Pentingnya Ridho Suami

0
586

Oleh: Rani Anisa. S

Selayaknya para istri memahami dan menyadari bahwa ketaatan kepada suami adalah keutamaan besar dalam berumah tangga. Hendaknya segala daya dan upaya dilakukan agar senantiasa tertunai hak serta kewajiban sebagai istri kepada suami maupun sebaliknya.

Seorang istri wajib menaati suaminya dalam perkara yang bukan maksiat. Dengan begitu, kepercayaan akan lebih mudah didapat.

“Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, “Masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka.” (HR. Ahmad)

Apabila kita ingin menjadi istri yang shalihah, haruslah memiliki komitmen untuk senantiasa memperbaiki kualitas ibadah kepada Allah dan menjadikan surga sebagai tujuan akhir yang hendak dicapai.

Sebagai contoh, hal-hal kecil yang berefek besar bagi suami istri; seorang istri harus bisa menjaga aib sang suami, tidak bermuka masam di hadapannya, selalu enak dipandang, menjaga diri ketika suami tidak ada hingga dilarang nusyuz (durhaka kepada suami), dsb. Karena, berumah tangga adalah proses belajar yang tak mengenal akhir dan berharap prosesnya sehidup hingga sesurga.

Sama seperti sekolah, rumah tangga juga memiliki ujian. Bedanya, ia tak kenal waktu ketika datang. Setiap ujian datang, tidak serta merta keduanya dinyatakan lulus. Pasangan suami istri akan melalui banyak fase ketika berumah tangga. Jadi, bila ada anggapan bahwa pernikahan adalah ujian, maka pernikahan juga ladang meraih pahala.

Fase-fase dalam rumah tangga menurut Founder Komunitas Istri Strong (KIS) Asri Supatmiati, terbagi menjadi empat. Pertama, fase madu. Fase ini merupakan fase awal pengenalan karakter dari masing-masing pasangan, ridho menerima kondisi pasangan. Di fase ini, pasangan masih saling menggebu dan optimisme terhadap masa depan yang indah masih sangat besar.

Kedua, fase repot. Memasuki fase ini, ditambah kehadiran anak, sangat rentan terjadinya gesekan antara suami istri. Tak jarang akan dibumbui pertengkaran-pertengkaran kecil. Di sini adalah proses menghadapi masalah sekaligus menemukan solusi.

Ketiga, fase kritis. Istri mulai bosan dengan suami, atau sebaliknya. Perkara nafkah batin, misalnya, suami merasa kurang puas terhadap istri. Saling memendam masalah dan tidak kunjung mendapatkan solusi. Akhirnya, fase ini sangat rentan dengan kata perceraian.

Keempat, fase stabil. Di fase ini, pasangan suami istri sudah banyak merasakan asam garam, pahit manis kehidupan rumah tangga. Kondisi ini diperkuat dengan adanya perasaan saling ridho terhadap qadha Allah. Perkara materi bukan lagi menjadi masalah berarti.

Adanya fase dalam rumah tangga semata-mata untuk mengukur kemampuan masing-masing diri, atau sekadar menjadi bahan introspeksi bersama pasangan.

Hal yang perlu diingat oleh seluruh istri di dunia yaitu bahwa orang yang paling berhak terhadap istri adalah suami. Maka, suami adalah surga dan neraka bagi si istri. Sekalipun fase berumah tangga sedang ada dititik terendah sekalipun, jangan pernah istri mendustakan suami dalam perkara-perkara yang tidak syar’i.

Karena pernikahan layaknya sebuah perjanjian yang agung, maka ikatan tersebut haruslah kuat atas dasar lillah. Sebagaimana firman Allah,

وَكَيْفَ تَأْخُذُوْنَهٗ وَقَدْ اَفْضٰى بَعْضُكُمْ اِلٰى بَعْضٍ وَّاَخَذْنَ مِنْكُمْ مِّيْثَاقًا غَلِيْظًا

“Dan bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal kamu telah bergaul satu sama lain (sebagai suami-istri). Dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil perjanjian yang kuat (ikatan pernikahan) dari kamu.” (QS.An-Nisa: 21)

Oleh karenanya, sebagai seorang muslimah yang sudah menikah dan menyandang status istri, wajib bagi kita mendapatkan ridho suami dalam segala amalan dan aktivitas yang kita lakukan. Dengan begitu, akan terwujud rumah tangga hebat, yang bisa menyelamatkan di dunia maupun akhirat, dengan visi misi sakinah, mawaddah wa rahmah. Wallahua’lam bishowab.

Artikulli paraprakPolemik Hukuman Mati
Artikulli tjetërListrik di Ambang Krisis sebab Pasokan Batu Bara Menipis?
Visi : Menjadi media yang berperan utama dalam membangun kesadaran umat tentang fakta kebutuhan mengembalikan kehidupan Islam. Semua isi berupa teks, gambar, dan segala bentuk grafis di situs ini hanya sebagai informasi. Kami berupaya keras menampilkan isi seakurat mungkin, tetapi Linimasanews.com dan semua mitra penyedia isi, termasuk pengelola konsultasi tidak bertanggungjawab atas segala kesalahan dan keterlambatan memperbarui data atau informasi, atau segala kerugian yang timbul karena tindakan berkaitan penggunaan informasi yang disajikan. Linimasanews.com tidak bertanggungjawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis yang dihasilkan dan disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik “publik” seperti Opini, Suara Pembaca, Ipteng, Reportase dan lainnya. Namun demikian, Linimasanews.com berhak mengatur dan menyunting isi dari pembaca atau pengguna agar tidak merugikan orang lain, lembaga, ataupun badan tertentu serta menjauhi isi berbau pornografi atau menyinggung sentimen suku, agama dan ras. Segala isi baik berupa teks, gambar, suara dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Linimasanews.com. Semua hasil karya yang dimuat di Linimasa news.com baik berupa teks, gambar serta segala bentuk grafis adalah menjadi hak cipta Linimasanews.com Misi : * Menampilkan dan menyalurkan informasi terbaru, aktual dan faktual yang bersifat edukatif, Inspiratif, inovatif dan memotivasi. * Mewadahi bakat dan/atau minat sahabat lini masa untuk turut berkontribusi membangun kesadaran umat tentang fakta kebutuhannya mengembalikan kehidupan Islam melalui literasi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini