imran: 14)

Ayat di atas menjelaskan bahwa mencintai wanita dan dunia adalah fitrah manusia khususnya yang berjenis kelamin laki-laki. Seorang laki-laki tidak dilarang mencintai wanita selama aplikasi cintanya tidak melanggar syariat. Seorang manusia tidak dilarang mencintai dunia selama kecintaannya tidak menjerumuskan kepada maksiat.

Namun sadarkah, sejatinya di balik keindahan itu semua adalah fitnah (ujian) untuk manusia? Itu sebabnya, tulisan ini sebenarnya bukan dibuat untuk sekadar mendakwahkan ajaran Islam. Islam sebenarnya sudah memuat mengenai dalil syar’i tentang bagaimana laki-laki harus bersikap terhadap wanita. Akan tetapi, lebih pada usaha menemukan strategi duniawi yang menginternalisasi baik di dalam hati maupun secara akal manusia.

Dalam praktiknya, laki-laki, cepat atau lambat akan bersinggungan dengan masyarakat, baik itu dalam pekerjaannya, maupun dalam profesinya. Terlebih dengan sistem pergaulan yang diberlakukan oleh negara (sebagai institusi yang berwenang mengurusi persoalan publik), bukanlah sistem pergaulan Islam, tentu kemungkinan-kemungkinan dan kesempatan-kesempatan bercampur baur dalam berinteraksi dengan wanita sangatlah besar peluangnya.

Dalam pengalaman penulis sebagai seorang Advokat, interaksi dengan wanita itu bukan saja sekadar besar kemungkinan dan kesempatannya. Melainkan, bahkan seolah ada keharusan untuk memahami sikap batin klien wanita. Tanya jawab bahkan pendampingan dengan klien wanita dalam rangka penanganan perkara yang terkadang tidak terlihat batas duduk perkaranya dikarenakan harus menggali sebab akibat dari perkara tersebut. Ujian ini bisa lebih besar. Bahkan, bisa tidak lolos ujian apabila hanya sekedar mengandalkan pengetahuan dalil syar’i, namun tidak diimbangi dengan strategi secara duniawi.

Penulis memberikan gambaran strategi secara duniawi untuk mengakomodir perkara duniawi. Seperti, kondisi-kondisi pada laki-laki yang berpotensi terlibat dengan kesempatan-kesempatan penyalahgunaan pergaulan di dalam perjalanan kehidupan.

Selain itu, karena laki-laki secara umum, pada dasarnya cenderung terlibat dalam urusan menambah jumlah wanita yang bisa dinikahinya (pernikahan secara poligami). Biasanya, dengan membawa dalil tentang kebolehannya menurut syara’. Namun, sayangnya tidak memperhatikan akibat yang ditimbulkan dari kebolehan itu secara komprehensif.

Hal ini berdasarkan fakta bahwa masih banyaknya probematika hukum keluarga, seperti kekerasan pada perempuan dan anak, perceraian, penelantaran, dan sebagainya. Alasan inilah yang mendasari pentingnya mencari strategi secara duniawi yang mengakomodir persoalan duniawi.

Tulisan ini tentu saja tidak cukup menguraikan seluruh strategi-strategi secara duniawi untuk mengakomodir persoalan duniawi berkaitan dengan dunia laki-laki terhadap wanita, yang tidak akan habis ditulis kecuali melalui penjabaran yang menjadi sebuah buku.

Akan tetapi, perlu Anda ketahui. Secara garis besar, beberapa cara agar Anda dapat terjaga dari penyalahgunaan pergaulan adalah dengan melibatkan istri Anda ketika anda merasa berpotensi besar bergesekan dengan pergaulan yang rentan. Karena, harus diakui, wanita diberkahi dengan intuisi yang jauh lebih berkualitas ketimbang laki-laki.

Karenanya, sebenarnya istri adalah penjaga terbaik untuk pergaulan laki-laki, utamanya yang menyandang status sebagai suami. Termasuk dalam hal ini adalah tentang kehendak untuk menambah jumlah istri.

Anda tidak dapat mengesampingkan begitu saja kedudukan istri Anda sebagai makhluk berintuisi luar biasa. Karena, boleh jadi di tengah zaman yang tidak menerapkan pergaulan secara Islam ini, intuisi istri Anda jauh lebih bisa diandalkan untuk menimbang siapa wanita yang layak untuk Anda dan keluarga Anda di luar dirinya.

Namun, perlu Anda ketahui pula, seluruh uraian tersebut di atas menjadi mentah dan tidak bermanfaat apabila Anda masih belum menemukan jati diri laki-laki Anda sebagai pemimpin, pengayom, dan pengurus dari sebuah institusi terkecil yakni keluarga.

Sebab, tanpa jati diri laki-laki itu, yang ada justru laki-laki hanya ingin dilayani, bahkan diurus, bukan melayani atau mengurus, hal mana menyebabkan kedudukan wanita, utamanya yang menyandang status sebagai istri, justru menjadi tulang punggung dalam keluarga.

Dalam praktiknya, ini sangat membebani seorang wanita karena di luar kemampuannya. Karenanya pula, dapat kita jumpai berbagai contohnya. Apabila mencermati substansi perkara terutama perceraian, wanita banyak merasa tertekan dan stres di dalam keluarganya.

Bahagiakan wanita-wanita Anda karena sebenarnya kebahagiaan kita sebagai laki-laki terletak pada ketenangan batin dan kebahagiaan wanita-wanita kita. Demikian sebaik-baik laki-laki memperlakukan dirinya sesuai fitrahnya sebagai pemimpin, pengayom dan pengurus institusi terkecil, yakni keluarga.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini