Panduan Islam dalam Berumah Tangga

0
128

Oleh: Hamnah B. Lin

Linimasanews.com-Berbagai upaya pemerintah untuk mencegah terjadinya kekerasan dalam rumah tangga terus ditempuh. Program baru diluncurkan, yakni Griya Curhat Keluarga.

“KDRT hingga saat ini terus menimpa perempuan dan anak di Jawa Timur. Kita hadir untuk menjadi konselor yang mampu memediasi dan menjadi langkah solutif bagi korban,” kata Anik saat memberikan sambutan dalam acara launching Griya Curhat Keluarga Malang, Sabtu (6/2/2021) di Malang.

Ketua DPW Perempuan Bangsa Jatim Anik Maslachah mengatakan, berdasarkan data Sistem Informasi Online Kekerasan Ibu dan Anak (Simfoni), ada 1.358 kasus kekerasan per-November 2020. Kondisi ini perlu menjadi atensi berbagai pihak, termasuk Perempuan Bangsa Jatim.

Kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) di Jawa Timur (Jatim) hingga kini masih tinggi, terutama saat pandemi Covid-19. Hal ini menjadi alasan Perempuan Bangsa Jatim membentuk Griya Curhat Keluarga untuk memediasi dan menjadi langkah solutif bagi korban.

Anik menuturkan, kondisi pandemi Covid-19 turut menjadi pemicu terjadinya KDRT. Kondisi ekonomi yang tidak stabil di dalam keluarga karena PHK dan hilangnya pekerjaan menjadi faktor pendukung terjadinya keretakan di dalam sebuah keluarga.

Bahkan, karena pandemi, tingkat kasus perceraian di Jatim juga melonjak tajam di tahun 2020 dibanding tahun 2019. Sepanjang 2019, tercatat 8.303 kasus perceraian dan meningkat menjadi 55.747 kasus per September 2020.

Wakil Ketua DPRD Jatim itu mengatakan, Griya Curhat Keluarga menjadi badan layanan pengabdian Perempuan Bangsa dalam mengatasi permasalahan di sebuah keluarga dengan semangat meminimalisasi terjadinya KDRT dan faktor-faktor terjadinya perceraian.

“Kita banyak temukan kasus terjadinya KDRT dan perceraian karena korban utamanya perempuan tidak menemukan teman yang tepat untuk curhat dan yang menghasilkan solusi tepat,” kata Anik yang memotori terbentuknya Griya Curhat Keluarga hampir di seluruh kabupaten/kota se-Jatim ( iNewsJatim.id, 06/02/2021).

Miris jika melihat data kekerasan yang dialami perempuan dan anak yang cenderung makin meningkat. Padahal, berbagai program telah diluncurkan pemerintah dalam upaya untuk menekan bahkan menurunkan angka kekerasan dalam rumah tangga. Namun, semua bak fatamorgana di tengah padang sahara.

Mengapa demikian? Karena pemerintah belum mencari program yang bisa menyelesaikan permasalahan ini dari akarnya. Semua program selama ini hanya menyentuh permukaan permasalahan. Karena itu, memungkinkan suatu saat akan muncul dengan potensi yang malah makin meningkat.

Misalnya saja, baru-baru ini Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia mengadakan kegiatan “Menteri Bintang: Perempuan Harus Mandiri dan Berdaya, Kunci Wujudkan Generasi Unggul” (kemenpppa.go.id).

Hari ini, perempuan dan anak adalah sasaran empuk dari senjata mematikan yang bernama kapitalis-sekuler. Para perempuan digiring untuk meninggalkan kewajibannya sebagai ibu dan pengurus rumah tangganya, termasuk mendidik dan mengurus anak-anak mereka. Para perempuan dipuja saat mereka sukses dalam kariernya diluar rumah, mereka mendapat penghargaan luar biasa saat nyawa ditaruhkan demi mendapat penghidupan yang layak di luar negeri dengan penghargaan “Pahlawan Devisa”. Siapa yang mau berpisah dengan anak dan keluarga, siapa yang telah mengikis naluri keibuan ini hingga habis?

Makin menyesakkan, bukan? Saat ini banyak oknum perempuan malah berbondong-bondong meninggalkan rumah demi tuntutan gaya hidup, dengan alasan daripada menganggur. Padahal, anak-anak mereka masih membutuhkan bimbingan mereka, bukan bimbingan gadget atau masyarakat yang makin individualis.

Akhirnya, terjadi banyak kekerasan dalam rumah tangga. Perempuan dan anak adalah pihak yang menjadi korban karena mereka yang paling lemah. Akibat dari puncak peran dari istri, anak dan suami tidak pada tempatnya. Maka, sesungguhnya dibutuhkan program yang andal dari sumber yang terpercaya, yakni dari Allah SWT.

Benar. Hanya Islam yang punya solusi atas permasalahan ini. Siapa pun akan berharap rumah tangganya dipenuhi suasana sakinah mawaddah wa rahmah (tenang, tenteram dan penuh kasih saya=), dengan pasangan shalih/shalihah, suami/istri yang menyejukkan mata dan jiwa, serta anak-anak yang cerdas dan berbakti.

Dalam pandangan Islam, selain memiliki fungsi sosial, keluarga juga memiliki fungsi politis dan strategis. Secara sosial, keluarga adalah ikatan terkuat yang berfungsi sebagai pranata awal pendidikan primer. Ayah dan ibu adalah sumber pengajaran pertamanya. Keduanya sekaligus menjadi tempat membangun dan mengembangkan interaksi harmonis untuk meraih ketenangan dan ketentraman hidup satu sama lain. Sedangkan secara politis dan strategis, keluarga berfungsi sebagai tempat yang paling ideal untuk mencetak generasi unggulan. Itulah generasi yang bertakwa, cerdas dan siap memimpin umat.

Pembagian peran dalam keluarga pun Islam telah punya aturannya. Islam telah memberikan aturan yang khusus kepada suami dan istri untuk mengemban tanggung jawab kepemimpinan dalam rumah tangga. Suami adalah kepala dan pemimpin keluarga. Istri adalah pengatur rumah suaminya sekaligus ibu bagi anak-anaknya.

Peran kepemimpinan ini sama sekali tidak menunjukkan adanya legitimasi atau superioritas derajat yang satu atas yang lain. Suami tidak dianggap lebih mulia dibandingkan dengan istri dan anak-anaknya. Kepemimpinan adalah tanggung jawab dan amanat yang dibebankan oleh Allah SWT untuk dilaksanakan, selanjutnya dipertanggungjawabkan sebagai sebuah ibadah.

Sebagai pemimpin keluarga, suami berkewajiban memberi nafkah yang layak kepada istri dan anak-anaknya ( QS al-Baqarah [2]: 233). Suami yang baik dalam persepektif Islam adalah orang yang sungguh-sungguh dalam bekerja demi memenuhi kebutuhan nafkah keluarganya secara makruf. Allah SWT juga memerintahkan kepada suami agar mempergauli istrinya dengan makruf ( QS. Al baqarah [2] : 228).

Islam pun memberi kewajiban, peran dan fungsi yang mulia bagi istri. Ia berkewajiban menaati suaminya, sepanjang yang diperintahkan suami bukanlah kemaksiatan kepada Allah SWT. Selain kewajiban, taat kepada suami adalah karakter seorang istri shalihah (QS. An-nisa [4]: 34).

Istri adalah pengatur rumah suami dan ibu bagi anak-anaknya. Perannya yang utama adalah merawat, mengasuh, mendidik dan memelihara anak-anaknya agar kelak menjadi orang yang mulia di hadapan Allah SWT. Ia pun berperan membina, mengatur dan menyelesaikan urusan rumah tangga agar memberikan ketentraman dan kenyamanan bagi para anggota keluarga yang lain. Dengan perannya ini berarti ia telah memberikan sumbangan besar kepada negara dan masyarakatnya.

Adapun dalam kedudukannya sebagai pengatur rumah tangga, perempuan berfungsi sebagai mitra utama dari pemimpin rumah tangga, yaitu suami. Hubungan keduanya dibangun atas dasar persahabatan dan kasih sayang.

Lalu, terhadap pelaksanaan berbagai pekerjaan rumah tangga, Islam telah mengatur dengan detail. Bahwa seorang istri wajib melayani suaminya seperti: menanak nasi, memasak, membersihkan rumah, menyediakan minuman jika suami meminta, menyiapkan makanan untuk dimakan serta melayani suaminya dalam seluruh perkara yang harus dia lakukan di dalam rumah. Sebaliknya, suami wajib menyediakan apa saja yang dibutuhkan oleh istrinya yang berasal dari luar rumah seperti: menyediakan air dan apa saja keperluan lainnya.

Sabda Rasulullah saw. “Orang yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik perlakuannya kepada keluarganya dan aku adalah orang yang paling baik perlakuannya kepada keluargaku.” (HR Ibnu majah)

Betapa bahagia dan akan tumbuh rasa cinta di antara anggota keluarga, jika aturan Islam dipahami dan diaplikasikan secara sempurna. Jika yakin Islam solusi terbaik bagi seluruh problem kehidupan, berjuang memahamkan masyarakat adalah keharusan. Masyarakat harus memahami dan menerapkan panduan Islam dalam berumah tangga ini agar hidup tenteram dan berkah. Wallahu a’lam bishawwab.

Artikulli paraprakRevisi UU ITE, Membebaskan atau Membungkam Sikap Kritis?
Artikulli tjetërPolemik Penanaman Modal Miras
Visi : Menjadi media yang berperan utama dalam membangun kesadaran umat tentang fakta kebutuhan mengembalikan kehidupan Islam. Semua isi berupa teks, gambar, dan segala bentuk grafis di situs ini hanya sebagai informasi. Kami berupaya keras menampilkan isi seakurat mungkin, tetapi Linimasanews.com dan semua mitra penyedia isi, termasuk pengelola konsultasi tidak bertanggungjawab atas segala kesalahan dan keterlambatan memperbarui data atau informasi, atau segala kerugian yang timbul karena tindakan berkaitan penggunaan informasi yang disajikan. Linimasanews.com tidak bertanggungjawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis yang dihasilkan dan disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik “publik” seperti Opini, Suara Pembaca, Ipteng, Reportase dan lainnya. Namun demikian, Linimasanews.com berhak mengatur dan menyunting isi dari pembaca atau pengguna agar tidak merugikan orang lain, lembaga, ataupun badan tertentu serta menjauhi isi berbau pornografi atau menyinggung sentimen suku, agama dan ras. Segala isi baik berupa teks, gambar, suara dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Linimasanews.com. Semua hasil karya yang dimuat di Linimasa news.com baik berupa teks, gambar serta segala bentuk grafis adalah menjadi hak cipta Linimasanews.com Misi : * Menampilkan dan menyalurkan informasi terbaru, aktual dan faktual yang bersifat edukatif, Inspiratif, inovatif dan memotivasi. * Mewadahi bakat dan/atau minat sahabat lini masa untuk turut berkontribusi membangun kesadaran umat tentang fakta kebutuhannya mengembalikan kehidupan Islam melalui literasi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini