Menyoal Urgensitas Perpres Penanggulangan Ekstremisme

0
32

Oleh: Renita (Aktivis Muslimah)

Linimasanews.com- Presiden Joko Widodo akhirnya menandatangani Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 7 Tahun 2021 tentang Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme (RAN PE) pada 6 Januari 2021. Penyebabnya karena semakin meningkatnya ancaman ekstremisme berbasis kekerasan yang mengarah pada terorisme di Indonesia. Pro dan kontra pun timbul pascapenerbitan perpres tersebut.

Dalam pertimbangan perpres yang menjadi payung hukum penanggulangan ekstremisme, disebutkan bahwa dalam rangka mencegah dan menanggulangi ekstremisme berbasis kekerasan yang mengarah pada terorisme, diperlukan adanya langkah komprehensif. Untuk itu, perlu dilakukan dengan memastikan langkah yang sistematis, terencana, dan terpadu dengan melibatkan peran aktif seluruh pemangku kepentingan (detik.com, 17/1/2021).

Penjelasan ekstremisme yang termaktub dalam Perpres Nomor 7 Tahun 2021 itu yakni keyakinan dan atau tindakan yang menggunakan cara-cara kekerasan atau ancaman kekerasan ekstrem dengan tujuan mendukung atau melakukan aksi terorisme. Sementara itu, pengamat terorisme dan koalisi sipil menilai perpres tersebut rawan disalahgunakan oleh kelompok tertentu. Sebab, tidak adanya kejelasan batas ekstremisme di Indonesia. Dalam perpres tersebut masyarakat diperbolehkan untuk melapor ke polisi jika mencurigai adanya individu atau kelompok yang ditengarai sebagai seorang ekstremis.

Perpres Penanggulangan Ekstremisme, Perlukah?

Adanya perpres terkait penanggulangan ekstremisme ini mengindikasikan bahwa pemerintah memang menganggap ekstremisme merupakan hal yang mendesak untuk segera diatasi. Pengesahan RAN-PE pun diklaim sebagai upaya untuk merespons tumbuh kembang ekstremisme berbasis kekerasan yang mengarah kepada terorisme. Sebab, ekstremisme telah menciptakan kegentingan yang dapat mengancam hak atas rasa aman dan juga mengancam stabilitas nasional.

Namun, Pengamat Terorisme Ridlwan Habib mengatakan, definisi ekstremisme yang tercantum dalam RAN PE bersifat multitafsir dan terlalu luas sehingga sulit dipahami. Terlebih, masyarakat saat ini memahami ekstremis identik dengan seseorang yang mengenakan pakaian tertentu. Selain itu, penjelasan terkait ekstremisme harus rinci dan detail. Sehingga, tidak ditafsirkan macam-macam oleh oposisi atau pihak yang kontra terhadap pemerintah. Sebab, penjelasan prematur dapat memicu tudingan bahwa perpres tersebut sengaja digunakan untuk mengkriminalkan kelompok yang berseberangan dengan pemerintah (bbc.com, 20/01/2021).

Oleh karena itu, akan sangat berbahaya ketika definisi ekstremisme tidak dijelaskan secara rinci terkait batasan paham apa saja yang dapat dikategorikan ekstremisme. Sebab, ketiadaan definisi yang jelas dan objektif, tentu akan sulit untuk memvalidasi kebenaran terkait hal tersebut. Sehingga, dikhawatirkan membuat pemerintah berpotensi menjadi aktor tunggal yang dapat memonopoli kebenaran suatu definisi. Apalagi, ekstremisme selama ini sering disematkan kepada para pelaku dakwah Islam dan umat Islam yang istiqomah terhadap ajarannya.

Padahal, permasalahan utama masyarakat saat ini bukanlah ekstremisme. Tetapi, hantaman pandemi yang belum juga usai, kesenjangan ekonomi, kemiskinan, kelaparan, pengangguran dan serta bencana alam yang datang secara bertubi-tubi. Inilah yang harusnya menjadi fokus pemerintah saat ini, yakni memenuhi kebutuhan dasar rakyat. Bukan malah mengesahkan perpres yang belum jelas urgensitasnya.

Demikian pula, jika pemerintah serius ingin memberantas terorisme, bukankah sudah ada UU Terorisme yang dapat menjadi payung hukum terkait masalah tersebut? Selain itu, apakah perpres ini akan benar-benar diberlakukan untuk memberantas tindakan terorisme ataukah memang ada motif yang lain?

Tak dimungkiri, selama ini UU Terorisme memang hanya diberlakukan untuk menjerat pelaku teroris dengan latar belakang seorang muslim. Sedangkan, kelompok separatis dan pemberontak di Papua yang sudah jelas mengancam keutuhan NKRI, tak pernah sekalipun tersentuh oleh hukum layaknya kasus terorisme. Akan tetapi, kasus tersebut hanya ditangani sebagaimana kelompok kriminal bersenjata biasa.

Tambahan pula, program yang dilahirkan oleh perpres ini juga berpotensi menyulut konflik adu domba dan saling curiga di antara masyarakat. Hal ini tentu dapat merusak tatanan kehidupan masyarakat serta rentan akan adanya perpecahan antarmasyarakat.

Pun, RAN PE ini berpeluang membawa umat pada pemahaman yang salah terhadap Islam. Ketika ektremisme ini didefinisikan berdasarkan persepsi subjektif semata, tentu akan semakin menjauhkan umat dari kebenaran Islam yang hakiki. Padahal, sekalipun Islam tegas dalam menempatkan yang haq dan batil, bukan berarti hal ini menjadi celah untuk melabeli seseorang dengan sebutan ekstremis hanya karena tidak sejalan dengan kepentingan penguasa.

Perlu disadari bahwa sikap penguasa saat ini memang merupakan representasi dari ideologi yang dianutnya. Meski mengaku muslim, namun nyatanya mereka menerima ide sekularisme yang memisahkan peran agama dari kehidupan. Maka, definisi ekstremisme yang termaktub dalam perpres ini juga sangat rentan untuk menjerat individu yang bersebrangan dengan ideologi demokrasi sekuler. Sebab, siapa saja yang menjadikan agama sebagai landasan berpikir untuk kehidupan, akan dilabeli sebagai seorang ekstremis yang wajib dimusuhi. Sebaliknya, siapa saja yang berpikiran sekuler, maka akan dijadikan sebagai teman dekatnya.

Lantas, bagaimanakah pandangan Islam terkait adanya kemungkinan perilaku saling curiga antarmasyarakat yang disebabkan adanya RAN PE ini? Adakah langkah yang dapat dilakukan dalam rangka mencegah munculnya sikap adu domba dan saling curiga antarmasyarakat?

Islam Melarang Adu Domba dan Saling Curiga

Islam adalah agama yang mengajarkan persaudaraan dan melarang keras umatnya untuk melakukan adu domba dan saling curiga. Sikap adu domba atau namimah merupakan sesuatu yang sangat dilarang dalam Islam. Sebab, dapat memunculkan adanya benih-benih permusuhan dan perpecahan.

Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, seharusnya saling bantu dan menguatkan satu sama lain, bukan malah saling benci dan mencurigai. Allah Swt. berfirman, “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat” (QS. Al Hujurat: 10).

Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw. bersabda, “Maukah kalian aku beritahu tentang orang-orang yang paling buruk diantara kalian? Yaitu orang-orang yang pekerjaannya menghasut (adu domba), yang gemar menceraiberaikan orang-orang yang saling mengasihi dan yang suka mencari kekurangan pada manusia yang tidak berdosa” (HR. Al-Bukhari).

Hadits di atas menunjukan betapa buruknya perilaku orang-orang yang senantiasa memunculkan permusuhan dan pertengkaran. Padahal, Islam memerintahkan kita untuk selalu menebarkan perdamaian, saling membantu dan saling mengasihi. Sehingga, dapat terhindar dari perpecahan. Adapun langkah yang dapat dilakukan dalam rangka mencegah munculnya sikap adu domba dan saling curiga antarmasyarakat, di antaranya:

Pertama, penguatan akidah dan tsaqofah Islam di tengah umat. Pembinaan diri dan umat Islam ini hendaknya dilakukan secara berkesinambungan. Sehingga, umat akan mendapatkan gambaran secara utuh terkait ajaran Islam.

Kedua, menanamkan kesadaran politik kepada masyarakat. Perlu adanya upaya untuk menyadarkan umat terkait isu-isu ekstremisme dan terorisme yang sengaja digencarkan untuk menjauhkan umat dari pemahaman Islam yang sesungguhnya. Sehingga, umat tidak mudah terpengaruh dengan narasi ekstremisme yang sengaja dimunculkan oleh pihak tertentu.

Ketiga, mengokohkan persaudaraan seakidah dan menyamakan pemahaman terkait musuh yang sesungguhnya. Sejatinya, musuh umat Islam saat ini adalah ideologi kapitalisme sekuler yang kian mencengkeram dalam diri masyarakat, bukan sesama umat Islam. Maka, perpecahan hanya akan melemahkan umat Islam. Oleh karena itu, jangan mau untuk diadu domba sesama muslimin!

Keempat, memperjuangkan hadirnya kekuatan politik global yang dapat menghadang berbagai narasi yang menyesatkan umat. Saat ini, memang sedang terjadi “pertarungan” antara ideologi kapitalis sekuler dan ideologi Islam.

Namun, ideologi Islam ini hanya diemban oleh individu atau kelompok dakwah saja. Sementara, ideologi kapitalis diemban oleh banyak negara. Maka dari itu, umat harus memiliki kekuatan politik yang dapat mengimbangi hegemoni kapitalis, yakni Khilafah Islam. Sehingga, umat Islam tidak akan mudah untuk menjadi sasaran tembak ideologi barat.

Oleh karena itu, saatnya umat Islam untuk fokus dan serius memperjuangkan tegaknya institusi yang akan menerapkan Islam secara kaffah, seperti yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw. Semoga Allah Swt berkenan menurunkan pertolongan-Nya. Sehingga, akan segera melenyapkan dominasi sistem kehidupan yang batil. Wallahu a’lam bish shawwab.

Artikulli paraprakTransportasi dan Kebijakan Negara
Artikulli tjetërBayi 4 Bulan di Gorontalo Dicekoki Miras
Visi : Menjadi media yang berperan utama dalam membangun kesadaran umat tentang fakta kebutuhan mengembalikan kehidupan Islam. Semua isi berupa teks, gambar, dan segala bentuk grafis di situs ini hanya sebagai informasi. Kami berupaya keras menampilkan isi seakurat mungkin, tetapi Linimasanews.com dan semua mitra penyedia isi, termasuk pengelola konsultasi tidak bertanggungjawab atas segala kesalahan dan keterlambatan memperbarui data atau informasi, atau segala kerugian yang timbul karena tindakan berkaitan penggunaan informasi yang disajikan. Linimasanews.com tidak bertanggungjawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis yang dihasilkan dan disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik “publik” seperti Opini, Suara Pembaca, Ipteng, Reportase dan lainnya. Namun demikian, Linimasanews.com berhak mengatur dan menyunting isi dari pembaca atau pengguna agar tidak merugikan orang lain, lembaga, ataupun badan tertentu serta menjauhi isi berbau pornografi atau menyinggung sentimen suku, agama dan ras. Segala isi baik berupa teks, gambar, suara dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Linimasanews.com. Semua hasil karya yang dimuat di Linimasa news.com baik berupa teks, gambar serta segala bentuk grafis adalah menjadi hak cipta Linimasanews.com Misi : * Menampilkan dan menyalurkan informasi terbaru, aktual dan faktual yang bersifat edukatif, Inspiratif, inovatif dan memotivasi. * Mewadahi bakat dan/atau minat sahabat lini masa untuk turut berkontribusi membangun kesadaran umat tentang fakta kebutuhannya mengembalikan kehidupan Islam melalui literasi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini