Ramadhan, Wujudkan Penerapan Islam Kaffah

0
56

Oleh: Ummu Ahtar (Anggota Komunitas Setajam Pena)

Rasulullah saw. bersabda, “Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan penuh keberkahan. Allah SWT telah mewajibkan kepada kalian berpuasa di dalamnya, di bulan itu pintu-pintu langit akan dibuka dan pintu-pintu neraka akan ditutup, di bulan itu setan-setan akan diikat, di bulan itu ada malam yang lebih baik daripada seribu bulan, barangsiapa terhalang mendapatkan kebaikannya maka sungguh ia telah terhalang.” (HR. An-Nasai)

Ramadhan tiba. Bulan penuh keberkahan yang dinanti semua kaum muslim. Siapa saja yang bergembira dengan masuknya bulan Ramadhan, Allah akan mengharamkan jasadnya masuk neraka.

Betapa istimewanya seorang muslim yang menyambut Ramadhan dengan penuh kegembiraan. Menyambutnya mendapatkan pahala di sisi Allah SWT, apalagi mengisi Ramadhan dengan aktivitas amal yang berlipat ganda.

Kaum muslim sangat antusias menyambut datangnya bulan Ramadhan. Baik menyiapkan menu makanan yang bervariasi untuk sahur, banyak pembagian takjil gratis saat waktu berbuka, maupun menyiapkan pakaian baru, seperti peralatan shalat untuk menyambut tibanya shalat Tarawih.

Segalanya serba disiapkan baik makanan atau stamina untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Sehingga semua kebanjiran rezeki. Dari penjual makanan, pakaian, hingga para pengemis. Diskon belanja yang diburu emak-emak pun bertebaran. Sungguh aktivitas semacam ini telah menjadi adat atau kebiasaan mayoritas penduduk ibu pertiwi ini.

Sebagaimana amalan manusia yang baik akan mendapat ganjaran 10 hingga 700 kali lipat pada bulan Ramadhan, maka semua fasilitas penunjang kemaksiatan diberantas atau ditutup. Semisal tempat – tempat hiburan malam ditutup. Minuman keras dibasmi hingga semua tempat yang menyediakannya ditutup. Warung makan pun rela buka sore hingga menjelang sahur demi menghormati aktivitas orang yang berpuasa.

Tak ada pertengkaran, permusuhan semua saling tenggang rasa kepada orang berpuasa. Hingga 10 hari terakhir bulan Ramadhan masjid-masjid penuh. Melantunkan ayat suci Al Qur’an demi mengharapkan ampunan dosa. Menanti malam Lailatul Qadar, yakni malam itu lebih bagus daripada ibadah 1000 bulan.

Sungguh kesucian bulan Ramadhan ini terasa untuk semua insan. Semuanya serentak menyambut dan segera melaksanakan amalan terbaik demi mengharapkan ridha dan ampunan Allah SWT. Sayangnya, aktivitas semacam ini hanya ada setahun sekali. Setelahnya kembali seperti aktivitas biasa, bahkan di luar batas, yakni memisahkan aturan agama dari kehidupan.

Padahal, sudah lebih dari 1 tahun pandemi Covid-19 melanda negeri ini, meluluhlantakkan semua aspek kehidupan. Perekonomian surut, banyak pekerja di-PHK. Namun, semua itu tidak mengubah tradisi dan amalan terbaik untuk menyambut bulan suci Ramadhan. Akan tetapi, apakah keberkahan bulan Ramadhan ini hanya momen tahunan dan menjadi ilusi yang tidak bisa diwujudkan setiap hari dibulan-bulan lainnya?

Sudah lebih dari 100 tahun bumi ini tiada kepemimpinan Islam. Kehidupan jauh dari penerapan Islam kaffah karena menerapkan ideologi kapitalisme yang berasas sekularisme dan menjunjung tinggi kebebasan. Ide-ide yang berasal keangkuhan akal manusia yang lemah dan terbatas, cenderung kepada hawa nafsu.

Akibatnya, ide-ide di luar Islam mulai bermunculan, baik paham pluralisme, sinkretisme, liberalisme, dan paham sesat lainnya. Hingga timbul adu domba, permusuhan, kriminalitas, pergaulan bebas dan berbagai kerusakan lainnya. Inilah bila sistem yang diterapkan kapitalisme, sistem yang menabrak aturan agama. Karenanya, menerapkan aturan Islam, mempertahankan amalan kebaikan bulan Ramadhan di dalam bingkai kapitalisme sungguh mustahil.

Padahal, sejatinya Islam adalah agama sempurna yang berasal dari Allah SWT. Aturannya yang bersumber dari Al Quran dan as-sunnah bila diterapkan secara menyeluruh dalam sebuah negara yakni Khilafah Islam akan mampu memperbaiki ide-ide jahiliyah serta membawa rahmat bagi alam semesta.

Islam telah menjamin hak-hak syar’i bagi manusia. Negara wajib menjamin kebutuhan dan perlindungan bagi semua rakyat, memberikan sanksi bagi pelanggar dan memberikan efek jera.

Khilafah akan menjamin penjagaan atas delapan hal daruriyat, meliputi; menjaga agama (hifdzud diin), menjaga jiwa (hifdzun nafsi), menjaga akal (hifdzul aqli), menjaga keturunan (hifdzun nasl), menjaga harta benda (hifdzul maal), menjaga kehormatan (hifdzul karomah), menjaga keamanan (hifdzul amn) dan menjaga negara (hifzdud daulah).

Pandemi Covid-19 sebenarnya memberi pelajaran dan peringatan agar bumi ini diatur dengan sistem Islam. Selayaknya bulan Ramadhan ini menjadi momentum penerapan Islam secara kaffah.

Oleh karena itu Ramadhan tahun ini harus spesial. Bila dahulu muslimin hanya berjuang melawan haus, lapar dan amarah, kini ditambah berjuang memahami Islam secara utuh dan menebar kesadaran memperjuangkan tegaknya Islam kaffah. Sehingga, akan mampu mewujudkan tegaknya Islam rahmatan lil alamin sesuai ajaran Rasulullah saw. dalam bingkai Daulah Islam.

Saatnya umat memenuhi perintah Allah untuk menerapkan Islam secara kaffah
“Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (Al-Maidah: 50).

Wallahu a’lam bishshawab.

Artikulli paraprakEmansipasi ala Kartini dan Emansipasi Menurut Pandangan Islam
Artikulli tjetërRamadhan, Rindu di Atas Kerinduan
Visi : Menjadi media yang berperan utama dalam membangun kesadaran umat tentang fakta kebutuhan mengembalikan kehidupan Islam. Semua isi berupa teks, gambar, dan segala bentuk grafis di situs ini hanya sebagai informasi. Kami berupaya keras menampilkan isi seakurat mungkin, tetapi Linimasanews.com dan semua mitra penyedia isi, termasuk pengelola konsultasi tidak bertanggungjawab atas segala kesalahan dan keterlambatan memperbarui data atau informasi, atau segala kerugian yang timbul karena tindakan berkaitan penggunaan informasi yang disajikan. Linimasanews.com tidak bertanggungjawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis yang dihasilkan dan disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik “publik” seperti Opini, Suara Pembaca, Ipteng, Reportase dan lainnya. Namun demikian, Linimasanews.com berhak mengatur dan menyunting isi dari pembaca atau pengguna agar tidak merugikan orang lain, lembaga, ataupun badan tertentu serta menjauhi isi berbau pornografi atau menyinggung sentimen suku, agama dan ras. Segala isi baik berupa teks, gambar, suara dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Linimasanews.com. Semua hasil karya yang dimuat di Linimasa news.com baik berupa teks, gambar serta segala bentuk grafis adalah menjadi hak cipta Linimasanews.com Misi : * Menampilkan dan menyalurkan informasi terbaru, aktual dan faktual yang bersifat edukatif, Inspiratif, inovatif dan memotivasi. * Mewadahi bakat dan/atau minat sahabat lini masa untuk turut berkontribusi membangun kesadaran umat tentang fakta kebutuhannya mengembalikan kehidupan Islam melalui literasi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini