Menulis Asik Dengan PUEBI

0
185

Tentang Tanda Baca
Bagian 2

Oleh: Afiyah Rasyad

Literasi memang tidak bisa lepas dari PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia). Sekalipun tulisan itu karya-karya sastra. Maka sangat penting bagi penulis untuk memahami kegunaan PUEBI dalam menuangkan idenya.

Di 3 bagian sebelumnya membahas tentang Penggunaan Huruf, maka di bagian ini sudah memasuki bagian kedua dari empat pembahasan PUEBI, yakni tentang Pemakaian Tanda Baca.

Coba bayangkan, jika kemudian dalam satu paragraf tulisan tidak ada titik, koma, tanda seru, tanda tanya, tanda hubung, apa yang terjadi? Pusing pasti yang baca, bisa jadi yang menulis pun bingung. Maka harus dimulai untuk memahami PUEBI, tidak boleh dicuekin lagi. Langsung ya…

PEMAKAIAN TANDA BACA
3. Tanda Titik Koma (;)
3.1 Tanda titik koma dapat digunakan sebagai pengganti kata penghubung untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari
kalimat setara yang lain di dalam kalimat majemuk.

Contoh:
Hari sudah malam; anak-anak masih membaca buku.

Ayah menyelesaikan pekerjaan; Ibu menulis makalah; Adik menulis cerita pendek.

3.2 Tanda titik koma digunakan pada akhir perincian yang berupa klausa.

Contoh:
Syarat penerimaan pegawai di lembaga ini adalah
(1) berkewarganegaraan Indonesia;
(2) berijazah sarjana S-1;
(3) berbadan sehat; dan
(4) bersedia ditempatkan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

3.3 Tanda titik koma digunakan untuk memisahkan bagian-bagian pemerincian dalam kalimat yang sudah menggunakan tanda koma.

Contoh:
Ibu membeli buku, pensil, dan tinta; baju, celana, dan kaus; pisang, apel, dan jeruk.

Agenda rapat ini meliputi
a. pemilihan ketua, sekretaris, dan bendahara;
b. penyusunan anggaran dasar, anggaran rumah tangga, dan program kerja; dan
c. pendataan anggota, dokumentasi, dan aset organisasi.

4. Tanda Titik Dua (:)
4.1 Tanda titik dua digunakan pada akhir suatu pernyataan lengkap yang diikuti pemerincian atau penjelasan.

Contoh:
Mereka memerlukan perabot rumah tangga: kursi, meja, dan lemari.

4.2 Tanda titik dua tidak digunakan jika perincian atau penjelasan itu merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan.

Contoh:
Kita memerlukan kursi, meja, dan lemari.

Tahap penelitian yang harus dilakukan meliputi
a. persiapan,
b. pengumpulan data,
c. pengolahan data, dan
d. pelaporan.

4.3 Tanda titik dua digunakan sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerincian.

Contoh:
a. Ketua : Ahmad Wijaya
Sekretaris : Siti Aryani
Bendahara: Aulia Arimbi

c. Narasumber : Prof. Dr. Rahmat Kurnia
Pemandu : Abdul Gani, M.Hum.
Pencatat : Farid, S.Pd.

4.4 Tanda titik dua digunakan dalam naskah drama sesudah kata
yang menunjukkan pelaku dalam percakapan.

Contoh:
Ibu : “Bawa koper ini, Nak!”
Amir: “Baik, Bu.”
Ibu : “Jangan lupa, letakkan baik-baik!”

4.5 Tanda titik dua digunakan di antara (a) jilid atau nomor dan halaman, (b) surah dan ayat dalam kitab suci, (c) judul dan anak judul suatu karangan, serta (d) nama kota dan penerbit dalam daftar pustaka.

Contoh:
Horison, XLIII, No. 8/2008: 8

Surah Albaqarah: 2—5

Dari Pemburu ke Terapeutik: Antologi Cerpen Nusantara Pedoman Umum Pembentukan Istilah. Jakarta: Pusat Bahasa.

5. Tanda Hubung (-)
5.1 Tanda hubung digunakan untuk menandai bagian kata yang terpenggal oleh pergantian baris.

Contoh:
Di samping cara lama, diterapkan juga ca-
ra baru ….

Nelayan pesisir itu berhasil membudidayakan rum-
put laut.

Kini ada cara yang baru untuk meng-
ukur panas.

5.2 Tanda hubung digunakan untuk menyambung unsur kata ulang.

Contoh:
anak-anak
berulang-ulang
kemerah-merahan
mengorek-ngorek

5.3 Tanda hubung digunakan untuk menyambung tanggal, bulan, dan tahun yang dinyatakan dengan angka atau menyambung huruf dalam kata yang dieja satu-satu.

Contoh:
11-11-2013

p-a-n-i-t-i-a

4. Tanda hubung dapat digunakan untuk memperjelas hubungan bagian kata atau ungkapan.

Contoh:

meng-ukur

dua-puluh-lima ribuan (25 x 1.000)

²³∕₂₅ (dua-puluh-tiga perdua-puluh-lima)

mesin hitung-tangan

Bandingkan dengan
me-ngukur

dua-puluh lima-ribuan (20 x 5.000)

20 ³∕₂₅ (dua-puluh tiga perdua-puluh-lima)

mesin-hitung tangan

5.5 Tanda hubung digunakan untuk merangkai
a. se- dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf
kapital (se-Indonesia, se-Jawa Barat);

b. ke- dengan angka (peringkat ke-2);

c. angka dengan –an (tahun 1990-an);

d. kata atau imbuhan dengan singkatan yang berupa huruf kapital (hari-H, sinar-X, ber-KTP, di-SK-kan);

e. kata dengan kata ganti Tuhan (ciptaan-Nya, atas rahmat-Mu);

f. huruf dan angka (D-3, S-1, S-2); dan

g. kata ganti -ku, -mu, dan -nya dengan singkatan yang berupa huruf kapital (KTP-mu, SIM-nya, STNK-ku).

Catatan:
Tanda hubung tidak digunakan di antara huruf dan angka jika angka tersebut melambangkan jumlah huruf.

Contoh:
BNP2TKI (Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia)

LP3I (Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Profesi Indonesia)

P3K (pertolongan pertama pada kecelakaan)

5.6 Tanda hubung digunakan untuk merangkai unsur bahasa Indonesia dengan unsur bahasa daerah atau bahasa asing.

Contoh:
di-sowan-i (bahasa Jawa, ‘didatangi’)

ber-pariban (bahasa Batak, ‘bersaudara sepupu’)

di-back up

me-recal

pen-tackle-an

5.7 Tanda hubung digunakan untuk menandai bentuk terikat yang menjadi objek bahasan.

Contoh:
Kata pasca- berasal dari bahasa Sanskerta.

Akhiran -isasi pada kata betonisasi sebaiknya diubah menjadi pembetonan.

Artikulli paraprakCahaya Mulia Telah Tiba
Artikulli tjetërAda Mafia Besar di Balik Impor Alkes dan Obat-obatan?
Visi : Menjadi media yang berperan utama dalam membangun kesadaran umat tentang fakta kebutuhan mengembalikan kehidupan Islam. Semua isi berupa teks, gambar, dan segala bentuk grafis di situs ini hanya sebagai informasi. Kami berupaya keras menampilkan isi seakurat mungkin, tetapi Linimasanews.com dan semua mitra penyedia isi, termasuk pengelola konsultasi tidak bertanggungjawab atas segala kesalahan dan keterlambatan memperbarui data atau informasi, atau segala kerugian yang timbul karena tindakan berkaitan penggunaan informasi yang disajikan. Linimasanews.com tidak bertanggungjawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis yang dihasilkan dan disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik “publik” seperti Opini, Suara Pembaca, Ipteng, Reportase dan lainnya. Namun demikian, Linimasanews.com berhak mengatur dan menyunting isi dari pembaca atau pengguna agar tidak merugikan orang lain, lembaga, ataupun badan tertentu serta menjauhi isi berbau pornografi atau menyinggung sentimen suku, agama dan ras. Segala isi baik berupa teks, gambar, suara dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Linimasanews.com. Semua hasil karya yang dimuat di Linimasa news.com baik berupa teks, gambar serta segala bentuk grafis adalah menjadi hak cipta Linimasanews.com Misi : * Menampilkan dan menyalurkan informasi terbaru, aktual dan faktual yang bersifat edukatif, Inspiratif, inovatif dan memotivasi. * Mewadahi bakat dan/atau minat sahabat lini masa untuk turut berkontribusi membangun kesadaran umat tentang fakta kebutuhannya mengembalikan kehidupan Islam melalui literasi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini