Petunjuk Suci

0
215

Oleh. Choirin Fitri

Suara bacaan Surah Yasin menggema dari rumah Bu Leha. Acara rutin pekanan yang diadakan setiap Jum’at sore dari rumah ke rumah. Kurang lebih 30 ibu-ibu membaca salah satu surat paling terkenal di kalangan Muslim Indonesia.

“Lho, Bu Leha tadi baca latinnya, ya?” Bu Atik bertanya pada Bu Leha setelah acara Yasinan usai. Ia memang dari tadi memperhatikan sang empunya rumah yang membolak-balik buku khusus berisi Surah Yasin, doa, dan zikir.

“Eh, iya Mbak Atik. Saya belum bisa baca Arabnya. Ya, daripada nggak ikut kan malu sama tetangga kanan kiri, ya sudah saya baca latinnya saja.”

Bu Leha merasa malu. Selama ini tidak ada yang berkomentar tentang kebiasaannya membaca latin saat baca Al-Qur’an. Ia pede-pede saja karena ada yang bilang tak apa baca latinnya. Kini, saat tetangga barunya mempertanyakannya iya jadi mulai berpikir.

“Nggak ingin bisa baca Arabnya, Mbak?”

Bu Leha tersenyum kecut. Ia ingin. Namun, tak mungkin. Usianya kepala 4. Mana ada yang mau mengajarinya.

“Ingin, sih, ingin, Mbak, tapi usia saya kan sudah kepala empat. Eh, empat tahun lagi kepala lima. Apa ada yang mau ngajari lidah saya yang sudah kaku begini?”

“Mustinya ada Bu, tapi bukan saya. Saya bisa baca Al-Qur’an, tapi urusan mengajari orang untuk baca saya kurang telaten. Apa mau saya carikan guru?”

“Mau. Saya mau.”

“Lho, saya juga mau lho Mbak Atik kalau ada yang ngajari.”

Seorang ibu-ibu bertubuh besar ikut bersuara.

“Siap, siap, insyaallah saya carikan gurunya. Sekarang, saya pamit dulu ya ibu-ibu. Assalamualaikum.”

“Wa’alaikumussalam wa rahmatullah,” sahut Bu Leha dan tiga ibu-ibu yang lainnya.

Atik segera berjalan pulang sambil menenteng satu kotak kue. Pikirannya sibuk pada siapa dia akan minta tolong mengajari Al-Qur’an ibu-ibu tetangganya. Tak berapa lama, jawaban dihadirkan, ia berpapasan dengan seorang gadis muda yang baru saja memarkir motor di depan rumah kosnya.

“Pucuk dicinta, ulam pun tiba,” ucap ibu muda itu girang.

“Dek Aqila baru pulang kuliah?”

“Iya Mbak Atik. Mbak pulang ….”

Aqila memutar tubuhnya hingga bisa berhadapan dengan wanita yang menyapanya.

“Yasinan.”

“Oh iya. Saya masuk dulu ya Mbak. Apa mau mampir?”

“Tidak. Saya mau minta tolong saja. Bisa?”

“Selama saya mampu, insyaallah saya bisa. Apa yang bisa saya tolong?”

Atik menceritakan tentang ibu-ibu yang belum bisa baca Al-Qur’an dan meminta Aqila untuk membantu mengajari. Tentu saja Aqila senang, namun tidak mungkin dia sendirian. Jadwal kuliahnya semester ini padat merayap. Ditambah lagi amanah organisasi dakwah yang ia ikuti membuatnya makin sibuk.

“Saya akan cari teman. Boleh, ya Mbak?”

“Oh boleh. Saya pun akan ikut belajar lagi.”

Aqila tersenyum. Nama Aisyah sudah ia kantongi dalam benaknya. Seorang mahasiswi semester akhir jurusan pendidikan agama Islam yang tentu akan sangat senang ia mintai bantuan mengajar ibu-ibu tetangganya.

* * *

Satu bulan berlalu. Ada sepuluh ibu-ibu, termasuk Bu Leha yang bersemangat mengaji sepekan dua kali. Senin dan Kamis sore. Buku Iqro’ bersampul hitam buah karya K.H. As’ad Humam menjadi buku pegangan. Mereka mulai dari nol belajarnya. Mulai jilid 1 dan sebulan belajar sudah masuk halaman tes jilid 2.

“MaasyaaAllah, syukur alhamdulillah senang sekali melihat ibu-ibu bersemangat belajar membaca Al-Qur’an. Barokallah ya Bu, insyaallah pekan depan kita masuk jilid 3.”

Suara Aisyah menimbulkan gaduh rasa syukur di antara ibu-ibu jelita, jelang lima puluh tahun. Ada dua orang nenek-nenek yang ikut belajar dan mampu mengikuti pembelajaran dengan baik.

“Senang ya, Bu, bisa belajar membaca Al-Qur’an?”

Aqila yang kebetulan tidak ada agenda ikut mendampingi Aisyah.

“Senang Mbak. Senang sekali malah. Kami bersyukur kalian berdua mau telaten mengajari kami yang bodoh ini.”

Bu Leha menjawab pertama. Diikuti oleh ibu-ibu yang lain. Semua kompak menjawab senang.

Jika Maghrib belum hadir, biasanya Aisyah akan menambah pengetahuan ibu-ibu tentang ayat-ayat Al-Qur’an. Biasanya ia akan mengutip satu ayat Al-Qur’an dan membahasnya. Sore ini pun karena ujian berjalan lancar dan cepat, ia punya kesempatan untuk menyampaikan satu ayat Al-Qur’an.

Suara merdu gadis berkacamata itu mengalunkan kalimat ta’awudz dan dilanjutkan membaca Surah An-Nisa’ ayat 82:

اَفَلَا يَتَدَبَّرُوْنَ الْقُرْاٰنَ ۗ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللّٰهِ لَوَجَدُوْا فِيْهِ اخْتِلَافًا كَثِيْرًا

“Artinya, maka tidakkah mereka menghayati (mendalami) Al-Qur’an? Sekiranya (Al-Qur’an) itu bukan dari Allah, pastilah mereka menemukan banyak hal yang bertentangan di dalamnya.”

“MaasyaaAllah, ya Bu, mukjizat Rasulullah yang satu ini. Jika kita mau mendalaminya, kita tidak akan mendapatkan pertentangan di dalamnya. Kita malah akan mendapatkan banyak hal yang sangat bermanfaat. Baik ilmu tentang keimanan, ibadah, hukum-hukum syariat, sampai ilmu pengetahuan keduniawian. Semua komplit dalam Al-Qur’an.”

“Kita ini kurang ilmu lho, Nak. Saya yang setua ini baru belajar membaca Al-Qur’an, ya dengan Nak Aisyah. Dulu tidak ada yang ngajari. Ya, bisa baca cuma ikut-ikutan saja.”

Nek Rin berucap dengan mata berkaca-kaca. Di usianya yang 63 tahun tampak semangat belajarnya menyala-nyala.

“Doakan Nenek, ya Nak, sebelum nenek meninggal sudah bisa membaca Al-Qur’an seperti kalian. Nenek ingin masuk surga.”

Aisyah ikut berkaca-kaca. Baginya mengajari anak-anak usia sekolah baca Qur’an dan bisa adalah biasa. Namun, mengajarkan Al-Qur’an pada ibu-ibu dan nenek-nenek hingga bisa adalah istimewa. Ia pun memeluk sang nenek dan mengaminkan doanya. Aqila dan ibu-ibu yang menjadi saksi mata ikut terharu.

Selepas Nek Rin mampu mengontrol dirinya, Aisyah melanjutkan penjelasannya.

“Bagi kita seorang Muslim, Al-Qur’an tak cukup dibaca, ya ibu-ibu, tapi kita harus paham isinya. Al-Qur’an berbahasa Arab, sehingga jika kita ingin tahu isinya, kita bisa membaca terjemahnya. Nah, dari situ kita akan tahu betapa kompleks aturan Allah. Semua hal diatur dan menjadi petunjuk suci bagi kita.”

“Jika diibaratkan dunia ini adalah tempat kita melakukan perjalanan menuju surga, maka kita harus memiliki peta yang benar. Al-Qur’an inilah peta kita, petunjuk kita. Tidak ada keraguan di dalamnya. Tinggal kita saja, mau tidak mempelajari dan mengamalkannya.”

“Itu yang masih jadi PR buat kami, Mbak Aisyah,” Bu Leha berkomentar.

“PR kita bersama, Bu.”

Sahut Aisyah tersenyum manis. Ia terus memotivasi agar ibu-ibu bisa istikamah dalam mempelajari Al-Qur’an dan mengamalkannya dalam kehidupan. Ibu-ibu yang hadir pun dengan semangat ’45 siap bersedia.

Batu, 6 Maret 2022

Artikulli paraprakWacana Pemilu Ditunda, Bukti Nyata Kegagalan Hukum
Artikulli tjetërPangkas Akar Penyebab Stunting
Visi : Menjadi media yang berperan utama dalam membangun kesadaran umat tentang fakta kebutuhan mengembalikan kehidupan Islam. Semua isi berupa teks, gambar, dan segala bentuk grafis di situs ini hanya sebagai informasi. Kami berupaya keras menampilkan isi seakurat mungkin, tetapi Linimasanews.com dan semua mitra penyedia isi, termasuk pengelola konsultasi tidak bertanggungjawab atas segala kesalahan dan keterlambatan memperbarui data atau informasi, atau segala kerugian yang timbul karena tindakan berkaitan penggunaan informasi yang disajikan. Linimasanews.com tidak bertanggungjawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis yang dihasilkan dan disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik “publik” seperti Opini, Suara Pembaca, Ipteng, Reportase dan lainnya. Namun demikian, Linimasanews.com berhak mengatur dan menyunting isi dari pembaca atau pengguna agar tidak merugikan orang lain, lembaga, ataupun badan tertentu serta menjauhi isi berbau pornografi atau menyinggung sentimen suku, agama dan ras. Segala isi baik berupa teks, gambar, suara dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Linimasanews.com. Semua hasil karya yang dimuat di Linimasa news.com baik berupa teks, gambar serta segala bentuk grafis adalah menjadi hak cipta Linimasanews.com Misi : * Menampilkan dan menyalurkan informasi terbaru, aktual dan faktual yang bersifat edukatif, Inspiratif, inovatif dan memotivasi. * Mewadahi bakat dan/atau minat sahabat lini masa untuk turut berkontribusi membangun kesadaran umat tentang fakta kebutuhannya mengembalikan kehidupan Islam melalui literasi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini