Terserah

0
175

Afiyah Rasyad

Anjungan tunai terserah sudah menjadi fenomena viral menyaingi wabah. Seliweran tagar dengan kosa kata terserah tak melulu menunjukkan kondisi pasrah. Namun, lebih pada muhasabah atas kebijakan salah kaprah. Dan bahkan kebijakan ganas yang membuat telinga panas dan gerah.

Tagar terserah bukan tanpa arah. Kurva yang katanya melandai masih saja naik dengan gagah. Kini pembatasan sosial berskala besar dilepas dengan pongah, menuju gerbang maut dengan berjamaah.

Fenomenalnya terserah menggulung kepercayaan tanpa hujjah. Laju kemelut kian parah dan membuat tenaga medis dan penduduk dipaksa dalam kondisi pasrah. Pasrah pada sengkarut abainya seoarang pemimpin yang tak meriayah. Dan pasrah pada gempuran sayang triliunan wabah.

Terserah ya udah … Tak mendengarkah rintihan, jeritan, dan raungan dari bawah? Yang atas berleha-leha hanya menjadi sampah.

Terserah ya udah … Semakin merajalela saja para bedebah. Mereka berlomba di garis arogansi pungutan dalam wadah. Sementara penduduk diminta damai dan tabah.

Aneka hiruk pikuk dan aroma kebusukan tak pernah goyah. Mereka melaksanakannya dengan kekuatan total tanpa rasa bersalah. Akhirnya tagar terserah mencuat sebagai bentuk muhasabah. Namun naas, mereka tek bergeming, tetap diam dalam semedi di podium yang membuat gerah.

Jangan terserah! Harus ada gerakan untuk berubah. Gerakan yang menjadikan negeri dan dunia diliputi berkah. Gerakan jamaah yang terkoordinir dan terarah. Agar terwujud Islam kaffah dalam naungan khilafah … Maka di sinilah, Islam akan memimpin dunia dengan penuh rahmah.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini