WORKSHOP IBU TANGGUH PENCETAK GENERASI CEMERLANG

0
116

Oleh : Siti Nur Rahma

“Surga di telapak kaki ibu”. Ungkapan indah itu kini semakin tergambar, tatkala kita mendapatkan ilmu tentang menjadi ibu yang sholihah bagi ananda tercinta.

Ilmu pendidikan parenting tersebut dapat dipaparkan dalam sebuah program home schooling mandiri. Yakni, Sekolah Anak Tangguh (SAT) Berbasis Akidah Islam yang digagas oleh Ustadzah Yanti Tanjung, pemateri parenting nasional.

Workshop yang diadakan SAT Anak Usia Dini (AUD) Berbasis Akidah Islam (BAI) ini berlangsung virtual dengan aplikasi webinar. Tak tanggung, sejumlah ibu tangguh hadir dalam workshop yang berlangsung dua hari, 4 Juli hingga 5 Juli 2020, dari pukul 08.00 hingga 15.00 WIB. Ini merupakan ibadah menggali ilmu yang menuntut kesungguhan bagi penimbanya.

Materi yang disampaikan di dalamnya sangat berkualitas, bermuatan akidah Islam. Tidak hanya memberikan pendidikan kepada ananda, namun juga bagi segenap pendidik yakni orang tua. Ada beberapa poin penting disampaikan, antara lain:

1. Goal pendidikan dan visi mendidik generasi
Tujuan hakiki pendidikan yang pertama adalah membentuk manusia bertakwa yang memiliki kepribadian Islam secara utuh. Yaitu pola pikir dan pola perilaku didasarkan pada akidah Islam . Kedua, menciptakan ulama, intelektual, dan tenaga ahli dalam jumlah melimpah di setiap bidang kehidupan yang merupakan sumber manfaat bagi umat. Sedangkan visi dalam mendidik generasi adalah menghidupkan kembali generasi peradaban emas.

2. Kurikulum Anak Tangguh (Anta)
Kurikulum pendidikan yang digunakan adalah kurikulum Islam. Kurikulum merupakan seperangkat mata pelajaran dan program pendidikan yang memuat rancangan pelajaran yang diberikan kepada guru dan murid dalam satu periode tertentu. Rancangan asas yang dibangun di atasnya mata pelajaran. Aqidah Islam merupakan asas kehidupan seorang muslim, asas bagi keyakinannya dan amalnya.

3. Konsep, metode, uslub, dan sarana dalam pembelajaran
Konsep pendidikan yang akan diajarkan kepada ananda haruslah konsep yang jelas, terarah dan terukur. Maka perlu menggunakan metode Islam. Yakni metode talaqqiyan fikriyan dalam penyampaiannya. Uslub yang digunakan haruslah yang menarik dan kreatif. Agar ananda dapat menerima pelajaran dengan mudah dan menyenangkan. Sehingga perlu adanya sarana yang mendukung proses pembelajaran agar muatan materi bisa tersampaikan dengan sempurna.

4. Metode talaqqiyan fikriyan.
Aktivitas yang dilakukan oleh guru dan murid adalah aktifitas pembelajaran dengan menggunakan metode talaqqiyan fikriyan. Metode ini didefinisikan sebagai seruan (khithab) pemikiran dari guru dan penerimaan (talaqqiy) dari murid. Jadi bertemunya pemikiran guru dan pemikiran murid dalam proses pembelajaran bukan sekadar transfer ilmu, melainkan harus ada pemahaman ilmu dari guru dan murid.

5. Menggali potensi.
Ada dua potensi dalam diri manusia. Pertama, potensi kehidupan. Potensi ini mendorong manusia berperilaku memenuhi kebutuhan, berupa perasaan dan pengindraan yang senantiasa menuntut pemuasan. Dorongan tersebut ada dua. Yakni idorongan secara pasti yang jika tidak dipenuhi akan mengantarkan mengalami kematian. Ini disebut kebutuhan jasmani. Ada pula dorongan tidak pasti yang jika tidak terpenuhi akan menimbulkan kegelisahan, namun tidak menyebabkan kematian. Ini disebut naluri.

Kedua, potensi akal. Akal merupakan alat berpikir bagi ananda. Potensi ini harus senantiasa diasah agar terus tajam dan cemerlang. Kedua potensi itu perlu dikembangkan agar manusia yang derajatnya paling tinggi ini dapat menjalankan tugasnya sebagai kholifah di muka bumi.

6. Kecerdasan berpikir anak
Mengasah kecerdasan berpikir anak dengan cara mengajaknya terbiasa berpikir politik. Berpikir politik berbeda dengan berpikir tentang teks-teks hukum. Karena hukum mencari solusi bagi problematika manusia, sedangkan politik berpikir mengurusi urusan manusia walau ia bagian darinya.

Berpikir politik berkaitan dengan teks-teks pemikiran apabila terkait dengan tek-teks politik dan pokok bahasan politik. Jenis berpikir politik adalah jenis berpikir yang paling tinggi karena ia mencakup semua jenis proses berpikir yang ada.

7. Memahami tumbuh kembang anak
Perkembangan kepribadian Islam akan didasarkan pada basis usia.
Proses pembentukan pola pikir (aqliyah) usia 0-6 tahun dengan stimulus berpikir dan landasan akidah Islam. Sedangkan nafsiyahnya berproses untuk taat syariah dengan stimulus berimbang terhadap naluri dalam pemenuhannya.

Pada perkembangan kepribadiaan Islam anak usia tamyiz (7-10 th), terbentuknya metode aqliyyah dan proses melatih dan membiasakan berfikir benar. Nafsiyahnya melatih dan membiasakan diri untuk taat syariat dalam perbuatan.

Pada usia baligh (10-15 th) di tahap pertama, aqliyahnya berpikir benar dan proses perpikir serius dalam menyelesaikan masalah kehidupan, pemahamannya terikat dengan amal. Nafsiyahnya merupakan proses sungguh-sungguh dalam ketaatan pada syariah, muroqobatullah, penuh rasa takut pada Allah dalam dosa dan kema’siatan.

Sedangkan tahap kedua, aqliyah ananda memiliki pemikiran serius tentang hukum, proses berpikirnya politis dan keputusan untuk jihad. Nafsiyahnya merupakan ketaatan sempurna dan menjadi teladan bagi orang lain, memimpin dalam taat kepada Allah, dalam hukum, politik, dan jihad.

8. Mengembangkan bahasa ahsan generasi penghafal aAl Qur’an
Bahasa tercela di seputar anak memang menjadi polemik bagi orang tua. Banyak hal yang memengaruhinya. Salah satunya adalah teladan dari ayah bunda. Oleh karena itu, pendidikan bahasa kepada anak-anak sangatlah penting. Berbahasa ahsan pada anak didorong aqidah, kekayaan tsaqofah, larangan menyakiti orang lain, paham adanya pengawasan dari Allah, dan teladan yang baik dari pendidik. Sehingga bahasa ahsan bagi ananda akan menjadikannya penghafal Al Qur’an yang mulia.

Materi dalam workshop ini perlu terus dikaji sebagai bentuk pengasahan diri seorang pendidik. Lantas diamalkan dalam kehidupan bersama ananda dan para pendidik lainnya untuk membangun peradaban gemilang dari setiap generasi Islam mulia.

Kemudian, hendaknya setiap pendidik khususnya seorang ibu, bisa fokus pada tercapainya tujuan pendidikan. Yakni membentuk generasi berkepribadian Islam dan terwujudnya visi besar generasi Islam. Ibu pendidik perlu senantiasa belajar untuk memperbaiki potensi dan kualitas diri. Hingga surga di telapak kaki ibu semakin terpancar dalam kepribadian mulia sang ibu. Memantaskan diri menjadi umat terbaik di pentas dunia hingga terwujud harapan bersama. Seluruh anak muslim bisa menjadi generasi cemerlang yang membawa kemuliaan dan kemenangan Islam.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini