Sekularisme Hilangkan Peran Moral dalam Keluarga

0
7

Oleh : Kiki Nadia Wati

Linimasanews.com- Moral menjadi salah satu aspek penting yang harus ditanamkan setiap orang tua pada anak-anaknya. Tak cukup hanya menjadikan anak cerdas dalam akademik, sains, dan teknologi. Pendidikan moral sangat berperan penting dalam mendukung tumbuh kembang anak dan membentuk pribadi yang mampu melakukan penghormatan terbaik pada orang tuanya. Namun faktanya, krisis moral terus terjadi dalam keluarga.

Telah ramai diberitakan media, seorang anak melaporkan ibu kandungnya ke polisi di Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Meski kemudian ia mencabut laporannya, tetapi sang ibu berinisial S (36) sempat terpaksa mendekam dalam sel tahanan Polsek Demak Kota pada 9 Januari 2021.

Kisah miris ini menunjukkan kegagalan penerapan sistem demokrasi sekuler oleh negara telah memunculkan tekanan ekonomi, fisik, mental, dan psikologis masyarakat. Pasalnya, negara gagal menjamin kehidupan adil, sejahtera, damai, tenteram, penuh rasa aman. Hal ini mestinya menyadarkan masyarakat bahwa sistem saat ini tidak mampu memenuhi kewajibannya untuk melahirkan moral anak pada orang tuanya.

Dalam sistem sekuler (memisahkan peran agama dalam kehidupan) ini, interaksi dan hubungan dalam keluarga didasarkan dan diukur pada kepentingan materi. Sekularisme gagal menghadirkan penghormatan terhadap orang tua, gagal menghasilkan ketenangan, bahkan justru melahirkan generasi yang durhaka.

Penerapan sekularisme oleh negara menyebabkan sistem pendidikan diurus ala kapitalis yang berkiblat pada Barat. Hasilnya, mendorong generasi hanya terobsesi pada kecerdasan akademik, namun nihil dalam membentuk moral dan karakter mulia. Arah dan tujuan pendidikan sekuler melahirkan kebijakan yang tidak untuk mencetak generasi berkepribadian islami.

Hal ini berbanding terbalik dengan sistem pendidikan dalam Islam. Islam mengajarkan konsep tawakal yang benar, menginspirasi dan memotivasi para orang tua mengajak anggota keluarganya mendekatkan diri kepada agamanya (Islam), dengan keyakinan menjadikan syariat sebagai solusi. Muslim berbondong-bondong membangun profil keluarganya menjadi keluarga muslim ideologis, keluarga yang taat pada syariat Allah.

Dengan demikian, muslimin memiliki kesadaran atas akar masalah krisis moral dan akhlak. Yaitu, diabaikannya penerapan syariat Islam kaffah oleh negara. Kesadaran ini lahir dari kekuatan keimanan terhadap dalil-dalil syar’i.

Sebagaimana firman Allah SWT :
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS ar Ruum: 41)

Perbuatan tangan manusia ialah ketika manusia bermaksiat. Salah satunya, menstigma ajaran Islam. Tanggung jawab orang tua untuk membentengi keluarga dari pengaruh buruk sekularisme, pluralisme, dan liberalisme distigma sebagai upaya pembibitan paham radikalisme yang antimoderasi agama. Padahal, jelas perintah untuk menjaga keluarga dengan agama adalah kewajiban.

Allah SWT berfirman :
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS at Tahrim: 6)

Penerapan Islam secara kaffah di bawah naungan Khilafah mampu menjadikan setiap orang tua memiliki peran membangun keluarga yang bermoral. Metode pendidikan Islam juga mampu menjadikan generasi muda cerdas dalam akademik, sains, dan teknologi tanpa menggeser moral dan pribadi islami sebagai karakter utamanya. Hal semacam ini hanya mampu diwujudkan dengan kembali kepada Islam sepenuhnya. Wallahua’lam.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini