Yang Istimewa di Negeri Sakura

0
110

Oleh: Suryani Izzabitah

Ada yang istimewa di Negeri Sakura. Berpuasa di negeri empat musim itu punya sensasi tersendiri. Terlebih, di sana Ramadan selalu bertepatan dengan summer. Sungguh ujian yang berbeda.

Pernah ada peristiwa menarik dan menggelikan. Yaitu ketika orang-orang Jepang tahu bahwa kami sedang berpuasa. Hawa panas sampai 40 derajat Celcius membuat mereka sangat bingung. Mereka heran bagaimana kami bisa tahan sementara tidak makan dan minum. Begitu kira-kira dalam benak mereka.

Sampai suatu ketika, ada teman yang ditanya.
“Kalian tidak makan dan minum? Tidak mati, ya?”
“He … he …. Alhamdulillah. Lihatlah! Kami sehat,” jawab teman.

Sekelumit kejadian itu memberikan pelajaran berharga. Jika kita renungkan, begitulah yang dirasa ketika iman belum menancap di dada. Tanpa keimanan, logika apapun tak mampu menembusnya. Kewarasan berpikir manusia terbatas. Inilah keistimewaan iman.

Betapa luar biasanya Islam. Banyak hal yang tidak bisa dinalar dengan logika. Namun demikian, tidak pernah menyalahi fitrah manusia. Akidah Islam yang datang dari Sang Khalik meniscayakan semua hal bisa dijalani dengan nyaman. Ketika meyakini dan taat atas perintah-Nya, insya Allah, seberat apa pun itu, tetap bisa dilakoni. Hasilnya pun membawa kebaikan bagi kehidupan manusia.

Hal unik lainnya yang kami alami di Jepang ialah soal bekal anak sekolah. Anak-anak muslim tidak membawa bekal ke sekolah selama bulan Ramadan. Padahal, anak-anak SD terbiasa membawa bekal. Pasalnya, di Jepang tidak ada kantin sekolah. Kalau tidak pesan di jasa boga (layanan catering) khusus yang di siapkan sekolah, maka harus membawa sendiri dari rumah.

Tapi, tak perlu ragu dengan halal dan thoyyibnya. Sebab, ada sensei (guru) dari Indonesia yang sangat membantu untuk mengecek dan mengomunikasikan ke pihak sekolah. Sampai-sampai kami selalu bercanda bahwa makanan dan minuman di Jepang lebih jelas halal dan thoyyibnya daripada di negeri sendiri yang notebene negeri muslim terbesar. Miris, bukan?

Hal yang istimewa saat Ramadan di Negeri Sakura tidak cukup sampai di situ. Karena kami juga ingin memeriahkan buka puasa dan tarawih bersama, maka MICC menjadi pilihan tempat favorit kami, terutama bagi anak-anak. MICC (Matsuyama Islamic Culture Center) adalah bangunan dua lantai yang sengaja disewa lalu difungsikan sebagai musala dan segala jenis aktivitas ibadah bagi pendatang muslim dari berbagai negeri. Namun, yang dominan adalah muslim dari Indonesia.

Menu buka puasa yang beraneka ragam, menambah kegembiraan dan semangat anak-anak untuk belajar berpuasa. Ibu-ibu yang bertugas menyiapkan makanan /minuman buka puasa, dijadwal bergiliran. Empat sampai lima KK (kepala keluarga) per hari. Bahkan, jika ada sisa makanan/minuman setelah buka puasa, masih dikonsumsi bapak-bapak yang sahur bareng di MICC.

Masya Allah, nuansa berpuasa di Negeri Sakura memang berbeda. Berkumpul dengan saudara seakidah dan mencicipi makanan khas dari setiap negara, sedikit mengobati kerinduan akan kampung halaman. Ukhuwah islamiyah yang terjalin membuat semua jadi indah, walau di negeri minoritas dan jauh dari sanak saudara.

Wallahua’lam bis showab.

Makassar, 22 Desember 2020

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini