Radikalisme Islam, Narasi Basi ala Kapitalisasi

0
5

Oleh: Fitri Sarfan, S.E.

Linimasanews.com- Pemerintah kembali mengklaim muncul bibit radikalisme di tengah keluarga Muslim. Berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk memberantas radikalisme. Terlebih semenjak peristiwa aksi terorisme yang melibatkan anak di Surabaya, Jawa Timur pada tahun 2018 lalu. Saat itu, muncul frame bahwa keluarga Muslim sudah terpapar radikalisme.

Menurut analisa pemerintah, permasalahan radikalisme kini mulai mengerucut pada tataran paling kecil dari masyarakat, yaitu keluarga. Ibu dan anak dianggap pihak yang terpapar utama. Bagi mereka Inilah ancaman dasar bagi bangsa dari sebuah keluarga yang terpapar radikalisme.

Tentunya, sebuah keluarga yang ingin menjalankan kehidupannya dengan tuntunan Islam akan berupaya mempelajari Islam secara maksimal. Maka, muncul keinginan yang luar biasa dari kaum Muslim untuk mengenal syariat Islam sebagai solusi dari segala permasalahan. Ditambah dengan kondisi kehidupan yang jauh dari kata sejahtera.

Kita lihat berbagai problematika kehidupan masih menghantui kehidupan keluarga Muslim di negeri ini. Mulai dari maraknya kekerasan dalam rumah tangga atau KDRT, perceraian, perselingkuhan, pergaulan bebas, anak, L96T, kemiskinan, pengangguran dan sebagainya. Umat pun menyadari bahwa solusi atas persoalan yang sedang mereka hadapi hanya ada pada Islam. Sehingga, muncul keinginan mempelajari Islam secara lebih dalam.

Namun, usaha ini tidaklah mudah seperti membalikan telapak tangan. Di tengah geliat keluarga Muslim mempelajari ajaran Islam, narasi radikalisme justru bergulir di tengah masyarakat. Ini menjadi penghalang dalam upaya pengenalan mereka terhadap syariat Islam dan implementasinya dalam lingkungan keluarga, masyarakat hingga bangsa.

Padahal, siapapun memahami bahwa tuduhan radikalisme pada kaum Muslim tidak tepat. Terlihat bahwa kebijakan yang diimplementasikan m merupakan bagian dari program deradikalisasi yang sedang dijalankan dunia barat hari ini. Barat telah melakukan strategi politik busuk dengan menyematkan kata radikal kepada Islam dan kaum Muslim yang berseberangan dengan ideologi mereka. Yakni, ideologi kapitalisme sekulerisme yang memisahkan agama dari kehidupan.

Karena itu, siapa saja yang menjadikan agama sebagai dasar berpikir untuk kehidupan akan dicap sebagai kaum radikal yang wajib diusut. Sebaliknya, siapa saja yang berpikiran sekuler, maka akan dijadikan sebagai temannya. Kaum ini mereka sebut kaum moderat.

Padahal, Islam tidaklah untuk ditimbang sebagai radikal atau moderat. Persepsi barat tidak logis dan tidak relevan untuk menimbang Islam. Kebenaran, keunggulan ideologi dan peradaban, termasuk Islam, seharusnya ditimbang berdasarkan rasionalitas dan kesesuaian akidahnya dengan fitrah serta kehandalan aturan atau sistemnya sebagai solusi persoalan manusia. Dalam hal ini, Islam sebagai agama sekaligus ideologi yang berasal dari wahyu Allah, nyata-nyata terbukti memenuhi kedua aspek tersebut.

Tentunya para musuh Islam yang membawa ide kapitalisme yang bertentangan dengan Islam, tidak akan mau kalah dengan orang-orang yang ingin kembali kepada Islam. Dengan kekuatan yang mereka miliki bisa membuat berbagai UU kontroversial dan kebijakan-kebijakan untuk menghentikan atau menghalangi langkah umat Islam dalam menuntut perubahan. Arah kebijakan di antaranya adalah narasi perang melawan terorisme dan radikalisme. Faktanya, narasi radikalisme adalah proyek gagal dari musuh Islam ditandai dengan semakin sadarnya kaum Muslim dengan Islam.

Barat juga sangat paham bagaimana Islam telah berjaya selama ratusan tahun dan mampu menjadi negara adidaya yang sangat maju. Semua karena seluruh ajaran Islam diterapkan secara paripurna dalam seluruh aspek kehidupan. Untuk itu barat berusaha membuat rekayasa untuk melumpuhkan kebangkitan umat Islam sampai kehancuran seperti yang terjadi hari ini.

Ancaman nyata bagi ide kapitalis-sekuler saat munculnya fenomena mempelajari Islam kaffah di tengah keluarga Muslim hari ini. Berbagai cara akan dilakukan untuk menghadang kebangkitan Islam. Namun, bagi kaum Muslim tidak akan terpengaruh karena ini masalah keyakinan dan akidah. Muslim tetap harus konsisten dan komitmen mempelajari seluruh syariat Islam hingga tuntas serta mengimplementasikan dalam kehidupan tanpa terkecuali. Sebab, hanya Islam yang mampu mewujudkan ketahanan keluarga sekaligus mengukuhkan bangunan masyarakat hingga negara. Hanya Islam satu-satunya solusi atas seluruh problematika kehidupan manusia yang dihasilkan oleh sistem kapitalisme sekuler.

Seluruh sendi kehidupan diatur dengan syariat yang sangat rinci akan membawa kemaslahatan bagi seluruh manusia. Dalam konteks keluarga, maka Islam memberi aturan-aturan. Salah satunya dengan memberi porsi yang berbeda antara laki-laki dan perempuan atau suami dan istri. Ayah sebagai nahkoda, pemegang kendali kepemimpinan sekaligus mencari nafkah atau penjamin aspek finansial bagi keluarga. Sedangkan Ibu berperan sebagai guru atau madrasah bagi anak-anaknya, sekaligus sebagai manajer rumah tangga suaminya.

Karena itu, penerapan aturan Islam harus diyakini oleh setiap keluarga Muslim sebagai solusi tuntas bagi problem kehidupan. Perjuangan penerapannya pun harus ditempuh sesuai metode dakwah Rasulullah saw. Yaitu, dengan melakukan dakwah pemikiran. Mencerdaskan umat dengan Islam kaffah yang mengarah pada terwujudnya kekuatan politik.

Islam sebagai sebuah institusi diterapkan dengan tegaknya seluruh aturan Islam dalam kehidupan ini. Insya Allah keluarga, masyarakat bahkan negara akan cukup terjaga dan rahmat pun akan meliputi seluruh alam.

Sebagaimana sejarah telah membuktikan keluarga Muslim harus kembali berfungsi sebagai benteng umat. Termasuk ibu, haruslah kuat, siap melahirkan generasi terbaik dan individu yang bertakwa, mempunyai visi hidup yang jelas sebagai hamba Allah. Sehingga, keberkahan keluarga, bangsa dan negara akan tercapai. Wallahua’lam bishowab.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini