Pengantar Kepergian

0
93

Oleh: Irsad Syamsul Ainun (Pegiat Literasi Muslimah Papua)

Rutinitas pulang kampung menjadi seni dari seorang perantau. Jauh dekatnya ia merantau, pulang kampung menjadi hal yang bisa dihukumi wajib baginya. Bisa juga mubah. Itu kembali kepada si perantau.

Pada 24 Desember kemarin, ramai beberapa teman menjadi pengantar saat saya hendak melakukan aktivitas pulang kampung. Sebenarnya, kota tujuan bukanlah kampung halaman asli atau tempat kelahiran saya. Tapi, karena Mama dikebumikan di sana, jadinya tiap kali saya memutuskan untuk pulang kampung, pilihannya selalu jatuh pada nama kota tersebut.

Alasannya simple, mau ziarah ke makam Mama. Memang ziarah bukanlah hal yang wajib, tetapi bagiku itu perlu.

Membahas perkara pulang kampung dan pengantar, tetiba teringat dengan kepulangan dan kampung yang sesungguhnya untuk ditempati selamanya, tak lain adalah kematian dan akhirat. Ya Allah …. Jika hari kemarin, saya harus bertolak dari pelabuhan Pomako (Timika), tepat jam 01.00 dini hari yang dilepas dengan air mata oleh salah satu ibu yang perlakuannya hampir seratus persen menyerupai mama saya sendiri, jangan katakan saya pun harus berderai air mata ketika pergi.

Pertama, momennya membuat kerinduanku pada mama membuncah. Kedua, saya terlihat seperti bayi kecil di matanya. Saya tidak tahu apa yang perlu saya perbuat untuk membalas kebaikan mereka. Yang pasti, saya selalu mendoakan kebaikan atasnya, juga keluarganya.

Jika pulang kampung di dunia saja harus diantar dan ditinggalkan dengan air mata, bagaimana dengan kepulangan kita selamanya (kematian). Kita bukanlah lagi anak kecil di mata orang tua dan orang-orang di sekitar, bahkan pengantar bagi kita. Jika di atas kapal kita masih leluasa berkomunikasi dengan para penumpang kapal yang lain, beda halnya di alam kubur. Ya Rabbana.

Lalu apa yang perlu kita sombongkan? Apa yang sudah kita persiapan untuk menyongsong dan menyambut lingkungan abadi tadi? Padahal, kita sudah sering mengantarkan saudara kita yang berpulang, tak ada tikar, tak ada makanan, tak ada kendaraan dan yang lainnya yang dibawa oleh si mayyit, yang dipakai hanya satu, yakni kain kafan.

Kainnya pun sungguh terbatas, tiga lapisan untuk si mayyit laki-laki, dan 5 lapisan untuk si mayyit wanita. Si pengantar bisa dari kalangan anak-anak sampai yang tua, tokoh agama, sampai imam kampung. Kendaraan dari roda dua, sampai roda empat, tapi semuanya pulang. Hanya satu yang akan menemani kita, yakni amal.

Harta dan keluarga kita pulang dengan membawa kesedihan dan luka yang sembuhnya bisa lama, bisa juga sebentar. Nama kita mungkin akan disebutkan sekali dua kali saja. Apakah kita sudah mempersiapkan kondisi yang demikian?

Kita yang tadi dikebumikan, akan dibangkitkan setelah empat puluh langkah kepulangan para pengantar. Pertanyaan Mungkar dan Nakir masih seputar, “Siapa Tuhanmu? Siapa Nabimu? Apa kitabmu?” Menurut kita di dunia, pertanyaan itu mudah saja untuk dijawab.

Perkara yang mudah. Namun, pernahkah kita terbayang pertanyaan itu mungkin saja kita tak sanggup untuk menjawabnya. Karena jarangnya kita bersama Allah, jarangnya kita membaca Al-Qur’an, atau kita yang tak mengikuti ajaran Nabi. Rasanya jadi serba menakutkan.

Belum lagi jika malaikat bertanya persoalan lain. Bisa saja kita masih jago bermaksiat, kuat ngegibah, sering lalai shalat, bahkan meninggalkan shalat, masih pacaran, tidak berhijab, dan lain-lain. Apa iya ada ibu atau ayah yang akan datang membawakan kebutuhan kita? Atau teman yang selama ini setia dengan sebutan Bestie yang akan memberikan kita bantuan?

Tentu saja tidak, Wahai Saudariku. Kita yang di alam kubur sudah tak lagi bisa dibantu oleh siapa pun yang ada di dunia. Kecuali satu, yakni kebaikan-kebaikan yang kita tebarkan di dunia dan itu masih digunakan oleh orang lain. Bagaimana jika selama ini kebaikan yang kita tebarkan hanyalah bermodal riya?

Ya Rabb …, alangkah ruginya kami. Apa yang kami tebar ternyata tak bernilai di mata-Mu jika hal itu tak sesuai dengan takaran-Mu. Yakni bukan karena Engkau, ikhlas dan caranya benar.

Wahai Saudariku, ini hanyalah pengingat untuk saya sendiri, juga untuk orang lain. Semoga kita yang akan kembali dengan kepulangan yang sesungguhnya telah mempersiapkan segala bentuk keperluan kita untuk menyongsong kehidupan akhirat. Siap dengan konsekuensi pilihan hidup kita di sana. Mau bahagia dengan jaminan kenikmatan nikmat kubur atau mau menderita dengan siksaan kubur.

Wallahu a’lam bissawab.
(Menuju Kaimana, 26 Desember 2022)

Artikulli paraprakRihlah Komunitas BBQ: “Reconnecting Hidupmu dengan Al-Qur’an”
Artikulli tjetërAjaran Islam Mulia dan Rahmat bagi Semesta
Visi : Menjadi media yang berperan utama dalam membangun kesadaran umat tentang fakta kebutuhan mengembalikan kehidupan Islam. Semua isi berupa teks, gambar, dan segala bentuk grafis di situs ini hanya sebagai informasi. Kami berupaya keras menampilkan isi seakurat mungkin, tetapi Linimasanews.com dan semua mitra penyedia isi, termasuk pengelola konsultasi tidak bertanggungjawab atas segala kesalahan dan keterlambatan memperbarui data atau informasi, atau segala kerugian yang timbul karena tindakan berkaitan penggunaan informasi yang disajikan. Linimasanews.com tidak bertanggungjawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis yang dihasilkan dan disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik “publik” seperti Opini, Suara Pembaca, Ipteng, Reportase dan lainnya. Namun demikian, Linimasanews.com berhak mengatur dan menyunting isi dari pembaca atau pengguna agar tidak merugikan orang lain, lembaga, ataupun badan tertentu serta menjauhi isi berbau pornografi atau menyinggung sentimen suku, agama dan ras. Segala isi baik berupa teks, gambar, suara dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Linimasanews.com. Semua hasil karya yang dimuat di Linimasa news.com baik berupa teks, gambar serta segala bentuk grafis adalah menjadi hak cipta Linimasanews.com Misi : * Menampilkan dan menyalurkan informasi terbaru, aktual dan faktual yang bersifat edukatif, Inspiratif, inovatif dan memotivasi. * Mewadahi bakat dan/atau minat sahabat lini masa untuk turut berkontribusi membangun kesadaran umat tentang fakta kebutuhannya mengembalikan kehidupan Islam melalui literasi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini