PENUTUP AURAT PANDANGAN ABANG

0
581

Oleh: Hesty (Komunitas Liwa)

Pekan liburan sekolah anak-anak. Pagi menjelang siang, sangat ramai anak-anakku dan teman-temannya bermain di halaman. Tiba-tiba terdengar teriakan anak laki-lakiku yang nomor dua.

“Mbak! Masa’ keluar rumah pakai baju itu, sih? Memangnya Mbak mau, Abi bikin rumah di neraka? Umiii …! Mbak keluar rumah cuma pakai celana legging dan kerudung!”

“Abang, kenapa sih, teriak-teriak?” Kumatikan kompor dan berjalan ke depan rumah. Aku lihat anak perempuanku sudah masuk rumah lagi.

“Masa’ Mbak keluar pakai baju gitu, Mi? Kan, kata Ummi, selangkah anak perempuan keluar rumah tidak menutup auratnya, berarti bikinin rumah Abinya di Neraka. Iya, kan?” Anak lelakiku masih menatap tajam kakaknya. Sementara sang mbak hanya cemberut.

“Iya, iya. Abang cerewet!” tukas kakak perempuannya yang memanggil adiknya dengan panggilan abang juga.

“Ih, Mbak. Emang Abang bener, kok. Dikasih tahu yang baik, kok, marah. Ayo, pakai roknya. Jangan keluar pakai legging aja!” Aku menengahi keributan anak-anakku.

“Bang, emang Ummi pernah ngomong begitu sama Abang?” tanyaku.

“Abang ‘kan denger waktu Ummi ngomong ke muridnya Ummi,” anakku menjawab sambil lari ke luar rumah.

Abang adalah panggilan anakku yang nomor dua. Usianya baru sembilan tahun. Sedangkan mbaknya, anakku yang pertama baru berusia sepuluh tahun setengah. Kejadian itu dua tahun lalu. Saat si mbak belum baligh.

Abang memang selalu memperhatikan pakaian dan cara orang berpakaian. Terutama muslimah. Pernah dia protes karena melihat siswi-siswi sebuah sekolah SDIT yang memakai celana panjang, tidak memakai rok.

Sekarang, setelah si mbak sudah baligh, abang masih protes dengan cara cuek mbaknya berpakaian saat mau keluar rumah.

“Ummi, emang boleh Mbak keluar pakai rok aja?” Abang memperhatikan sang kakak yang bersiap mau keluar rumah.

“Memangnya kenapa, Bang?” aku jadi penasaran dengan pemahamannya.

“Kalau kalo udah baligh, perempuan harus pakai jilbab, ‘kan, Mi?” Abang memperhatikan si mbak yang masih diam saja.

“Memang jilbab itu apa, Bang?” tanyaku lagi.
“Itu, baju yang selalu Ummi pakai. Yang terusan itu,” jawabnya sambil memperhatikan film kartun kesayangannya. Si Mbak langsung masuk ke kamar dan mengganti bajunya dengan jilbab.

Batasan aurat memang harus dipahamkan kepada anak-anak sejak mereka kecil. Sampai mana batasan aurat bagi laki-laki dan perbedaannya dengan aurat perempuan. Dengan memahami batasan aurat, diharapkan mereka mampu memahami pakaian menutup aurat. Kesadaran menutup aurat memang bisa berawal dari bagaimana orangtua membiasakan anak-anaknya menutup aurat dari kecil. Setelah pembiasaan, tanggung jawab orangtua juga menanamkan keyakinan bahwa Allah sebagai Sang Pencipta dan Pengatur segala urusan manusia. Keyakinan yang merupakan keimanan ini yang dapat membuat anak akan menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya.

Menutup aurat menjadi salah satu masalah bagi kaum muslimin. Sebab masih banyak para muslimah tidak menutup auratnya, atau menutup tapi tidak secara sempurna. Semua itu tak terlepas dari gaya hidup sekularisme yang menjadi dasar kehidupan dalam sistem kapitalis. Kehidupan yang terpisah dari agama membuat banyak orang memandang agama Islam sebagai agama yang hanya mengatur ibadah saja. Bukan sebagai jalan hidup. Padahal, Islam adalah agama yang seharusnya dijadikan pedoman hidup karena Islam mengatur semua aspek kehidupan.

Belum lagi, orang-orang liberal yang selalu nyinyir dengan pakaian menutup aurat. Sekalipun mereka juga orang muslim. Sebagaimana liputan DW Indonesia yang mempertanyakan tentang, “Apakah anak-anak yang dipakaikan jilbab itu memiliki pilihan atas apa yang ingin dikenakannya?”

Padahal, seringkali orangtua banyak yang memaksakan hal lain pada anaknya. Semisal, memakai pakaian yang seksi, belajar musik, kursus bahasa asing, dan lain-lain. Apakah anak-anak itu memiliki pilihan tersebut? Sedangkan seorang anak yang belum sempurna pemikirannya harus diberikan pembiasaan. Terlebih lagi terkait masalah kewajiban dari Allah SWT. Setelah itu pemahaman agar anak mengerti mengapa mereka harus menjalankan kewajiban tersebut.

Menutup aurat dalam pandangan Islam tidak hanya sekadar menutup rambut dan tubuh saja, tapi tertutupnya semua lekuk tubuh dan bayangannya. Sehingga harus diperhatikan apakah pakaian yang dikenakan tipis atau tidak

Hadis yang diriwayatkan dari Usamah bin Said; “Rasulullah SAW, pernah memberikan kepadaku kain dari Qubti (Mesir). Kain itu telah beliau terima sebagai hadiah dari Dahtah Al-Kalabi tapi kemudian saya berikan pakaian itu untuk istriku, maka tegur Rasulullah SAW kepadaku, “Kenapa tidak kamu pakai saja kain Qubti itu?” Saya menjawab; “Ya Rasulullah, kain itu telah saya berikan kepada istriku.” Maka sabda beliau,” Suruhlah dia mengenakan pula baju rangkapan di bawah kain qubti itu, karena aku benar-benar khawatir itu akan tetap menampakkan besarnya tulang-tulang (lekuk-lekuk) tubuh istrimu.” (HR. Ahmad)

Penutup aurat wanita juga dijelaskan oleh Allah dalam Al-Qur’an dalam surat Al Ahzab ayat 59;
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا ,

“Hai nabi katakanlah pada isteri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang-orang mukmin, hendaknya mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka, yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Penyayang.”

Kata Jalaabibihinna, merupakan bentuk jamak dari kata jilbaabun yang artinya pakaian kaum wanita, yang berfungsi menutup seluruh tubuh. Menurut Munawir dan Al-Ma’louf dalam kamusnya kata jilbab diartikan sebagai baju kurung yang menutup tubuh mulai dari leher hingga mata kaki, atau jubah.

Pada ayat An Nur: 31, Allah berfirman,
وَقُل لِّلۡمُؤۡمِنَٰتِ يَغۡضُضۡنَ مِنۡ أَبۡصَٰرِهِنَّ وَيَحۡفَظۡنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبۡدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنۡهَا وَلۡيَضۡرِبۡنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبۡدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوۡ ءَابَآئِهِنَّ أَوۡ ءَابَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوۡ أَبۡنَآئِهِنَّ أَوۡ أَبۡنَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوۡ إِخۡوَٰنِهِنَّ أَوۡ بَنِىٓ إِخۡوَٰنِهِنَّ أَوۡ بَنِىٓ أَخَوَٰتِهِنَّ أَوۡ نِسَآئِهِنَّ أَوۡ مَا مَلَكَتۡ أَيۡمَٰنُهُنَّ أَوِ ٱلتَّٰبِعِينَ غَيۡرِ أُوْلِى ٱلۡإِرۡبَةِ مِنَ ٱلرِّجَالِ أَوِ ٱلطِّفۡلِ ٱلَّذِينَ لَمۡ يَظۡهَرُواْ عَلَىٰ عَوۡرَٰتِ ٱلنِّسَآءِ وَلَا يَضۡرِبۡنَ بِأَرۡجُلِهِنَّ لِيُعۡلَمَ مَا يُخۡفِينَ مِن زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”

Hal inilah yang harusnya dipahami oleh para muslimah. Kecintaan kita pada Allah diwujudkan dengan cara mentaati peraturan-Nya. Selain itu ada satu hadist yang seharusnya membuat para muslimah yakin untuk terus menutup aurat. Bukti cinta seorang muslimah, kepada ayahnya. Sebagaimana hadis Rasululluh SAW;
“ Selangkah anak perempuan keluar dari rumah tanpa menutup aurat, maka selangkah juga ayahnya hampir ke neraka.” (HR Tirmidzi)

Pemahaman ini harusnya tidak hanya dimiliki oleh para muslimah, tetapi juga seluruh muslimin. Untuk para ayah, harus paham bahwa menutup aurat adalah kewajiban yang harus dipertanggungjawabkan kelak di hari akhir. Oleh karena itu, menjadi tanggung jawabnya mengarahkan istri dan anak-anak perempuannya untuk menutup auratnya. Begitu juga dengan saudara laki-laki yang memikul tanggung jawab yang sama dengan ayahnya, jika sang ayah telah tiada. Sehingga kewajibannya untuk mengingatkan saudara-saudara perempuannya.

Jadi, kewajiban menutup aurat dengan jilbab dan khimar, memang dibebankan kepada para muslimah. Namun, tanggung jawab dunia dan akhirat kepada seorang wanita terletak di bahu ayah atau saudara laki-lakinya, jika ayah tidak ada. Saat seorang muslimah telah menikah, tanggung jawab tersebut berpindah pada suaminya.

Banyak permasalahan sosial akibat muslimah tidak menutup auratnya secara sempurna. Pelecehan seksual, pergaulan bebas adalah sebagian masalah yang bisa timbul karena hal tersebut.

Tentunya penting pendidikan tentang pemahaman aqidah yang benar, agar seorang muslim atau muslimah yakin tanpa ragu-ragu untuk menjalankan syariat yang datangnya dari Allah SWT. Penutup aurat adalah salah satu syariat yang datangnya dari Allah terkait aspek antara manusia dengan dirinya. Dengan demikian jika aqidahnya telah mantap, maka menutup aurat bukan lagi menjadi masalah. Semoga kaum muslimin menyadari pentingnya kembali lagi pada syariat Islam secara kaffah. Sehingga kemaslahatan dapat dirasakan secara nyata.

Artikulli paraprakSarang Begundal
Artikulli tjetërAngka 1453 dan Ghirah Kebangkitan Ummat
Visi : Menjadi media yang berperan utama dalam membangun kesadaran umat tentang fakta kebutuhan mengembalikan kehidupan Islam. Semua isi berupa teks, gambar, dan segala bentuk grafis di situs ini hanya sebagai informasi. Kami berupaya keras menampilkan isi seakurat mungkin, tetapi Linimasanews.com dan semua mitra penyedia isi, termasuk pengelola konsultasi tidak bertanggungjawab atas segala kesalahan dan keterlambatan memperbarui data atau informasi, atau segala kerugian yang timbul karena tindakan berkaitan penggunaan informasi yang disajikan. Linimasanews.com tidak bertanggungjawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis yang dihasilkan dan disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik “publik” seperti Opini, Suara Pembaca, Ipteng, Reportase dan lainnya. Namun demikian, Linimasanews.com berhak mengatur dan menyunting isi dari pembaca atau pengguna agar tidak merugikan orang lain, lembaga, ataupun badan tertentu serta menjauhi isi berbau pornografi atau menyinggung sentimen suku, agama dan ras. Segala isi baik berupa teks, gambar, suara dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Linimasanews.com. Semua hasil karya yang dimuat di Linimasa news.com baik berupa teks, gambar serta segala bentuk grafis adalah menjadi hak cipta Linimasanews.com Misi : * Menampilkan dan menyalurkan informasi terbaru, aktual dan faktual yang bersifat edukatif, Inspiratif, inovatif dan memotivasi. * Mewadahi bakat dan/atau minat sahabat lini masa untuk turut berkontribusi membangun kesadaran umat tentang fakta kebutuhannya mengembalikan kehidupan Islam melalui literasi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini