REMAJA DAN MODERASI ISLAM

0
179

Oleh: Widya indrayati

Assalamu’alaikum…

Hai ukhti, gimana kabarnya nih? Masih semangat dong pastinya. Meski Ramadhan telah meninggalkan kita, tapi semangat Ramadhan masih tertanam dalam diri kita, itu harus…!

Nah, kira-kira apa yang harus kita lakukan agar semangat Ramadhan terus menyala? Apa dengan terus meningkatkan ibadah wajib dan sunah? Apa baca Al-Qur’annya terus ditambah biar selesai 30 juz setiap bulannya? Atau malah asik makan dan tidur? Ayo, mana yang kamu lakukan? He….

Ukhti kita ini adalah remaja yang memiliki kekuatan yang luar biasa untuk mengubah dunia. Nasib generasi yang akan datang ada di tangan kita. Jika kita rusak, maka rusaklah generasi tersebut, begitu juga kebalikannya.

Nah, jika kita ingin generasi itu baik, maka kita harus baik. Dalam arti, jadilah remaja muslim yang produktif, baik dari segi pemikiran ataupun perbuatan. Musuh Islam senantiasa berusaha untuk menjauhkan Islam dari kaum muslim, terutama kalangan remajanya. Ini persis seperti perkataan Samuel Zwemer, seorang tokoh Yahudi pada Konferensi Missi di Yerussalem tahun 1935 yang berisi:

“Misi utama kita bukanlah menjadikan kaum muslim beralih agama menjadi orang Kristen atau Yahudi, tapi cukuplah dengan menjadikan mereka sebagai generasi muda Islam yang jauh dari Islam, malas bekerja keras, suka berfoya-foya, senang dengan segala kemaksiatan, memburu kenikmatan hidup, dan orientasi hidupnya semata untuk memuaskan hawa nafsunya.”

Nah loh, ada yang sudah terjebak? Tentunya banyak! Hmmm…
sedih, ya Ukhti?

Musuh Islam memang sengaja menjauhkan kaum muslim dari Islam dengan membuat dan menerapkan sistem kapitalisme-sekularisme. Maka, lahirlah manusia-manusia yang bermalas-malasan, menggunakan waktu luangnya dengan hal yang sia-sia. Selain itu, pernahkah kalian kalau ngobrol dengan teman ada yang berkomentar seperti ini? “Udah jangan terlalu fanatik dengan agama cukup biasa-biasa aja.”

Mungkin ada yang bilang kalau kita lagi nasehati, “Duh jangan bawa-bawa surga, biasa aja.”

Mungkin juga ada yang bilang, “Hidup, hidup gue, yang disiksa gue, jadi kenapa lu pusing?”

Ayo ada yang pernah bertemu dengan orang seperti itu atau malah kita sendiri yang seperti itu? Hmm… remaja sekarang kalau kita diskusi tentang Islam secara sempurna, pasti jawabnya belum siap atau saya ingin jadi muslim yang biasa saja.

Muslim yang biasa saja itu seperti apa sih? Apa yang biasa tidak menutup aurat? Apa yang biasa ghibah (ngomongin kekurangan orang lain)? Apa yang biasa tabaruj demi mendapatkan pria idaman meski kehormatan harus hilang? Apa yang biasa berkelahi agar viral di medsos? Atau apa yang biasa mengucapkan selamat kepada umat selain Islam? Hayo yang biasanya seperti apa? Tapi anehnya jika tidak terkait dengan agama, mereka inginnya yang luar biasa, bukan biasa-biasa aja.

Ukhti, kita harus tau bahwa Islam itu agama sempurna. Sempurnanya Islam mencakup seluruh perkara manusia. Semua itu ada aturannya. Tidak percaya? Coba buka Al-Qur’an terjemahnya! Lihat hukum apa yang tidak diatur dalam Al-Qur’an? Semuanya ada, bahkan adab thaharoh pun ada. Nah, apakah pada saat kita melaksanakan aturan yang ada di dalam Al-Qur’an itu disebut ektrim atau radikal?

Dalam undang-undang 1945 aja di pasal 29, itu memberi kebebasan untuk setiap agama menjalankan agamanya sesuai dengan keyakinan. Tapi, kenapa untuk muslim di sebutnya radikal? Sampai ada usulan untuk moderasi Islam.

Nah, ada yang tahu apa itu moderasi, ayo buka kamusnya. Moderasi itu artinya pertengahan atau ada juga yang menyebutnya washathan. Bahkan, ada yang bilang kita ini umat washathan artinya umat yang ada di tengah-tengah agar memunculkan keserasian dan keseimbangan dengan umat lain. Ada yang pusing dengan arti tersebut? Artinya kita ini umat Islam harus bisa serasi dengan umat yang lain, namanya toleransi itu bisa saling mengucapkan dan hadir di setiap perayaan agama lain atau bahkan ikut merayakannya. Padahal, Nabi Muhammad pernah bersabda:

“Jika kalian mengikuti suatu kaum maka kalian termasuk kaum tersebut.”

Berarti pada saat kita ikut merayakannya, kita sudah termasuk orang kafir. Nauzdhubillah.

Nah, masalahnya di mana? Masalahnya umat Islam sudah jauh dari agamanya, jadi tidak paham akan standar hidup dalam Islam. Jadi, umat Islam lebih cenderung mengikuti kebiasaan yang ada di tempat tinggal mereka dan takut jika berbeda dengan yang lainnya meski harus bertentangan dengan Islam.

Dengan paham moderasi ini, mereka menganggap perkara itu biasa karena sesuai dengan kehidupan mereka. Lalu bagaimana kita menyikapi hal ini, Ukhti? Apakah moderasi yang mereka buat itu sesuai dengan Islam atau malah nambah menjauhkan Islam dari pemeluknya?

Islam adalah agama sempurna yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad saw. Islam tidak hanya mengatur perkara ibadah (hablum minallah), tapi juga mengatur hubungan manusia dengan manusia lainnya dan mengatur manusia dengan dirinya sendiri. Allah telah menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia. Sehingga Nabi Muhammad saw. berwasiat kepada umatnya, “Jika tidak ingin tersesat dalam hidup makan berpegang teguhlah kalian kepada Al-Qur’an dan Haditsku”.

Nah, apakah Allah memerintahkan umat Islam untuk hidup di tengah-tengah? Padahal, hukum Islam terkait halal haram itu jelas. Jika ada perkara yang meragukan, maka Islam memerintahkan untuk meninggalkannya, bukan memasukannya ke dalam perkara darurat.

Maka dari itu Ukhti, kita sebagai seorang muslim, seharusnya cerdas dalam memahami perkara. Untuk itu agar kita paham, maka perbanyaklah belajar ilmu agama. Dengan ilmu ini kita bisa melakukan perkara amar ma’ruf nahi mungkar. Maka dari itu, belajarlah Islam lebih dalam, kemudian memperbanyak membaca buku-buku sejarah atau Sirah-sirah Nabawiyah, membuat konten-konten berfaedah, menonton channel-channel dakwah, ceramah, dan lain-lain. Pasalnya, Allah telah memerintahkan kita untuk senantiasa memanfaatkan waktu semaksimal mungkin untuk beribadah. Inget ukhti, Ibnu Mas’ud r.a berkata, “Tiada yang pernah kusesali selain keadaan ketika matahari tenggelam, umurku berkurang, namun amalanku tidak bertambah.”

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

لَهٗ مُعَقِّبٰتٌ مِّنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ يَحْفَظُوْنَهٗ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَ نْفُسِهِمْ ۗ وَاِ ذَاۤ اَرَا دَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْٓءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗ ۚ وَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّا لٍ

“Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”
(QS. Ar-Ra’d 13: Ayat 11)

Artikulli paraprakWabah Pandemi Meninggi, Saatnya Evaluasi Solusi
Artikulli tjetërIslam Solusi Tuntas Maraknya Kejahatan
Visi : Menjadi media yang berperan utama dalam membangun kesadaran umat tentang fakta kebutuhan mengembalikan kehidupan Islam. Semua isi berupa teks, gambar, dan segala bentuk grafis di situs ini hanya sebagai informasi. Kami berupaya keras menampilkan isi seakurat mungkin, tetapi Linimasanews.com dan semua mitra penyedia isi, termasuk pengelola konsultasi tidak bertanggungjawab atas segala kesalahan dan keterlambatan memperbarui data atau informasi, atau segala kerugian yang timbul karena tindakan berkaitan penggunaan informasi yang disajikan. Linimasanews.com tidak bertanggungjawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis yang dihasilkan dan disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik “publik” seperti Opini, Suara Pembaca, Ipteng, Reportase dan lainnya. Namun demikian, Linimasanews.com berhak mengatur dan menyunting isi dari pembaca atau pengguna agar tidak merugikan orang lain, lembaga, ataupun badan tertentu serta menjauhi isi berbau pornografi atau menyinggung sentimen suku, agama dan ras. Segala isi baik berupa teks, gambar, suara dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Linimasanews.com. Semua hasil karya yang dimuat di Linimasa news.com baik berupa teks, gambar serta segala bentuk grafis adalah menjadi hak cipta Linimasanews.com Misi : * Menampilkan dan menyalurkan informasi terbaru, aktual dan faktual yang bersifat edukatif, Inspiratif, inovatif dan memotivasi. * Mewadahi bakat dan/atau minat sahabat lini masa untuk turut berkontribusi membangun kesadaran umat tentang fakta kebutuhannya mengembalikan kehidupan Islam melalui literasi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini