Pembiasaan Hijab Anak Bukan Pemaksaan

0
86

Oleh: Maulida Nafeesa M.Si (Pemerhati Pendidikan dan Sosial)

Media asal Jerman DW Indonesia milik Deutsche Welle memposting di twitter video berdurasi 2 menit yang berjudul “Anak-anak, Dunia dan Hijab” (25/09). Dalam konten video membahas tentang sisi negatif anak memakai hijab sejak kecil dan banyak dihujat netizen karena mengusik persoalan akidah pada anak-anak, hijab dan orangtua.

Untuk meyakinkan kontennya, DW Indonesia mewawancarai orang yang berpihak pada tujuan DW tanpa menyertakan cendekiawan muslim atau ulama yang kapabel. Dalam wawancara psikolog, Rahajeng Ika terkait dampak psikologis bagi anak yang dipakaikan hijab sejak kecil, “Permasalahannya apabila di kemudian hari bergaul dengan teman-temannya, kemudian agak punya pandangan yang mungkin berbeda, boleh jadi dia mengalami kebingungan dan merasa punya batasan tertentu untuk bergaul”.

DW Indonesia juga mewawancarai feminis muslim, Darol Mahmada tentang dampak sosial, “Tetapi kekhawatiran saya sebenarnya lebih kepada membawa pola pikir si anak itu menjadi eksklusif karena dari sejak kecil dia ditanamkan untuk misalnya “berbeda” dengan yang lain.” Hal itu dilansir dari Jurnalgaya.com.

Hijab Dianggap Memaksa

Dari konten yang diangkat ini jelas seolah terjadi pemaksaan pada penggunaan hijab sejak usia dini. Sudah menjadi materi dasar dalam pendidikan anak bahwa setiap anak terlahir dalam kondisi fitrah bahkan seperti kertas kosong yang siap untuk diberi warna tentang kehidupan. Dalam hadits riwayat Imam Al Malik bahwa kedua orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, dan Majusi. Kedua orang tua memiliki peran besar dalam mengarahkan dan mengenalkan benda, hewan dan tumbuhan yang ada disekitar lingkungan. Mengenalkan manusia dan makhluk lainnya yang merupakan ciptaan Allah SWT.

Anak usia dini memiliki keterbatasan pemahaman dan pengalaman tentang lingkungan sekitarnya dan situasi bahaya. Mereka juga belum bisa diandalkan begitu saja karena anak usia dini selalu memilih dan meyukai sesuatu yang menarik pandangannya. Bahkan belum dapat diandalkan dalam menjaga keselamatannya sendiri termasuk kasus yang sering terjadi yakni pelecehan.

Pendidikan Seks Usia Dini

Di dalam pendidikan anak pada umumnya, dikenalkan bagian anggota tubuh yang tidak boleh disentuh orang asing dan mengenalkan pendidikan seks usia dini namun kurang komprehensif. Sedangkan di dalam pendidikan Islam dikenal tarbiyah jinsiyah yaitu pendidikan yang mengatur perkembangan biologis serta mendidik nafsu syahwat yang lebih komprehensif. Dengan tujuan agar ketika anak sudah baligh tidak cuma dewasa secara fisik, namun mental dan pikiran juga matang. Ketika anak baligh memahami halal dan haram yang berkaitan dengan hidupnya dan terbiasa dengan akhlak Islami sehingga tidak umbar nafsu dan bersikap membolehkan segala hal.

Bahasan tarbiyah jinsiyah ada aurat, thaharah (cara bersuci) dan reproduksi. Tarbiyah jinsiyah memang erat kaitannya dengan akidah Islam. Anak usia dini sudah dijelaskan area yang menjadi auratnya dan tidak boleh dilihat asing. Menjaga auratnya agar tidak diganggu dan dilecehkan orang lain. Anak usia dini tidak merasakan bahwa ini terpaksa dan eksklusif justru ini menjadi pembiasaan dan bekal untuk menjaga kehormatannya ketika kelak sudah baligh. Hal ini sama dengan anak usia dini tidak ada yang merasa terpaksa masuk ke TK dan PAUD mana yang dipilih oleh orang tuanya.

Pola pikir yang diberikan bebas memilih pada anak usia dini misalnya belajar disiplin waktu, belajar bertanggung jawab dengan tugasnya, belajar memilih mana kebutuhan dan keinginan, serta tidak menuruti nafsu.

Ketika orang tua membuat keputusan untuk anak-anaknya, mereka juga tidak membiarkan anaknya mandiri. Setiap anak berhak untuk membuat pilihan dengan dukungan sesuai dengan usia mereka serta diajarkan perintah dan larangan dari Sang Pencipta.

Selain itu, dia belajar mengenal Sang Pencipta sehingga aturan Pencipta sudah dilaksanakan sejak usia dini bukan ketika dewasa. Karena saat dewasa dan baligh, setiap anak sudah mempunyai pilihan dan keputusan sendiri sehingga penting sekali mengarahkan anak usia dini pada ranah akidah dan tauhid oleh orang tua.

Narasi Islamophobia

Konten yang diangkat tentang paksaan hijab sejak usia dini juga menunjukkan narasi terhadap islamophobia. Mereka khawatir akan kebangkitan Islam yang mulai menjadi tren mayoritas warga di negara-negara maju. Mereka berusaha mengaburkan pemahaman Islam termasuk perihal menutup aurat dengan hijab bagian dari paksaan.

Sementara dalam Islam di surat An-Nur ayat 31 sudah dijelaskan siapa yang menjadi mahram bagi wanita muslim, batasan aurat dan termasuk aurat yang harus ditutup tidak boleh dilihat yang bukan mahram. Terkait berpakaian syar’i bagi wanita muslim perintahnya ada di surat Al-Ahzab ayat 59. Dalam ayat tersebut Allah memerintahkan sebagai kewajiban bagi wanita muslim karena keimanannya pada allah dan hijab bukan sebagai pilihan.

Narasi islamophobia ini tidak dapat digeneralisir oleh pemerintah sehingga mereka bebas dalam mengisukan islamophobia di berbagai media. Pemerintah memang abai dan acuh terhadap pemahaman yang menyangkut akidah Islam bagi tiap rakyatnya. Padahal negara ini mayoritas muslim dan seharusnya pemerintah menjaga rakyat dari pemahaman aqidah yang rusak sesuai sila pertama “Ketuhanan yang Maha Esa”. Namun nyatanya sila tadi hanya sekedar ilusi, perlindungan terhadap akidah muslim yang tak mampu dijaga oleh pemerintah. Justru pemerintah membiarkan bebas dan mendukung orang-orang yang merusak aqidah islam.

Hanya sistem Islam dengan segala komponennya di segala aspek kehiduoan, apakah sistem pendidikan, ekonomi, kesehatan, hukum dll yang mampu melindungi rakyat dari pemahaman yang merusak aqidah serta menindaklanjuti orang-orang yang islamophobia. Selama Islam tidak menaungi dunia, urusan akidah masyarakat seperti tidak bernilai sama sekali oleh negara karena masih setia menjalankan sistem kapitalis neoliberal.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini