Pemahaman Remaja tentang Cinta dalam Sistem Sekuler

0
208

Oleh: Fathin Kusumardani
(Mahasiswa dan Aktivis Dakwah Remaja)

Linimasanews.com-Ketika berbicara tentang cinta terhadap lawan jenis, banyak yang mengatakan kalau cinta itu indah dan segalanya. Hampir semua orang pasti pernah merasakan kehadirannya, tapi masing-masing dari individu punya cara yang berbeda dalam menyikapinya.

Saat ini, banyak remaja yang terbuai dengan cinta. Hingga mereka terjebak dalam pesona cinta yang membuat mereka kebablasan. Akhirnya, bisa berujung perzinahan atau bahkan bisa sampai aborsi. Naudzubillah. Data yang dikeluarkan oleh sebuah aplikasi penyedia layanan kesehatan memperlihatkan 68% pertanyaan yang diajukan oleh pengguna berkutat pada pembahasan mengenai seks.

Mirisnya lagi, mayoritas pengguna yang bertanya mengenai hal serupa merupakan kelompok remaja antara 16-25 tahun. Perbuatan bejat ini berdampak pada meningkatnya kehamilan tak diinginkan (KTD) dan aborsi oleh remaja. Menurut Peneliti Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan (PSKK) UGM, Sri Purwaningsih, tingkat remaja yang hamil dan melakukan aborsi mencapai 58%.

Pergaulan bebas menjadi potret buram kehidupan remaja saat ini. Seks bebas, hamil di luar nikah, aborsi, dan lain-lain menjadi perkara yang lumrah di kalangan remaja saat ini. Padahal remaja sebagai generasi penerus yang akan menerima tongkat estafet kebangkitan umat. Sekian banyak kenakalan remaja menjadi bukti kegagalan sistem kapitalisme yang diterapkan di antaranya melalui sistem pendidikan generasi saat ini. Sistem pendidikan sekuler kapitalis telah menyita sebagian besar waktu dan tenaga untuk mengabaikan aspek pembentukan kepribadian Islam yang kuat.

Sekolah sebagai institusi pendidikan yang katanya mencetak remaja yang berkualitas yang memilki kepribadian yang kuat sesuai dengan tujuan pendidikan. Namun, justru menghasilkan remaja yang menciptakan banyak masalah. Sekolah yang baik seharusnya mampu membentuk kepribadian yang baik. Sebaliknya, sekolah yang buruk adalah yang abai terhadap hal-hal tersebut. Inilah realita yang terjadi saat ini.

Pendidikan seharusnya melahirkan sosok manusia yang mempunyai kepribadian khas yang muncul dari keimanan dan ketakwaan kuat yang nantinya akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan di dalam hidupnya. Pendidikan diarahkan untuk membentuk kepribadian siswa yang memiliki keimanan yang kuat. Tetapi, dengan diterapkannya kurikulum sekuler kapitalis, para pelajar justru menjadi pribadi yang kering jiwanya dan menjadi pribadi yang tidak memahami agamanya sendiri.

Bagaimana mungkin, Indonesia mayoritas muslim, tapi tidak bisa memahami agamanya sendiri. Karena dari pihak sekolah, para pelajar hanya diberikan pelajaran agama yang hanya dua jam pelajaran saja dalam waktu satu minggu (2 jam dari 40 jam, hanya 5% dari pelajaran lainnya). Itu pun jika harinya tidak libur dan mahasiswa dan aktivis dakwah remaja tidak bolos.

Jadi bagaimana mungkin mengharapkan para pelajar memiliki sikap mukmin muttaqin bila kurikulum yang digunakannya saja adalah kurikulum sekuler kapitalis yang justru membuat para pelajar menjadi jauh dari Islam.

Nilai keagamaan selalu ditempatkan jauh dari pendidikan. Karena jelas sistem yang saat ini kita gunakan adalah sistem yang salah. Selalu memisahkan agama dari kehidupannya ini lah yang dinamakan sekuler.

Hanya dengan Islam, kenakalan remaja bisa teratasi, yaitu dengan mengkaji ilmu Islam agar kita tau bagaimana sebenarnya mengaplikasikan cinta yang benar tanpa membuat Allah SWT murka.

Islam memandang cinta yang hakiki adalah hanya milik Allah SWT karena hanya Allah SWT Yang Mahasempurna dan Maha Pemilik cinta. Allah SWT telah menciptakan manusia dan menjadikannya sebaik-baik makhluk dengan memberikan kepadanya akal untuk membedakan baik dan buruk. Allah SWT juga telah menciptakan potensi kehidupan berupa naluri pada diri manusia. Salah satunya adalah gharizatun na’u (naluri berkasih sayang). Gharizah an-nau ini bisa juga diartikan sebagai naluri mencintai dan dicintai. Tapi meski bicara cinta, tidak melulu urusannya dengan lawan jenis.

Oleh karena itu, naluri ini tidak hanya muncul saat membicarakan soal cinta atau ketertarikan lawan jenis saja, tetapi gharizah an-nau juga tampak ketika muncul rasa sayang kepada keluarga, rasa sayang kepada sahabat taat dan adanya dorongan seksual. Munculnya dorongan ini membutuhkan pemenuhan, tetapi sekalipun tidak terpenuhi tidak akan menyebabkan kematian hanya akan menimbulkan kegelisahan.

Dalam memenuhi gharizah an-nau, Islam mengarahkan agar memenuhinya dengan cara yang mulia agar mampu menenangkan jiwa manusia. Saat manusia memiliki rasa senang pada lawan jenis, Islam mengajarkan untuk mencintainya dengan cara yang mulia yaitu melalui jalan pernikahan dan melarang tegas memenuhinya dengan cara berzina. Firman Allah SWT:

“Janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.” (Qs. Al-Isra: 32)

Pada ayat tersebut sudah jelas Allah SWT mengharamkan dua hal sekaligus, zina dan segala perilaku yang mendekati perbuatan zina termasuk di antaranya adalah berduaan dengan lawan jenis yang bukan mahram yang disebut dalam istilah bahasa arab yaitu khalwat.

Perlu diketahui, perzinahan dan kenakalan remaja lainnya akan bisa dicegah dengan sempurna jika menerapkan aturan Allah SWT dalam sebuah hukum atau sistem. Sehingga masyarakat akan diedukasi diberikan pemahaman dengan baik, bisa mengaplikasikan cinta yang sesuai dengan aturan Allah SWT. Dengan diterapkannya aturan Allah SWT, maka penting bagi setiap elemen masyarakat menerapkan aturan Allah SWT secara kaffah di tengah-tengah kehidupan oleh negara agar menjaga ketakwaaan masyarakat, khususnya dalam memenuhi naluri cinta ini secara mulia.

Jika semua perbuatan dilakukan dengan ikhlas, karena Allah SWT dan ditempuh dengan cara yang sesuai dengan syariat-Nya, Insyaallah pasti berkah. Kita akan sukses membangun cinta diatas ridha-Nya jika sesuai dengan apa yang Allah SWT perintahkan. Seperti cinta hanya pada keluarga, sahabat taat, dan juga pada pasangan yang halal dalam pandangan-Nya. Inilah bangunan cinta yang akan mengantarkan ke surga.

Artikulli paraprakMiras Menghancurkan Generasi Bangsa
Artikulli tjetërRindu Janji-Mu
Visi : Menjadi media yang berperan utama dalam membangun kesadaran umat tentang fakta kebutuhan mengembalikan kehidupan Islam. Semua isi berupa teks, gambar, dan segala bentuk grafis di situs ini hanya sebagai informasi. Kami berupaya keras menampilkan isi seakurat mungkin, tetapi Linimasanews.com dan semua mitra penyedia isi, termasuk pengelola konsultasi tidak bertanggungjawab atas segala kesalahan dan keterlambatan memperbarui data atau informasi, atau segala kerugian yang timbul karena tindakan berkaitan penggunaan informasi yang disajikan. Linimasanews.com tidak bertanggungjawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis yang dihasilkan dan disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik “publik” seperti Opini, Suara Pembaca, Ipteng, Reportase dan lainnya. Namun demikian, Linimasanews.com berhak mengatur dan menyunting isi dari pembaca atau pengguna agar tidak merugikan orang lain, lembaga, ataupun badan tertentu serta menjauhi isi berbau pornografi atau menyinggung sentimen suku, agama dan ras. Segala isi baik berupa teks, gambar, suara dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Linimasanews.com. Semua hasil karya yang dimuat di Linimasa news.com baik berupa teks, gambar serta segala bentuk grafis adalah menjadi hak cipta Linimasanews.com Misi : * Menampilkan dan menyalurkan informasi terbaru, aktual dan faktual yang bersifat edukatif, Inspiratif, inovatif dan memotivasi. * Mewadahi bakat dan/atau minat sahabat lini masa untuk turut berkontribusi membangun kesadaran umat tentang fakta kebutuhannya mengembalikan kehidupan Islam melalui literasi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini