Menulis Asik Dengan PUEBI

0
245

Tentang Tanda Baca
Bagian 1

Afiyah Rasyad

Literasi memang tidak bisa lepas dari PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia). Sekalipun tulisan itu karya-karya sastra. Maka sangat penting bagi penulis untuk memahami kegunaan PUEBI dalam menuangkan idenya.

Di 3 bagian sebelumnya membahas tentang Penggunaan Huruf, maka di bagian ini sudah memasuki bagian kedua dari empat pembahasan PUEBI, yakni tentang Pemakaian Tanda Baca.

Coba bayangkan, jika kemudian dalam satu paragraf tulisan tidak ada titik, koma, tanda seru, tanda tanya, tanda hubung, apa yang terjadi? Pusing pasti yang baca, bisa jadi yang menulis pun bingung. Maka harus dimulai untuk memahami PUEBI, tidak boleh dicuekin lagi. Langsung ya…

PEMAKAIAN TANDA BACA
1. Tanda Titik (.)
Titik (.) memiliki posisi dan kegunaan yang beraneka macam.

1.1 Tanda titik digunakan pada akhir kalimat pernyataan. Hati-hati jika mengakhiri kalimat pernyataan, bubuhkan titik. Biar tidak kabur.

Contoh:
Kami sedang tahfidz Qur’an.
Dia akan datang pada acara bakti sosial di kampungku.

1.2 Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, atau daftar.
Biasanya yang ada di makalah, thesis, karya ilmiah, artikel, dll.
Contoh:
a. I Kembalinya Kota Syam
A. Yerussalem
1. Kedudukan
1.1 Sebelum PD I
1.2 Setelah PD I
2. Kondisi

B. Suriah
1. Kedudukan
2. Kondisi

Catatan:
(1) Tanda titik tidak digunakan pada angka atau huruf yang sudah bertanda kurung dalam suatu perincian.

Contoh:
Bahasa Indonesia berkedudukan sebagai
1) bahasa nasional yang berfungsi, antara lain,
a) lambang kebanggaan nasional,
b) identitas nasional, dan
c) alat pemersatu bangsa;
2) bahasa negara ….

(2) Tanda titik tidak digunakan pada akhir penomoran digital yang lebih dari satu angka (seperti pada 2b).

(3) Tanda titik tidak digunakan di belakang angka atau angka terakhir dalam penomoran deret digital yang lebih dari satu angka dalam judul tabel, bagan, grafik, atau gambar.

Contoh:
Tabel 1 Kondisi Kebahasaan di Indonesia
Tabel 1.1 Kondisi Bahasa Daerah di Indonesia
Bagan 2 Struktur Organisasi
Bagan 2.1 Bagian Umum
Grafik 4 Sikap Masyarakat Perkotaan terhadap Bahasa Indonesia
Grafik 4.1 Sikap Masyarakat

1.3 Tanda titik digunakan untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan waktu atau jangka waktu.

Cintoh:
pukul 01.35.20 (pukul 1 lewat 35 menit 20 detik atau pukul 1, 35 menit, 20 detik)
01.35.20 jam (1 jam, 35 menit, 20 detik)
00.20.30 jam (20 menit, 30 detik)
00.00.30 jam (30 detik)

1.4 Tanda titik digunakan dalam daftar pustaka di antara nama penulis, tahun, judul tulisan (yang tidak berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru), dan tempat terbit.

Contoh:
Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional. 2008.
Peta Bahasa di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jakarta.
Moeliono, Anton M. 1989. Kembara Bahasa. Jakarta: Gramedia.

1.5 Tanda titik digunakan untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang menunjukkan jumlah.

Contoh:
Indonesia memiliki lebih dari 13.000 pulau.
Penduduk kota itu lebih dari 7.000.000 orang.
Anggaran lembaga itu mencapai Rp225.000.000.000,00.

Catatan:
(1) Tanda titik tidak dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang tidak menunjukkan jumlah.

C0ntoh:
Dia lahir pada tahun 1999 di Bandung.

Nomor rekening panitia seminar adalah
0015645678.

(2) Tanda titik tidak digunakan pada akhir judul yang merupakan kepala karangan, ilustrasi, atau tabel.

Contoh:
Menyulam Mimpi Kelabu

Gambar 3 Alat Ucap Manusia

(3) Tanda titik tidak digunakan di belakang : (a) alamat
penerima dan pengirim surat serta (b) tanggal surat.

Contoh:
Yth. Direktur Taman Ismail Marzuki
Jalan Cikini Raya No. 73
Menteng
Jakarta 10330

2. Tanda Koma (,)
2.1 Tanda koma digunakan di antara unsur-unsur dalam suatu pemerincian atau pembilangan.

Contoh:
Telepon seluler, gadget, komputer, laptop, atau internet bukan barang
asing lagi.

Buku, majalah, dan jurnal termasuk sumber kepustakaan.
Satu, dua, … tiga!

2.2 Tanda koma digunakan sebelum kata penghubung, seperti tetapi, melainkan, dan sedangkan, dalam kalimat majemuk
(setara).

Contoh:
Saya ingin membeli kamera, tetapi uang saya belum cukup.

Ini bukan milik saya, melainkan milik ayah saya.

Dia membaca cerita pendek, sedangkan adiknya melukis
panorama.

2.3 Tanda koma digunakan untuk memisahkan anak kalimat yang
mendahului induk kalimatnya.

Contoh:
Kalau diundang, saya akan datang.
Karena baik hati, dia mempunyai banyak teman.
Agar memiliki wawasan yang luas, kita harus banyak membaca buku.

Catatan:
Tanda koma tidak digunakan jika induk kalimat mendahului anak kalimat.

Contoh:
Saya akan datang kalau diundang.

Dia mempunyai banyak teman karena baik hati.

Kita harus banyak membaca buku agar memiliki wawasan yang luas.

2.4 Tanda koma digunakan di belakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat, seperti oleh karena itu, jadi, dengan demikian, sehubungan dengan itu, dan meskipun demikian.

Contoh:
Mahasiswa itu rajin dan pandai. Oleh karena itu, dia
memperoleh beasiswa belajar di luar negeri.

Anak itu memang rajin tahfidz sejak kecil. Jadi, wajar
kalau dia menjadi guru tahfidz sejak usia 13 tahun.

2.5 Tanda koma digunakan sebelum dan/atau sesudah kata seru,
seperti o, ya, wah, aduh, atau hai, dan kata yang dipakai sebagai sapaan, seperti Bu, Dik, atau Nak.

Contoh:
O, begitu?
Wah, bukan main!
Hati-hati, ya, jalannya licin!
Nak, kapan selesai kuliahmu?
Siapa namamu, Dik?
Dia baik sekali, Bu.

2.6 Tanda koma digunakan untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat.

Contoh:
Kata nenek saya, “Kita harus berbagi dalam hidup ini.”

“Kita harus berbagi dalam hidup ini,” kata nenek saya, “karena manusia adalah makhluk sosial.”

Catatan:
Tanda koma tidak digunakan untuk memisahkan petikan langsung yang berupa kalimat tanya, kalimat perintah, atau kalimat seru dari bagian lain yang mengikutinya.

Contoh:
“Di mana Saudara tinggal?” tanya Pak Lurah.

“Masuk ke dalam kelas sekarang!” perintahnya.

2.7 Tanda koma digunakan di antara (a) nama dan alamat, (b) bagian-bagian alamat, (c) tempat dan tanggal, serta (d) nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan.

Contoh:
Sdr. Abdullah, Jalan Kayumanis III/18, Kelurahan Kayu-
manis, Kecamatan Matraman, Jakarta 13130

Dekan Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia,
Jalan Salemba Raya 6, Jakarta
Surabaya, 10 Mei 1960
Tokyo, Jepang

2.8 Tanda koma digunakan untuk memisahkan bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka.

Contoh:
Gunawan, Ilham. 1984. Kamus Politik Internasional. Jakarta: Restu Agung.
Halim, Amran (Ed.) 1976. Politik Bahasa Nasional. Jilid 1. Jakarta: Pusat Bahasa.

2.9 Tanda koma digunakan di antara bagian-bagian dalam catatan kaki atau catatan akhir.

Contoh:
Sutan Takdir Alisjahbana, Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia, Jilid 2 (Jakarta: Pustaka Rakyat, 1950), hlm. 25.

2.10 Tanda koma digunakan di antara nama orang dan singkatan gelar akademis yang mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga.

Contoh:
B. Ratulangi, S.E.
Ny. Khadijah, M.A.
Bambang Irawan, M.Hum.
Siti Aminah, S.H., M.H.

Catatan:
Bandingkan Siti Khadijah, M.A. (gelar akademik) dengan Siti Khadijah M.A. (Siti Khadijah Mas Agung).

2.11 Tanda koma digunakan sebelum angka desimal atau di antara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka.

Contoh:
12,5 m
27,3 kg
Rp500,50
Rp750,00

2.12 Tanda koma digunakan untuk mengapit keterangan tambahan
atau keterangan aposisi.

Contoh:
Pejabat yang bertanggung jawab, sebagaimana dimaksud pada ayat (3), wajib menindaklanjuti laporan dalam waktu paling lama tujuh hari.

Bandingkan dengan keterangan pewatas yang pemakaiannya tidak diapit tanda koma!
Siswa yang lulus dengan nilai tinggi akan diterima di perguruan tinggi itu tanpa melalui tes.

2.13 Tanda koma dapat digunakan di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat untuk menghindari salah baca/salah pengertian.

Contoh:
Dalam pengembangan bahasa, kita dapat memanfaatkan bahasa daerah.

Atas perhatian Saudara, kami ucapkan terima kasih.

Bandingkan dengan:
Dalam pengembangan bahasa kita dapat memanfaatkan
bahasa daerah.

Atas perhatian Saudara kami ucapkan terima kasih.

Artikulli paraprakAmbruknya Keangkuhan Kapitalis
Artikulli tjetërBinar Mata Bungsu Sambut Ramadhan
Visi : Menjadi media yang berperan utama dalam membangun kesadaran umat tentang fakta kebutuhan mengembalikan kehidupan Islam. Semua isi berupa teks, gambar, dan segala bentuk grafis di situs ini hanya sebagai informasi. Kami berupaya keras menampilkan isi seakurat mungkin, tetapi Linimasanews.com dan semua mitra penyedia isi, termasuk pengelola konsultasi tidak bertanggungjawab atas segala kesalahan dan keterlambatan memperbarui data atau informasi, atau segala kerugian yang timbul karena tindakan berkaitan penggunaan informasi yang disajikan. Linimasanews.com tidak bertanggungjawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis yang dihasilkan dan disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik “publik” seperti Opini, Suara Pembaca, Ipteng, Reportase dan lainnya. Namun demikian, Linimasanews.com berhak mengatur dan menyunting isi dari pembaca atau pengguna agar tidak merugikan orang lain, lembaga, ataupun badan tertentu serta menjauhi isi berbau pornografi atau menyinggung sentimen suku, agama dan ras. Segala isi baik berupa teks, gambar, suara dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Linimasanews.com. Semua hasil karya yang dimuat di Linimasa news.com baik berupa teks, gambar serta segala bentuk grafis adalah menjadi hak cipta Linimasanews.com Misi : * Menampilkan dan menyalurkan informasi terbaru, aktual dan faktual yang bersifat edukatif, Inspiratif, inovatif dan memotivasi. * Mewadahi bakat dan/atau minat sahabat lini masa untuk turut berkontribusi membangun kesadaran umat tentang fakta kebutuhannya mengembalikan kehidupan Islam melalui literasi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini