Tentang Hati

0
25

Oleh: Afiyah Rasyad

“Nasi kebuli, nasi padang, nasi goreng, kebab.” Pramusaji kereta menjajakan dagangannya.
Harum nasi rempah khas India menyerbu hidung para penumpang. Mata elang Victoria mengawasi sekitar lewat kaca jendela kereta yang mulai mengurangi kecepatan. Dia mencari cara agar keberadaannya tak menjadi pusat perhatian. Diraihnya tas ransel kecil dari cantolan. Kaca mata merah maroon dipakainya, tak lupa topi bundar merah menyala menghiasi kerudung terangnya.

Perlahan dia menuju dua gerbong di depannya. Dia antri rapi untuk turun. Tak seorang pun yang menaruh curiga pada kakinya yang sedikit pincang. Justru rasa kasihan datang tak diharapkan. Victoria berhasil melewati pintu keluar yang sudah dijaga ketat petugas, tanpa diperiksa.

Tentu saja, informasi yang didapatkan tidak sesuai dengan ciri-ciri Victoria. Petugas stasiun dan kepolisian setempat berjaga begitu padat. Kabar bahwa ada seorang napi berhasil melarikan diri dari lapas khusus wanita. Victoria menuju Jl. Lili dengan taxi online.

Victoria Marlyn menyusuri jalan setapak dengan terseok-seok. Sedikit lagi dia akan sampai di gudang, sesuai sandi yang ada di tangannya. HP sudah dia matikan sejak naik kereta malam di stasiun awal keberangkatan.

Tiket kereta bernama Laila Hidayati sudah disobeknya. Gerbang penuh alang-alang itu diketok dengan kayu panjang.

“Aku Victoria.”

Tanpa menunggu Victoria bersuara lagi, bodyguard itu langsung mempersilakan masuk. Jalan setapak yang kumuh dan bau begitu kontras dengan bagian belakang padepokan Datuk Dimisqi. Kolam ikan dan aneka tanaman sayur begitu menyejukkan. Victoria disambut Labibah putri Datuk.

Selepas bersih diri, Victoria dipersilakan makan bersama keluarga Datuk. Labibah menatap kagum pada ketegasan wajah Victoria. Tak tampak kekhawatiran sedikit pun, sama seperti yang dia lihat di penjara beberapa pekan lalu.

***
Labibah membantu Victoria kabur atas perintah Datuk. Labibah harus mengawasi sel lapas itu sebulan agar misinya tak gagal. Beruntung dia menjadi dokter di lapas itu, sebulan sekali dia mengadakan penyuluhan dan melakukan cek kesehatan napi secara berkala, jadi sepekan sekali dia bisa bertandang ke lapas itu.

Tak ada yang curiga jika Labibah ada di balik kaburnya Victoria. Hubungan Labibah dan Victoria terlihat biasa saja, sama seperti hubungan Labibah dengan napi lainnya, tak ada yang istimewa. Hubungan dokter dengan pasien saja. Sinyal-sinyal kabur tak tampak sama sekali.

Victoria sempat kaget begitu menerima seplastik obat, dia tidak merasa sakit, namun kerlingan mata dokter Labibah meyakinkannya untuk membawa obat itu ke dalam bilik sel.

Surat keterangan sakit dibuat Labibah, diserahkan kepada Ka. Lapas. Ada beberapa napi yang harus dikarantina, salah satunya termasuk Victoria.

Victoria Marlyn mahasiswi cerdas dari negeri Ratu Elizabeth, terlibat kasus peradaran barang haram. Lebih tepatnya terseret tidak sengaja atas kasus peredaran narkoba. Rakhel, temannya sakaw di sebuah salon muslimah saat mereka sedang nyalon.

Victoria tercekat saat Rakhel tiba-tiba kejang dan mulutnya berbusa. Beberapa pegawai salon langsung sigap menelpon rumah sakit dan juga pihak berwajib. Victoria satu-satunya teman Rakhel saat ke salon menjadi tersangka, apalagi di mobilnya ditemukan serbuk shabu 1000mg.

Ambulan belum datang, Rakhel sudah meninggal. Namun, jenazahnya tetap dites lab untuk memastikan dia sakaw atau tidak. Tak terbantahkan, Victoria punya barang bukti shabu yang tak lain itu milik Rakhel.

Pengadilan memberikan vonis yang berat padanya, 25 tahun penjara. Permohonan keringanan hukuman dari kedutaan negaranya tak diindahkan. Masa depan Victoria suram, sampai akhirnya dia mendapat surat dari Datuk di plastik obat itu.

Bersambung

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini