Wahai Pemuda, Lepaskanlah Dirimu dari Jeratan Kapitalisme!

0
29

Oleh: Fahima Faizah

Linimasanews.com—Di zaman ini, cara pandang pemuda Muslim tentang kehidupan telah digiring dan bergeser mengikuti cara pandang Barat. Standar dan teori kehidupan ala kapitalisme dengan akidah sekulernya telah mewarnai seluruh aspek kehidupan masyarakat secara umum dan pemuda secara khusus.

Ini dimulai sejak Perang Dunia ke-2, di mana Barat sebagai pemenang dan menjadi negara adidaya, memulai untuk mengokohkan kekuasaannya di dunia, termasuk di negeri-negeri Muslim. Maka, dengan sistem kapitalisme yang senantiasa berorientasi pada manfaat dan keuntungan dalam segala hal, yang menjadi andalannya, Barat menyebarkan pengaruh dan melakukan penjajahan gaya baru, bukan secara fisik, tetapi penjajahan secara pemikiran, budaya, terutama ekonomi.

Alhasil, lihatlah fakta hari ini. Kehidupan umat dan pemuda telah banyak terseret dan terjerat arus kapitalisme global, termasuk dengan masifnya globalisasi ekonomi dalam industri digital, fashion, makanan, film dan hiburan, yang tentu saja sepaket dengan nilai-nilai sekularisme, liberalisme, individualisme, juga konsumerisme ala Barat.

Jeratan kapitalisme ini dimulai dengan merangsang konsumerisme pada diri masyarakat, termasuk pemuda. Apalagi dilihat dari budaya digital dan penggunaan internet, 49 persennya itu berasal dari kalangan generasi milenial, seperti dijelaskan oleh pengamat digital lifestyle, Ben Soebiakto. Mereka menggunakan internet bukan semata untuk komunikasi atau mengonsumsi konten tapi juga melakukan transaksi. Mulai dari transportasi, membeli makanan, jalan-jalan, hingga berbelanja pakaian dan kebutuhan sehari-hari (cnnindonesia, 19/04/2018).

Konsumerisme ini kemudian juga dirangsang untuk menjadi tolak ukur kesuksesan atau keberhasilan seseorang. Makin mapan dan banyak uang, makin bermerk barang-barang yang dibeli dan dipakai, makin modis dan fashionable, makin perlente penampilan, menjadikan tingkat sosial seseorang dianggap naik atau tergolong kalangan atas.

Hingga banyak kaum muda yang menjadikan gaya hidup seperti itu sebagai goals. Hingga rela melakukan apa pun demi mewujudkan goals tersebut. Bahkan menurut riset Kredivo dan Katadata Insights Center (KIC), generasi milenial atau yang berumur 26-35 tahun adalah penyumbang terbesar terhadap proporsi jumlah transaksi belanja online selama pandemi covid-19 (databoks.katadata.co.id, 03/06/2022).

Sejatinya, kondisi demikian adalah kondisi yang memang diciptakan secara global, di mana korporasi secara masif melakukan iklan dan penawaran berbagai produk yang menarik bagi masyarakat, terkhusus kaum muda. Tak lain adalah untuk meraih profit sebesar-besarnya sebagaimana prinsip Kapitalisme. Sementara kaum muda Muslim, justru dijadikan sebagai konsumen terbesar yang akan mengisi pundi-pundi keuntungan.

Di saat bersamaan, kapitalisasi dalam bidang pendidikan juga terjadi. Mahalnya biaya pendidikan menjadikan tak sedikit orang tua maupun siswa sendiri yang akhirnya menempatkan cita-cita agar anak setelah lulus bisa bekerja di perusahaan-perusahaan bonafide atau bekerja di tempat yang bisa menghasilkan gaji yang besar, selain juga karena tingginya biaya hidup yang juga akibat dari penerapan sistem kapitalisme itu sendiri.

Namun faktanya, para pemuda pun tak banyak yang akan mencapai level tertinggi dalam perusahaan. Karena level itu pastilah diisi oleh para Kapitalis itu sendiri. Karena memang prinsip kapitalisme hanya akan menjadikan mereka sebagai tenaga kerja semata.

Apalagi dengan budaya konsumtif yang sudah ditanamkan, gaji yang mereka dapatkan akan dipergunakan kembali untuk memenuhi gaya hidup konsumerisme. Ujungnya, keuntungan akan kembali kepada korporasi.

Akhirnya, keuntungan memang hanya akan berputar pada para pemilik modal (kapitalis) saja. Kaum muda pekerja yang semakin lama semakin lelah dengan gaya hidup konsumtifnya, akan mencari cara untuk menghibur diri. Namun, karena konsep liberalisme Barat juga telah menyusup, menyebabkan mereka menghibur diri sesuka hati.

Terciptalah siklus hidup kerja rodi tiap hari, untuk cari uang sampai stres dan lupa diri, lalu butuh piknik atau healing ke klub untuk party biar happy, supaya besok pagi bisa kerja lagi. Demikian seterusnya. Bahkan video dari fenomena ini marak berseliweran di jagat TikTok akhir-akhir ini. Di antaranya seperti video yang diunggah oleh akun Peschreynaldo (05/08/2022), Sweet Honey (10/10/2022), juga Serendepity (17/10/2022) dan masih banyak lagi video-video semisal.

Kelelahan dan kepenatan ini akhirnya juga menjadikan pemuda menjadi individualis. Mereka hanya akan berusaha memikirkan bagaimana kebahagiaan pribadi bisa diraih. Jangankan untuk memikirkan kondisi orang lain maupun kondisi umat, menyadari bahwa mereka sebenarnya telah menjadi budak korporasi pun bisa jadi tak terpikirkan.

Inikah kehidupan dan tujuan hidup pemuda Muslim sesungguhnya? Tentu saja bukan. Maka, jerat kapitalisme ini perlu segera dilepaskan dari mindset dan diri para pemuda. Sebab, kapitalisme telah merusak pola pikir dan perilaku, serta menghilangkan identitas mereka sebagai generasi Muslim, menggeser potensi terbaik mereka sebagai pemegang posisi penting bagi kebangkitan dan kemajuan peradaban Islam.

Pengaruh kapitalisme juga telah membuat banyak generasi muda hanya sibuk mencari dan memikirkan kesenangan duniawi (wahn) dan melupakan akhirat juga nilai serta tuntunan agama (sekuler-liberal), menjadi individualis, hedon (mau yg enak-enak saja), permisif (menganggap semuanya serba boleh dan tanpa batasan) serta dibuat menjadi konsumtif. Mereka hanya dijadikan sebagai mesin industri, sekaligus pasar dan konsumen bagi produk yang dihasilkan, sehingga mendatangkan pundi-pundi keuntungan bagi para Kapitalis (pemilik modal).

Penyebaran dan pengaruh pola pikir dan perilaku ala Kapitalisme ini juga adalah upaya untuk melemahkan umat Islam, termasuk kaum mudanya. Karena, Barat paham betul, jika para pemuda Islam ini berpegang teguh pada ajaran agamanya, maka terancamlah kekuasaan dan dominasi mereka di dunia, termasuk di negeri-negeri Muslim. Akan pupus upaya mereka untuk menguasai dan mengeksploitasi kekayaan serta sumber daya alam potensial yang banyak berada di wilayah negeri-negeri Muslim.

Para pemuda juga harus diingatkan kembali tentang hakikat dirinya sebagai makhluk dan hamba Allah. Bahwa dunia ini adalah tempat persinggahan, tempat kita belajar, mendisiplinkan diri dalam ketaatan kepada Rabb kita, tempat kita berupaya melakukan amal-amal sholih agar cinta, ampunan, dan ridho Allah bisa kita raih, sebagai bekal dan kelayakan menuju tujuan akhir yang kita akan kekal di dalamnya, yaitu di akhirat (surga).

Penting juga untuk mengingatkan tentang peran strategis pemuda dalam peradaban Islam. Sebagaimana sejarah telah membuktikan bahwa peradaban Islam dahulu diusung oleh para pemuda. Melalui sirah Rasulullah Saw. juga kita banyak digambarkan tentang kelompok dakwah Rasul yang diisi oleh para pemuda. Bahkan, keberhasilan tholabun nusroh dahulu yang membawa kaum Muslim pada tegaknya Daulah Islam di Madinah juga diawali dengan peranan kaum pemuda, yaitu Mush’ab bin Umair dan Sa’ad bin Muadz.

Sejatinya, kebangkitan dan kejayaan Islam berikutnya insyaa Allah akan segera menjelang. Maka peran besar para pemuda sangat dibutuhkan. Para pemudalah yang akan memegang tongkat estafet untuk memperjuangkan, menyambut dan menegakkan kejayaan Islam selanjutnya.

Ketika Islam tegak kelak dan syariat Islam diterapkan secara menyeluruh dalam sebuah institusi Islam bernama Khilafah Islam, para pemuda bahkan masyarakat secara umum, tak akan lagi dikelabui dengan kesejahteraan palsu sebagaimana kamuflase kapitalisme. Karena, Islam akan memberikan kesejahteraan riil yang diharapkan.

Dalam Islam, kesejahteraan adalah konsekuensi logis dari adanya keadilan ekonomi Islam yang dijalankan oleh negara Khilafah Islam, yaitu saat kebutuhan pokok (primer) setiap individu dan masyarakat bisa terpenuhi, dibarengi juga dengan jaminan yang memungkinkan setiap individu untuk memenuhi kebutuhan pelengkap (sekunder dan tersier) sesuai dengan kemampuan mereka (Taqiyuddin An-Nabhani dalam kitabnya An-Nizhomul Iqtishadiy fil Islam).

Tentang kesejahteraan di masa Khilafah pun telah banyak dikisahkan di berbagai literasi Islam. Kesejahteraan ini tentu mencakup seluruh masyarakat, termasuk para pemuda. Bahkan, ada salah satu kisah dari masa Kekhilafahan Umayyah di bawah kepemimpinan Khalifah Umar bin Abdul Aziz, saat beliau mengutus Yahya bin Said untuk memungut zakat di Afrika. Setelah memungut zakat dan bermaksud memberikannya kepada orang-orang miskin, Yahya bin Said tidak menjumpai seorang miskin pun. Karena Khalifah Umar bin Abdul Aziz benar-benar telah menjadikan semua rakyat pada waktu itu berkecukupan.

Gambaran tentang kesejahteraan di masa kekhilafahan pun tak sedikit digambarkan oleh orang-orang non-Muslim. Adalah Will Durant, seorang sejarawan Barat, dalam bukunya, Story of Civilization, ia menyatakan, “Para khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan kerja keras mereka. Para khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang untuk siapapun yang memerlukan dan memberikan kesejahteraan selama beradab-abad dalam wilayah yang sangat luas. Fenomena seperti itu belum pernah tercatat (dalam sejarah) setelah zaman mereka.”

Ada pula Mary McAleese, Presiden ke-8 Irlandia (1997-2011) yang juga anggota Delegasi Gereja Katolik Episkopal untuk Forum Irlandia Baru pada 1984 sekaligus anggota delegasi Gereja Katolik ke North Commission on Contentious Parades pada 1996. Dalam pernyataan persnya sehubungan dengan musibah kelaparan di Irlandia pada tahun 1847 (The Great Famine).

Ia berkata, “Sultan Ottoman (Khilafah Utsmani) mengirimkan tiga buah kapal, yang penuh dengan bahan makanan, melalui pelabuhan-pelabuhan Irlandia di Drogheda. Bangsa Irlandia tidak pernah melupakan inisiatif kemurahan hati ini. Selain itu, kita melihat simbol-simbol Turki pada seragam tim sepak bola kita.”

MasyaAllah, fakta dan sejarah tidak lagi bisa dimungkiri, bahwa dengan penerapan Islam secara kaffah dalam naungan Khilafah Islam, niscaya akan memberikan kesejahteraan bagi seluruh warga negara Khilafah, bahkan juga dirasakan oleh orang-orang dan wilayah-wilayah di luar kekhilafahan.

So, pemuda, lepaskanlah dirimu dari jeratan kapitalisme yang rusak ini. Kembalilah pada potensi hakikimu dalam Islam, berjuanglah untuk Islam dan temukanlah rahmatan lil alamin yang sejati, dalam peradaban emas Islam yang akan kita jelang kembali. InsyaaAllah, Allahu Akbar!

Artikulli paraprakKasus Kalideres, Potret Buram Masyarakat Sekulerisme Kapitalisme
Artikulli tjetërJauh Panggang dari Api, Kerusuhan di Papua Terus Terjadi
Visi : Menjadi media yang berperan utama dalam membangun kesadaran umat tentang fakta kebutuhan mengembalikan kehidupan Islam. Semua isi berupa teks, gambar, dan segala bentuk grafis di situs ini hanya sebagai informasi. Kami berupaya keras menampilkan isi seakurat mungkin, tetapi Linimasanews.com dan semua mitra penyedia isi, termasuk pengelola konsultasi tidak bertanggungjawab atas segala kesalahan dan keterlambatan memperbarui data atau informasi, atau segala kerugian yang timbul karena tindakan berkaitan penggunaan informasi yang disajikan. Linimasanews.com tidak bertanggungjawab atas akibat langsung ataupun tidak langsung dari semua teks, gambar, dan segala bentuk grafis yang dihasilkan dan disampaikan pembaca atau pengguna di berbagai rubrik “publik” seperti Opini, Suara Pembaca, Ipteng, Reportase dan lainnya. Namun demikian, Linimasanews.com berhak mengatur dan menyunting isi dari pembaca atau pengguna agar tidak merugikan orang lain, lembaga, ataupun badan tertentu serta menjauhi isi berbau pornografi atau menyinggung sentimen suku, agama dan ras. Segala isi baik berupa teks, gambar, suara dan segala bentuk grafis yang disampaikan pembaca ataupun pengguna adalah tanggung jawab setiap individu, dan bukan tanggungjawab Linimasanews.com. Semua hasil karya yang dimuat di Linimasa news.com baik berupa teks, gambar serta segala bentuk grafis adalah menjadi hak cipta Linimasanews.com Misi : * Menampilkan dan menyalurkan informasi terbaru, aktual dan faktual yang bersifat edukatif, Inspiratif, inovatif dan memotivasi. * Mewadahi bakat dan/atau minat sahabat lini masa untuk turut berkontribusi membangun kesadaran umat tentang fakta kebutuhannya mengembalikan kehidupan Islam melalui literasi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini