MoU Perlindungan Anak, Benarkah Singapura Teladan?

0
54

Oleh: Titin Kartini

Linimasanews.com—Indonesia dan Singapura memperkuat kerja sama bilateral dengan menandatangani nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) terkait pemberdayaan perempuan, perlindungan anak dan pembangunan keluarga.

Menurut Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Bintang Puspayoga, penandatanganan MoU akan menjadi dukungan berharga bagi Indonesia, khususnya untuk pembangunan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak. Bintang ingin lebih mengetahui lebih jauh tentang layanan helpline bagi korban kekerasan, rumah aman, dan aturan hukum untuk efek jera bagi pelaku yang dimiliki Singapura.

Nota kesepahaman ini merupakan landasan bagi KemenPPPA dan Kementerian Pembangunan Sosial dan Keluarga (MSF) Republik Singapura untuk bekerja sama dalam pemberdayaan perempuan, perlindungan anak, dan pembangunan keluarga, seperti berbagi praktik baik dan bertukar informasi, jadwal program, partisipasi program pelatihan yang dilakukan kedua kementerian (antaranews.com, 8/10/2022).

Benarkah kerja sama ini semata-mata hanya ingin mempelajari cara negeri tetangga mengatasi permasalahan perempuan, keluarga dan anak-anak?

Setiap hari kita memang disuguhi berita-berita tentang kekerasan dalam rumah tangga, baik yang menimpa perempuan maupun anak-anak. Institusi terkecil ini memang mengalami banyak problematika kehidupan yang membuat hidup masyarakat kacau berantakan. Namun, bisakah efektif kerja sama bilateral ini mengurangi angka kekerasan dalam rumah tangga?

Sebab, sebenarnya, akar dari ini semua ialah adanya paham liberal dan sekuler yang merasuki jiwa raga masyarakat. Adanya ketidakpahaman antara hak dan kewajiban menjadi salah satu pemicu kekerasan dalam rumah tangga. Pemicu yang utama biasanya karena faktor ekonomi.

Dua akar masalah ini dimanfaatkankan oleh kaum feminis yang menginginkankan antara laki-laki dan perempuan duduk bergandengan sejajar dalam hal apa pun, termasuk pekerjaan, berpolitik, berumah tangga dan lainnya. Padahal, suatu kemustahilan semua itu akan terjadi.

Secara fisik, laki-laki dan perempuan jelas berbeda. Secara pemikiran, wanita lebih mengandalkan perasaan, lain dengan laki-laki yang lebih mengutamakan otot terlebih dahulu. Kesetaraan gender racun berbalut madu, seakan indah memihak kaum perempuan. Namun sejatinya, paham feminisme ingin menghancurkan kodrat dan fitrah perempuan. Pperempuan dipaksa melawan arus, meski bertentangan dengan hukum syara’ sekalipun. Bersembunyi dengan dalih hak asasi manusia (HAM), kaum feminis melancarkan aksinya.

Singapura menjadi salah satu negeri tetangga yang ingin dicontoh Indonesia dalam hal kesetaraan gender, dengan kerja sama bilateral. Namun, cukup efektifkah hal ini? Singapura menjadi salah satu negeri dengan tingkat kesibukan tinggi. Negeri ini terkenal dengan pusatnya bisnis negeri-negeri di kawasan Asia Tenggara. Bahkan, Singapura pun menjadi negeri teraman dan ternyaman untuk para koruptor bersembunyi.

Memang, menurut data United Nations Development Programme (UNDP) yang dipublikasikan Badan Pusat Statistik (BPS), indeks ketimbangan gender (Gender Inequality Index/GII) Singapura terendah di ASEAN, sementara Indonesia meraih skor tertinggi.

UNDP memberikan skor GII 0,065 poin kepada Singapura. Artinya, negara itu mempunyai pencapaian GII yang paling baik diantara negara-negara ASEAN lainnya. Pencapaian tersebut meliputi semua aspek, seperti kesehatan reproduksi dan fertilitas remaja yang ditandai dengan rendahnya Maternal Mortality Rate (MMR) dan Adolescence Birth Rate (ABR). Selain itu, kesetaraan capaian pendidikan, kesempatan kerja, dan keterlibatan perempuan di parlemen juga sudah sangat baik (databoks.katadata.co.id, 14/12/2021).

Namun, cukupkah data tersebut menjadi acuan Indonesia menjadikan Singapura role model dalam penanganan kesetaraan gender? Seperti kita ketahui, Singapura mayoritas beragama Budha, sementara Indonesia mayoritas Muslim, bahkan Muslim terbesar di dunia.

Padahal, sejatinya, kita mempunyai Islam yang bukan saja sebagai agama ritual, namun sebuah ideologi yang mempunyai aturan yang sempurna. Jika saja negeri ini mau mempelajari sistem interaksi antara perempuan dan laki-laki dalam Islam, serta memahami hak dan kewajibannya, dan tahu makna pernikahan serta visi dan misinya, maka kekerasan dalam rumah tangga dan anak tak akan terjadi.

Meningkatkan kerja sama bilateral Indonesia-Singapura dalam hal ini sesungguhnya hanya kedok saja. Karena, sejatinya negeri ini akan digempur dengan tsaqofah dan budaya negeri tetangga tanpa filter dari negara. Inilah yang ditakutkan. Alih-alih mengurangi masalah perempuan, malahan akan makin memperburuk keadaan.

Wahai pemimpin, sesungguhnya Allah SWT telah berfirman, “… Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridai Islam sebagai agama bagimu …”(TQS Al Maidah: 3).

Ayat tersebut menjelaskan tentang kesempurnaan Islam. Allah SWT menciptakan manusia lengkap dengan aturan yang terbaik untuk ciptaan-Nya. Semua itu telah terbukti. Rasulullah SAW, Khulafaur Rasyidin dan para khalifah setelahnya telah mencontohkan cara Islam mengatur kehidupan, bahkan mampu menguasai 2/3 dunia dan tercatat sebagai peradaban gemilang, penuh keemasan.

Maka wahai pemimpin, bukan dengan kerja sama bilateral mencontoh negeri kufur jika ingin menyelesaikan suatu permasalahan. Mari terapkan hukum-hukum Allah SWT berdasarkan Al Qur’an dan sunnah dalam bingkai Daulah Khilafah. Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam yang menyeluruh dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan adalah musuh yang nyata bagimu.” ( TQS Al Baqarah: 208).

Artikulli paraprakJauh Panggang dari Api, Kerusuhan di Papua Terus Terjadi
Artikulli tjetërBullying Tak Akan Hadir dalam Sistem Pendidikan Islam
Visi : Menjadi media yang berperan utama dalam membangun kesadaran umat tentang fakta kebutuhan mengembalikan kehidupan Islam. Semua isi berupa teks, gambar, dan segala bentuk grafis di situs ini hanya sebagai informasi. Kami berupaya keras menampilkan isi seakurat mungkin, tetapi Linimasanews.com dan semua mitra penyedia isi, termasuk pengelola konsultasi tidak bertanggungjawab atas segala kesalahan dan keterlambatan memperbarui data atau informasi, atau segala kerugian yang timbul karena tindakan berkaitan penggunaan informasi yang disajikan. Linimasanews.com tidak bertanggungjawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis yang dihasilkan dan disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik “publik” seperti Opini, Suara Pembaca, Ipteng, Reportase dan lainnya. Namun demikian, Linimasanews.com berhak mengatur dan menyunting isi dari pembaca atau pengguna agar tidak merugikan orang lain, lembaga, ataupun badan tertentu serta menjauhi isi berbau pornografi atau menyinggung sentimen suku, agama dan ras. Segala isi baik berupa teks, gambar, suara dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Linimasanews.com. Semua hasil karya yang dimuat di Linimasa news.com baik berupa teks, gambar serta segala bentuk grafis adalah menjadi hak cipta Linimasanews.com Misi : * Menampilkan dan menyalurkan informasi terbaru, aktual dan faktual yang bersifat edukatif, Inspiratif, inovatif dan memotivasi. * Mewadahi bakat dan/atau minat sahabat lini masa untuk turut berkontribusi membangun kesadaran umat tentang fakta kebutuhannya mengembalikan kehidupan Islam melalui literasi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini